Teori zona layak huni usang bagi astronom tidak semua harus mirip Bumi


   Science | 18 May 2024

Zona Goldilocks merupakan parameter dimana lokasi planet layak huni

Tapi teori tersebut bisa saja berubah alias sudah ketinggalan jaman.

Sebuah penemuan baru-baru ini menunjukkan bahwa jumlah planet yang dapat mendukung kehidupan mungkin jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya.


Zona layak huni atau Habitat Zone dimana astronom mengambil nilai posisi planet
Planet digambarkan seperti kondisi Bumi. Tidak terlalu panas, tidak dingin seperti batu es.
Cahaya matahari yang cukup, dan paling penting air dapat cair atau lautan sebagai sirkulasi atmosfer.
Itu nilai emas yang selalu diambil bila menemukan sebuah planet sebagai kategori planet layak huni, setidaknya memungkinkan mahluh dapat hidup.

Lahirnya planet di sebuah tata surya memiliki beberapa urutan, disebut planet bagian dalam yang umumnya planet berbatu, dan planet luar yang berada di belakang umumnya planet gas dan besar.
Posisi planet bagian dalam digambarkan seperti Bumi adalah planet di zona habitat.
Mars terlalu dingin, sedangkan Venus dan Merkurius ada di depan yang terlalu panas.

Tapi di tata surya Trappist, posisi planet ideal berada lebih maju dan dekat ke bintang. Memungkinkan planet mendapatkan panas yang cukup.

Teori planet di zona habitat

Bila teori zona habitat tersebut mulai dikesampingkan.
Zona Layak Huni (HZ) adalah kondisi yang tepat bagi air cair di permukaan planet. Penelitian menunjukkan bahwa lingkungan layak huni, seperti lautan di bawah permukaan, berada di luar HZ tradisional, terutama di sekitar bintang katai M.

HZ mungkin terlalu membatasi para peneliti.
Kondisi atmosfer, aktivitas geologi, dan sejarah suatu planet juga mempengaruhi kelayakan huni. Air cair dan kondisi yang berpotensi mendukung kehidupan mungkin saja ada di luar HZ tradisional, sehingga memerlukan pencarian kehidupan di luar bumi yang lebih luas.

Secara garis besar, pencarian planet mirip Bumi adalah pencarian air.
Setiap makhluk hidup yang kita ketahui memerlukan air dalam berbagai bentuk, jadi kita dapat menemukan makhluk hidup yang tidak memerlukan air.
Bisa saja, dan ini masuk akal karena kita menjadikan air sebagai fokus eksplorasi.

Itulah sebabnya makalah baru-baru ini yang ditulis oleh Amri Wandel dari Universitas Ibrani di Israel yang menyatakan, air cair mungkin ada di bawah gletser di planet-planet di sekitar bintang katai M (bintang kerdil).

Mengingat jumlah bintang katai M sangat banyak dan berlimpah di galaksi kita, jauh lebih umum dibandingkan bintang seukuran Matahari kita.

Dari bagan ini, matahari disebut sebagai bintang tipe G, tetapi bintang ukuran M bahkan K, rata rata jumlahnya jauh lebih besar dan berlimpah di galaksi.
Garis hijau adalah posisi antara tipe bintang dan planet, mampu membuat air mencair dan membentuk atmofer.

Tapi posisi planet lainnya bisa lebih banyak ditemukan, walau posisi planet tidak ideal tapi dapat menerima cahaya dari bintang seperti tipe K dan M yang cukup.

Teori habitable zone

Bila teori tersebut benar, hal tersebut dapat meningkatkan penelitian para astronom untuk tidak mengabaikan keberadaan planet dengan parameter lain.
Bahkan perubahan kategori tersebut dapat meningkatkan 100x lebih banyak planet yang disebut layak huni.

