Perubahan iklim manusia sudah kalah dan akan tercatat dalam sejarah


Green | 3 December 2019

Ketika ilmuwan memberikan data tentang perubahan iklim.
Masyrakat mulai melihat apa dampak yang diberikan Bumi terhadap manusia.

Polusi, asap, tingkat gas CO meningkat, naiknya air laut, es mulai menghilang di puncak gunung tertinggi, gagal panen dan sebagainya.

Semua orang tahu, semua orang melihat, tapi.

Hari Senin 2 Desember 2019 dimulai konferensi tingkat tinggi.
Di seluruh dunia, kampanye seperti Pemogokan Iklim Global yang dipimpin oleh kaum muda telah memberi perhatian besar terhadap perubahan iklim, dan meminta pemerintah dunia untuk mengambil tindakan yang berarti untuk memperlambat. Pada hari Senin, perwakilan dari hampir 200 negara berkumpul untuk COP25 di Madrid untuk mengatasi pemanasan global. Di sana, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres memperingatkan hadirin tentang "titik tidak bisa kembali".
"Spesies manusia telah berperang dengan planet ini. Sekarang planet ini melawan," Guterres mentweet pada hari yang sama. "Perubahan iklim telah meningkat menjadi darurat iklim global."

Bahkan satu negara terbesar, menyumbang gas CO terbesar keluar dari perjanjian Paris.
Beberapa negara besar lain berusaha menurunkan pengunaan bahan bakar fosil dan beralih ke energi terbarukan. Yang lain mengatakan telah mengambil langkah, tapi masih melirik ekonomi.

Beberapa upaya telah dilakukan untuk memperbaiki iklim dunia yang konon dapat menurunkan kualitas hidup di Bumi.

Pertanyaan dari para ilmuwan, apakah semua akan berdampak baik dan dapat mengembalikan bumi seperti waktu lalu.
Apakah gas CO2 yang dihasilkan di permukaan bumi dari manusia dan alam dapat diturunkan kembali.
Faktanya, para ilmuwan sekarang memperingatkan bahwa kita mungkin telah memasuki "keadaan darurat planet".
Kesimpulan ini selanjutnya didukung oleh laporan bulan pada November 2019 yang menemukan bahwa tingkat gas rumah kaca mencapai ketinggian baru. Dan, pengurangan emisi yang digariskan dalam Perjanjian Iklim Paris 2015 tidak cukup.



Katanya agak terlambat, tahun 2019 suhu panas bumi kembali mencapai rekor tertinggi.
Indonesia kembali mengalami kebakaran hutan, kali ini tercatat meningkat 2x lipat melepas gas CO2 dibanding catatan tahun tahun sebelummya.
Dahulu hanya terjadi di satu pulau Sumatra, sekarang menyebar di beberapa gunung. Kekeringan sudah hal rutin di negara kepulauan ini.

Kota Sydney dan Melbourne yang relatif memiliki suhu subtropis. Pada akhir abad ini akan sering mendapatkan suhu 50 derajat celcius, bila emisi gas rumah kaca terus meningkat.
Suhu panas yang luar biasa, nantinya akan menjadi suhu biasa yang terjadi di musim panas Australia.
Pendesaan di NSW Bourke memiliki 21 hari berturut turut dengan suhu diatas 40 deg.C, Canbera 35 deg.C selama 24 hari.
Tidak heran negara Australia sempat dilanda kebakaran hebat di tahun 2019.

Mungkin kita lupa dengan berita kemarin, atau melihat hari ini masih aman saja. Dan tontonan tersebut akan kembali tayang , mungkin tahun depan.

Kutipan dari Washington Post, kita kehilangan perang terhadap iklim bumi kita. kita tidak memiliki siapa pun selain diri kita sendiri untuk disalahkan.

Seorang anak memegang plakat selama protes flashmob atas perubahan iklim pada hari Jumat Nov 2019 di Taman Lumpini di Bangkok, Thailand.
Seperti menyatakan, jangan dirusak bumi kami. Yang lain membuat pengumuman, hanya satu planet A dan bukan planet B.

a placard during a flashmob protest over climate change

Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa membuka pertemuan tingkat tinggi tentang perubahan iklim ke-25 di Madrid, para pemimpin berusaha menunjukkan wajah berani di situasi yang suram.
 "Pesan saya di sini, hari ini adalah salah satu harapan, bukan putus asa," Sekretaris Jenderal AS António Guterres mengatakan kepada media,.

Sekali lagi hanya harapan, sayangnya, bukan rencana besar yang diucapkan.
"Lima tahun terakhir tercatat bumi terpanas" kata Guterres". "Permukaan laut tertinggi dalam sejarah manusia."

Seperti sebuah perang untuk menjaga pemanasan global tetap dibawah tingkat bencana total, Guterres melaporkan bahwa "titik dimana manusia tidak bisa kembali dari garis di cakrawala. Itu sudah terlihat dan sedang meluncur ke arah kita. ”

Sejarah akan mengutuk sejumlah petinggi, dimulai dari Presiden Trump. Amerika Serikat, sebagai kekuatan ekonomi terkemuka dunia, diposisikan secara unik untuk memimpin dunia menuju solusi iklim. Tapi sikap dia berbeda.

