Smartphone baterai besar, apakah harus di charge sampai penuh 100%

Ada baiknya mengetahui cara kerja dan sifat baterai lithium untuk smartphone.

Baterai smartphone mengunakan output 3,7V DC sesuai standar baterai Lithium.

Ketika baterai di isi atau charging, diberikan voltase 4,2V/DC dan baterai dianggap penuh setelah voltase baterai mencapai 4,2V/DC.

Ketika Baterai dipakai, voltase perlahan akan menurun dan stabil di 3,7V DC selama pemakaian. Dan sistem smartphone serta sirkuit baterai akan memutus power ketika baterai turun dibawah 3,6V/DC (tergantung model smartphone dan disain baterai)

Bila baterai lithium yang di charger mulai mendekati voltase 4,1 - 4,2V/DC maka sistem charger baterai smartphone akan memberikan keterangan 100% Full.

Untuk keamanan, charger pengisian baterai di smartphone tidak memberikan power input pengisian seluruhnya (sampai 100%), setelah indikator menampilkan Full Charger atau mendekati angka 4,1V/DC. Produsen kadang menjaga keamanan baterai smartphone agar lebih tahan lama, ketika di charger tidak pernah mencapai 100%.

Sistem charger smartphone juga memperlambat arus masuk ke baterai ketika menuju voltase 4,2V/DC. Bahkan dapat dikatakan tidak mengisi baterai setelah 100%.

Selain pada sistem charger, pada baterai smartphone memiliki sirkuit proteksi. Bila baterai sudah mencapai kekuatan output 4,2V DC. Otomatis akan memutuskan arus untuk menjaga terjadinya Over Voltage atau Over Charger.

Hindari menguras habis baterai smartphone

Kapan baterai smartphone disebut hampir habis. Baterai lithium-ion tidak pernah benar benar habis.

Mitos baterai lithium harus di isi Full dan digunakan sampai total habis baru di isi kembali, membuat baterai tahan lama. Teori tersebut "salah".

Yang benar baterai lithium dapat di charger kapan saja.
Degradasi atau penurunan kapasitas baterai terjadi setelah ratusan kali di charger ulang.
Stres baterai akibat pengisian terlalu sering 100%, membuat kapasitas baterai lebih cepat drop dan berdampak dengan suhu panas, umur baterai, kepasitas baterai.

Baterai lithium dikatakan habis setelah voltase baterai sudah dibawah 3,2V DC.
Biasanya setelah melewati dibawah 3,7VDC, baterai akan lebih cepat drop dan terus turun sangat cepat setelah melewati 3,6V/DC
Produsen smartphone umumnya menempatkan voltase 3,6V/DC disebutkan baterai sudah mendekati habis.

Tetapi baterai Lithium yang dilengkapi sirkuit proteksi (seperti baterai smartphone), sirkuit berfungsi untuk perlindungan baterai dari overcharger, overheating, short. Baterai lithium tidak boleh di kuras habis, karena sistem proteksi akan melindungi sistem baterai bila mencapai 3,3V DC dan dianggap sudah kosong (memutus pengiriman power).

Bila sistem sirkuit proteksi menditeksi baterai sudah mencapai dibawah limit seperti 2,6V DC. Sirkuit menganggap baterai kosong bahkan dianggap rusak oleh sistem baterai. Akan membuat masalah karena sensor voltase smartphone akan salah menditeksi bila baterai terlalu kosong.

Kejadian baterai lithium rusak (tidak dapat mengisi baterai smartphone), belum tentu baterai benar benar rusak.
Karena sirkuit proteksi menganggap power baterai sudah dibawah 2,6V/DC, dan tidak mengijinkan sirkuit proteksi meneruskan arus DC charger masuk ke baterai.
Dampaknya kadang di layar smartphone berkedip kedip, dalam arti sistem smartphone mencoba menditeksi kondisi baterai.

Kesalahan baterai lithium dianggap rusak disebabkan terlalu lama menyimpan baterai dengan voltase baterai terlalu rendah.

Produsen selalu menganjurkan untuk menyimpan baterai dalam kondisi 50% kapasitas, agar sisa voltase baterai dapat bertahan di atas voltase minimum beberapa bulan kemudian.
Banyak produk memberi saran, dengan pemakaian baterai lithium terdapat keterangan agar mengisi baterai lithium di charger secara berkala, setidaknya 3-6 bulan sekali. Bila penguna ingin menyimpan baterai sementara waktu.

Penyebab baterai smartphone cepat rusak
Hal lain penyebab baterai smartphone cepat rusak, disebabkan suhu panas dari dampak overcharger atau pemakaian arus terlalu besar.

Ketika baterai di isi terlalu lama, maka baterai menjadi lebih panas atau bisa saja kondisi suhu ruang yang panas.
Semakin tinggi arus diberikan, umur pemakaian baterai smartphone jenis Lithium maka kapasitas baterai semakin cepat drop yang ditunjukan dengan kapasitas lebih rendah dari awal pemakaian.
Terlalu sering di charge sampai 100% penuh dampaknya tidak terlalu baik untuk baterai smartphone.

Overvoltage, atau mengisi baterai sampai kapasitas diatas 4,2V+. Kelebihan voltase merusak elemen di dalam baterai secara perlahan. Dapat menimbulkan resistensi atau tahanan baterai yang umum terjadi ketika baterai sudah lemah. Ketika di charger baterai selalu panas.

Over-discharge, menghabisi power baterai lithium terlalu besar dapat melemahkan kemampuan kapasitas baterai. Kecuali baterai lithium ada yang dirancang khusus untuk over discharge, disebut baterai High Drain.