Menariknya, semua kemungkinan yang disebut adanya air, planet-planet juga kaya akan karbon dioksida dan terletak di luar Zona Layak Huni (HZ)

Gagasan tentang Zona Layak Huni adalah konsep kunci astrobiologi.
Pertama diusulkan pada 1913, namun dirumuskan secara lebih kuantitatif sekitar 30 tahun yang lalu dalam makalah James Kasting dari Penn State.
Ketika planet pertama kali manusia mengetahui ada planet di luar Tata Surya kita ditemukan.

HZ mengacu pada zona “Goldilocks” yang ideal di sekitar bintang.
Banyak orang menyebutnya sebagai wilayah di mana air dalam bentuk cair “stabil” di permukaan planet, namun hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
Biarkan secangkir air di luar selama beberapa hari, dan kita akan mendapati bahwa semuanya menguap.

Meskipun HZ pada dasarnya ditentukan berdasarkan parameter astronomi, lokasi planet dapat bervariasi berbanding dengan ukuran bintang induknya.

Faktor lain juga bergantung pada atribut geologis planet ini, termasuk sifat-sifat seperti kepadatan atmosfer dan luasnya tutupan awan, dan yang terpenting, mekanisme umpan balik iklim.

Bumi hampir berada di pusat area paling ideal dari HZ Tata Surya kita.
Mars, yang jaraknya satu setengah kali lebih jauh dari Matahari dibandingkan kita, berada di ujung paling ujung.

Mars hancur akibat ukuran planet tersebut terlalu kecil, kekuatan gravitasi planet tidak mampu mempertahankan atmofer yang seharusnya ada, dan tersapu oleh angin matahari.
Bayangkan bila planet Mars memiliki ukuran 2x lebih besar dari Bumi.
Kemungkinan Mars memiliki lautan, atmofer yang tebal dan mendorong posisi Mars sebagai planet layak huni.

Kebalikannya, bila air tidak membeku di sebuah planet.
Tidak otomatis planet tersebut sebagai area layak huni dan ramah untuk kehidupan.

Lihat Bulan, posisi sama seperti Bumi, tapi disana gersang, tidak ada air di permukaan, tidak ada atmofer.
Hal ini juga berlaku bagi Exoplanet atau planet di luar tata surya.

Bumi memiliki atmofer tipis tapi gravitasi bumi mampu mempertahankan atmofer.
Bumi juga tidak ramah bagi kehidupan, dimana lempeng terus bergerak. Tapi itu salah satu parameter, bila gempa bumi adalah satu faktor penting sebagai gerakan sebuah planet.
Dalam arti Bumi memiliki medan magnit untuk melindungi dirinya dari radias berbahaya, memberi energi yang cukup dan lainnya.

Dengan cara yang sama, air cair dan kondisi yang berpotensi layak huni mungkin ada di luar HZ “tradisional”.
Seperti yang telah ditunjukkan Wandel dan banyak ilmuwan lainnya, planet ekstrasurya yang mengelilingi berbagai jenis bintang mungkin memiliki lautan di bawah permukaan, dan bukan atas permukaan.

Pada prinsipnya, lautan yang tertutup es bisa saja ada di dunia dengan permukaan sedingin -73oC, atau -99 oF seperti perkiraan suhu di planet Trappist-1g.

Planet liar yang tidak mengikuti bintangnya, bisa menjadi planet layak huni, dimana inti planet membuat isi planet lebih panas walau dipermukaan atas adalah es.

Tidak terlalu jauh, Ceres batuan besar diperkirakan memiliki air berlumpur.
Planet Pluto juga diperkiraan demikian tapi di luar memiliki permukaan es.
Juga beberapa bulan di planet Jupiter dan Saturunus memiliki lautan dibawah permukaannya.


Yang lebih menarik lagi, lautan di bulan Europa diyakini bersentuhan dengan mantel batuan tersebut.
Jika demikian, ventilasi hidrotermal dapat menyediakan nutrisi penting bagi kehidupan, seperti yang terjadi di Bumi.