Bahkan, Trump sengaja memperburuk masalah dengan menarik diri dari kesepakatan iklim Paris dan secara aktif mendorong peningkatan pembakaran bahan bakar fosil, termasuk batubara.



Kutipan dari Washington Post - Despite what Trump and other ignoramuses might say, there is essentially no scientific disagreement about the fact that climate change is occurring or the fact that humankind is the cause.
Terlepas dari apa yang Trump dan orang orang bebal lainnya mungkin katakan, pada dasarnya tidak ada ketidaksepakatan ilmiah tentang fakta bahwa perubahan iklim sedang terjadi atau fakta bahwa manusia adalah penyebabnya.

Beberapa dekade dari sekarang, kita sudah mungkin melihat ini sebagai warisan terburuk pemerintahan Trump.

Presiden China Xi Jinping, tidak seperti Trump, memahami dan menerima konsensus ilmiah tentang perubahan iklim.
Tetapi di China, emisi gas rumah kaca terus melambung dan sekarang hampir dua kali lipat dari Amerika Serikat.

Karena di sisi berbeda, presiden Xi terus mengharapkan pertumbuhan ekonomi yang cepat - dan sebagaian di dorong oleh pembangkit listrik tenaga batu bara yang baru - untuk kesejahteraan manusia dalam jangka panjang. Industri disana masih di topang oleh bahan bakar fosil dibanding pengunaan bahan bakar terbarukan.
Ekonomi menjadi penyebab pengunaan energi yang besar. Dan mengesampingkan sementara waktu tujuan yang baik.

Perdana Menteri India Narendra Modi juga dengan tajam meningkatkan emisi karbon bangsanya. Memiliki pembangkit sinar surya, tapi jauh dari kata cukup.
Uni Eropa telah melihat penurunan emisi di India tetapi hanya sedikit.
Walau di negara tersebut sudah setiap tahun berselimut asap, akibat dampak industri dan kendaraan bermotor.

Setidaknya China, India dan Eropa diproyeksikan untuk memenuhi target emisi di awal mereka di bawah kesepakatan Paris. Amerika Serikat tidak.

Data emisi CO2 tahun 2016 di setiap negara

Rank Country CO2 emissions (total)
1 China 9056.8MT
2 United States 4833.1MT
3 India 2076.8MT
4 Russian 1438.6MT
5 Japan 1147.1MT
6 Germany 731.6MT
7 South Korea 589.2MT
8 Islamic Republic of Iran 563.4MT
9 Canada 540.8MT
10 Saudi Arabia 527.2MT
11 Indonesia 454.9MT
12 Mexico 445.5MT
13 Brazil 416.7MT
14 South Africa 414.4MT
15 Australia 392.4MT
16 United Kingdom 371.1MT
17 Turkey 338.8MT
18 Italy 325.7MT
19 Poland 293.1MT
20 France 292.9MT




Negara penghasil emisi gas CO2 terbesar

Jika pemanasan global akhirnya harus mencapai tingkat 2 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri di akhir abad ini.
Peningkatan itu dianggap para ilmuwan sangat mengkhawatirkan, walau sekarang seharusnya dapat diperbaiki secepatnya- seperti emisi karbon di seluruh dunia harus diturunkan dengan cepat. Dalam arti mulai menghilangkan penghasil gas karbon.

Namun emisi tahun 2018 saja sudah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.

Sebuah buletin pekan lalu dari Organisasi Meteorologi Dunia, dari badan WMO AS, melaporkan bahwa konsentrasi karbon dioksida yang memerangkap panas di atmosfer telah meningkat sebesar 147 persen sejak Revolusi Industri.

Dengan memeriksa tingkat berbagai isotop karbon di udara, para ilmuwan WMO mampu menunjukkan bahwa karbon tambahan di atmofer adalah jenis yang dipancarkan dari batubara dan bahan bakar fosil lainnya. Artinya ada pembakaran yang dilakukan manusia.
Dengan kata lain, kita sudah menemukan dan berdiri di atas korban dengan bukti di tangan kita.

Pada konferensi tingkat tinggi Iklim Madrid - di mana Ketua Nancy Pelosi (D-Calif.) menjadi peserta tertinggi dari AS - para pemimpin yang berkumpul akan mendengar bahwa penilaian sebelumnya terhadap bencana perubahan iklim terlalu sedikit.

Pemanasan global yang terjadi sebenarnya lebih cepat dari yang diperkirakan, dengan konsekuensi sangat dramatis daripada yang dibayangkan sebelumnya.



Gletser mencair. Laut meningkat. Pola cuaca telah bergeser dengan cara yang tidak terduga, membuat hujan di permukaan bumi tidak dapat diandalkan, badai supercharged (badai lebih kuat sering muncul) dan mengekspos daerah yang dulu beriklim sejuk seperti Eropa Utara harus mendapatkan gelombang panas mematikan.

Bumi sangat besar, sementara kita sangat kecil. Mungkin sulit membayangkan bahwa kita sudah melakukan masalah terbesar pada lingkungan planet ini.