Dibawah ini ciri sistem pengisian baterai Lithium
 

Charge V/cell

Voltase

Waktu pengisian

Kapasitas baterai

3.80

3.90

4.00

4.10

4.20

60%

70%

75%

80%

85%

120 min

135 min

150 min

165 min

180 min

~65%

~75%

~80%

~90%

100%


Ingin baterai smartphone tahan lama, boleh di coba teknik dibawah ini.



Merawat baterai Lithium agar usia baterai lebih lama dipakai
  • Solusi baterai smartphone agar bertahan lebih lama dan tetap prima, adalah tidak selalu mengisi baterai secara penuh (full charge). Ketika baterai di isi sampai penuh, artinya voltase baterai semakin dekat dengan angka 4,2V DC atau lebih. Bila di isi sampai 80-90%, artinya voltase baterai masih berada 4.1V/DC atau kondisi kapasitas 90%
  • Persentasi kapasitas baterai yang ditunjukan pada grafik di smartphone, seperti 70%, 80% bukan menunjukan kapasitas baterai. Tapi mengikuti karateristik voltase baterai yang diwakili sebagai kapasitas
  • Bila baterai menyimpan voltase terlalu besar, elemen di dalam baterai terjadi degrasi atau kerusakan secara perlahan. Bila terjadi panas, akan muncul gas di dalam baterai dan perlahan membuat baterai menjadi kembung.
  • Baterai smartphone memang harus di charger setiap hari, walau efeknya setiap kali di charger maka kemampuan kapasitas baterai perlahan semakin turun (drop)
  • Uniknya sifat baterai Lithium menjadi baik bila mengisi baterai hanya sampai kapasitas 50%. Dan pengisian baterai terlihat naik lebih cepat untuk mencapai kapasitas 80%. Sedangkan pengisian diatas 80% sampai Full semakin lama, bahkan sangat lama setelah melewati 95%. Karena charger di smartphone akan semakin lambat memberikan pasokan power.

Voltase baterai Lithium dalam angka persen kapasitas
Charge voltage 3.3V 3.5V 3.6V 3.7V 3.8V 3.9V 4.0V 4.05V 4.1V 4.15V 4.2V 4.25V* 4.3V*
Capacity mAH 0 1.8 3.1 5.3 22 38 44.7 51.4 55 57.8 61.6 64.5 65.4
Percentage 4.2V capacity 0% 2.9% 5.0% 8.6% 36% 62% 73% 83% 89% 94% 100% 105% 106%
Percentage of rated capacity 0% 3% 5.2% 8.8% 37% 63% 75% 86% 92% 96% 103% 108% 109%
Umur Baterai
- - - 32x 16x 8x 4x 2.8x 2x 1.4x 1x 0.71x 0.5x

Pada tabel diatas memberikan keterangan apa dampak yang terjadi pada baterai.
  • Bila baterai smartphone di isi dengan power 4,2V, maka kapasitas baterai mencapai 100%. Usia baterai sesuai standar (teorinya seperti itu)
  • Bila baterai smartphone selalu di isi sampai voltase diatas 4,25V. Usia baterai mulai turun sampai 71% dari usia standar
  • Bila baterai smartphone dipaksakan dengan voltase 4,3V, atau mencapai kapasitas 106%. Usia baterai lithium tidak akan lama, dan hanya bekerja separuh pemakaian seharusnya..
  • Tapi lihat dibagian tabel 4.1V/DC. Bila baterai di isi sampai 89% saja dengan voltase baterai masih berada di 4,1V/DC. Umur baterai akan bertahan 2x lebih lama
  • Semakin rendah pengisian baterai, misalnya sampai 60% atau mencapai ddibawah voltase 4V/DC. Usia baterai naik mencapai 4x lebih lama.
  • Artinya semakin lama usia baterai dapat digunakan, semakin sering mencharger baterai, dan tetap mempertahankan kapasitas baterai bila di charger sampai 50% saja atau tidak pernah mencapai voltase 4V/DC maka umur pemakaian dan kapasitas baterai lihtium akan bertahan sangat baik.
Tidak masalah bila kita mengunakan charger 500mAh dari charger standar atau via USB port computer, 1000 mAh bahkan 2000mAh dengan quick charger. Selama voltase baterai tidak melewati batas 4,1V DC, maka pemakaian baterai akan lebih lama, dan kondisi drop baterai semakin kecil.

Tidak masalah dengan pengisian cepat. Karena baterai seperti busa, ketika di isi air dapat menyerap air lebih banyak. Tetapi ketika jenuh, disana masalah muncul.

Seandainya kita memiliki smartphone dengan baterai permanen atau tidak dapat di lepas pasang. Serta kapasitas baterai smartphone cukup besar antara 3000mAh sampai 4000mAh. Waktu pengisian dengan smartphone dengan kapasitas baterai besar sangat memerlukan waktu. Bila di charger dengan power adaptor 5V 500mAh, dari status kosong sampai penuh membutuhkan waktu antara 6-8 jam.

Disini keuntungan smartphone dengan baterai kapasitas besar, sekaligus dapat memanfaatkan tip diatas agar baterai lebih awet.
Misalnya kita bisa di siplin mengisi baterai sampai kapasitas 90% saja, agar umur baterai smartphone lebih lama. Maka perkiraan usia baterai dapat bertahan sampai 2x lebih lama dibanding mengisi full charger setiap hari

Tapi, apakah kita bisa mengetahui kapasitas baterai sampai 90% dan secepatnya menghentikan pengisian baterai pada smartphone.

Selanjutnya dengan software Battery Full Notification memberikan tanda peringatan bila kapasitas baterai sudah mencapai batas yang kita tentukan