Tahapan pembentukan planet juga berbeda.
Bumi sebelumnya adalah planet es layaknya bola salju, dan permukaanya Bumi mengalami glasiasi.
Pada periode tertentu, laut ada di bawah permukaan es, tentu kondisinya sekarang berbeda.

Dengan kata lain, gagasan teori Zona Layak Huni yang didasarkan pada kedekatan bintang dan planet, mungkin tidak lagi terlalu bernilai.
Sekali lagi ini konsep yang sangat berguna ketika astrobiologi yang baru memberikan teori 30 tahun lalu, inilah saatnya untuk memperluas pengetahuan manusia dan mencari kehidupan yang tidak kita ketahui, di tempat yang tidak pernah terpikir untuk dicari.

Artikel Lain

Bintang biner yang lahir di tempat yang sama tidak selalu identik. Peneliti mencari jawabannya, sampai mengetahui teori ke 3 dimana sebuah bintang memiliki elemen berbeda dibanding bintang pendamping. Kemungkinan telah menelan planet di awal pembentukan tata surya.

2 kandidat bintang pernah melintas dekat Bumi, dan menganggu orbit wilayah Oort Cloud sampai menghasilkan hujan meteor dan asteroid. Tapi nanti satu bintang lain akan melintas, lebih dekat lagi yaitu bintang Gliese 710. Diambil dari gerakan bintang berdasarkan data satelit Gaia.

Planet LTT9779b memiliki beberapa keunikan planet sejenis. Ukuran 4x lebih besar dari Bumi, kategori Neptunus tapi posisi tidak biasa dekat ke Bintang. Atmosfer planet ini seperti cermin memantulkan cahaya bintang, bahkan suhu planet mencapai 2000 deg C. Mengapa seperti cermin di atmofer planet, peneliti memberi jawaban.

Sebuah cakram terletak 1500 tahun cahaya dari Bumi. Mirip seperti UFO tampak oleh observasi teleskop James Webb. Tapi itu bukan UFO, melainkan bibit dari protoplanet yang akan terbentuk nanti. Oktober 2023 dirilis JUMBO, 30 bintang biner seukuran Jupiter

Seperti sensus bintang, teleskop Gaia mencatat 1,8 miliar bintang di galaksi kita telah dipetakan. Ternyata bintang biner di galaksi Bima Sakti sangat banyak, mencapai 800 ribu bintang biner telah ditemukan. Arah gerakan bintang juga dapat diketahui arahnya.

4 spesies alien sudah datang, manusia bukan penjaga planet bumi yang baik. Loeb ahli astrofisika mengatakan Oumuamua dikirim dari peradaban tinggi. Bila manusia berpikir untuk menyembunyikan planet dari Alien, atau kita terlalu primitif. Manusia baru mencapai tingkat 1 di tahun 2371

Teori Astrobiological Copernican Strong dari perhitungan 36 peradaban, semuanya tidak dapat saling melihat, mengapa. Jumlah exoplanet berpotensi untuk dihuni di galaksi kita, jumlahnya miliaran planet di galaksi kita. Kita bertanya mengapa manusia belum melihat mereka. 2000 tahun cahaya akan berisi 100 juta bintang

Teori Newton tidak berlaku di dunia Kosmos, ketika cahaya tidak memiliki massa dapat berbelok. Disini teori Einstein dengan antariksa mulai terungkap dengan penemuan saat ini. Dahulu masih terbatas teori, sekarang menjadi kenyataan. Gravitasi mampu membelokan cahaya sampai gravitasi bisa bergerak seperti kekuatan gelombang

Matahari saja sudah lebih dari cukup, tapi di tata surya Ari 30 memiliki lebih dari satu matahari. Ada 4 matahari dengan sebuah planet, terletak di daerah rasi bintang Aries. Uniknya sejauh ini baru satu planet yang terlihat berada disana.



Youtube Obengplus


Trend