Atmofer bumi dari ruang angkasa

Lihat saja foto-foto planet yang diambil para astronot di stasiun ruang angkasa. Dan perhatikan betapa tipisnya foto yang dibuat dengan atmosfer Bumi ini.

Nitrogen - 78 persen
Oksigen - 21 persen
Argon - 0,93 persen
Karbon dioksida - 0,04 persen
Sebagian lainnya neon, helium, metana, kripton, dan hidrogen, serta uap air

Atmosfer adalah bagian keseluruhan gas di planet Bumi. Gas karbon dioksida yang hanya 0,04% dengan konsentrasi terlihat sangat kecil.
Tetapi sedikit saja terjadi peningkatan, dampaknya sangat luas. Gas CO2 dan gas Metana memiliki sifat menyerap panas, sehingga membentuk efek rumah kaca dan membuat bumi lebih hangat.

Udara yang kita hirup meluas ke atas hanya sekitar 16km dari permukaan Bumi. Ketinggian tersebut hanya sejauh perjalanan sebuah kendaraan setiap hari.

Masalah skala itu adalah satu penghambat untuk memperbaiki iklim yang sangat kita butuhkan. Masalah lebih besar adalah masalah waktu. Bisa lebih cepat atau hanya memperlambat.
Dampak lingkungan dengan perubahan iklim sejauh ini hanya tontonan di media sampai jurnal sain.

Manusia yang hidup saat ini masih dapat bertahan. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang akan merasakannya, dan cucu-cucu akan menderita dari cara yang bisa kita pahami hari ini tapi tidak melakukan apapun.

Generasi masa depan akan menjadi bingung dan marah terhadap leluhur mereka.
Mereka akan melihat dari catatan sejarah bahwa manusia hari ini tahu apa yang terjadi, tahu cara menangani, atau setidaknya memperlambatnya.
Tetapi upaya yang dilakukan tidak cukup, bahkan kita hampir tidak melakukan apa-apa untuk mereka.

Berita terkait
Pabrik semen memerlukan pemanas, dimana campuran dipanaskan sampai 1400 derajat Celcius. Membuat emisi karbon nomor 3 dibanding emisi 2 negara terbesar penyumbang emisi karbon terbesar. Sekarang ada alternatif membuat semen lebih ramah lingkungan, tidak total menghilangkan emisi karbon. Beberapa inovasi teknologi sudah ditampilkan. Solusi lain dari MIT dengan sinar matahari.

Bumi mendapatkan suhu dari matahari. Tanpa cahaya yang cukup, bumi akan membeku. Bagaimana suhu bumi menjadi ideal, setidaknya sementara. Tetapi mengapa Bumi semakin panas, apa penyebabnya penjelasan dalam sain yang mudah di mengerti.



Dahulu seseorang yang berpergian harus memesan tikat jauh hari. Hari ini tinggal tekan dan tiket akan muncul. Salah satu kecepatan teknologi ternyata membuat efek negatif dengan perasaan kesal. Sisi buruknya hampir terjadi di sebuah aktivitas masyarakat. Untuk itu dapat kita pelajari, mengapa orang menjadi tidak sabaran.

Perangkat paling boros listrik adalah AC dan dampak psikologi udara panas. Di pasaran AC murah mengkonsumsi 50% energi listrik, bila musim panas tiba di satu kota. Maka ada kemungkinan pemadaman listrik bergilir. Indonesia masuk daftar, sekitar 9% rumah memiliki AC.Manusia mampu beradapatasi. Jika saya bisa bekerja dengan suhu 30C, Anda juga bisa - percayalah pada saya."

Tanaman membutuhkan proses fotosintetis untuk menghasilkan oksigen. Tanaman di rumah atau gedung kantor juga membantu meningkatkan kualitas udara di ruangan kita. Aada beberapa tanaman menghasilkan oksigen pada malam hari. Pohon Empress Splendo jenis pinus tumbuhan paling efisien di dunia, mampu menyerab 103 ton karbon per hektar

Ketika orang tua atau engkong mereka membanggakan sebuah kendaraan. Generasi sekarang malah tidak mau repot dengan nama kendaraan. Memiliki kendaraan sama saja membawa satu tas kerepotan dalam hidup mereka. Beberapa alasan 2 generasi tersebut tidak memprioritaskan untuk memiliki kendaraan pribadi.

Pernah mendengar negara Bhutan yang menyandang negara minus gas carbon pertama di dunia. Mungkin upaya negara ini tidak pernah dilihat di siaran TV Indonesia. Mungkin kita sendiri tidak tahu dimana letak negara Bhutan. Mengapa negara ini tidak memiliki polusi dan disebut minus carbo



Sebuah desa kecil di India, dalam 20 tahun terakhir telah 350 orang meninggal. Sekitar 320 keluarga tinggal disana, dimana satu keluarga telah kehilangan satu orang keluarganya. Mengapa penduduk disana begitu banyak yang meninggal. Mereka menyebut ada setan, ilmu pengetahuan menyebut dampak pestisida.




No popular articles found.