Sinyal 21cm 1420Mhz dari ruang angkasa yang dicari astronom sinyal apa yang dimaksud


Science | 11 October 2019

Di seluruh dunia, antena radio di lanskap terpencil sedang mencari di langit untuk menangkap sinyal samar yang sama dari fajar kosmik / Cosmic Dawn
Yang dimaksud ketika bintang-bintang pertama bersinar lebih dari 12 miliar tahun yang lalu.

Kita sering membaca tentang beberapa tempat teleskop radio mulai dibangun beberapa tahun lalu. Bahkan memiliki ribuan antena.
Apa sebenarnya yang dicari, dan mengapa mengunakan antena.

Beberapa teknik meneliti ruang angkasa tidak harus mengunakan pengamatan optik.
Beberapa instrumen mengunakan teleskop inframerah atau sensor untuk menangkap cahaya infra merah untuk mencari jejak panas. Sehingga teleskop dapat melihat bagian lebih dalam yang terhalang debu dan gas.
Yang lain mengunakan radiasi, seperti sinar X, Gamma, dan lainnya.

Sebagai contoh gambar ini didapat dari beberapa perangkat berbeda.
1 teleskop radio dapat menunjukan gelombang radio di area gas yang cukup dingin seperti gas CO2. Temperatur 300 derajat C.
2 teleskop inframerah, umum untuk melihat bintang lebih dingin. Seperti bintang dengan cahaya merah. Temperatur 4200 derajat C, dapat menembus debu dan gas di sebuah galaksi.
3 teleskop optik, seperti pengamatan dengan visual mata  Temperatur 5700 derajat C, mengamati bagian yang fokus secara visual.
4 teleskop UV / ultraviolet mencari jejak panas dari bintang yang ada di sebuah galaksi, umumnya akan tampak bila sebuah galaksi memiliki banyak bintang besar yang disebut Super Blue Giant star. 9500 derajat C
5 teleskop X-ray mencari radiasi dari emisi sinar X yang dihasilkan energi sangat tinggi. Pancaran radiasi seperti ini biasanya dihasilkan hanya dari benda ekstrim. Seperti lubang hitam, area gas paling panas dan atom terionisasi. Memiliki jejak temperatur 10 juta derajat Celcius

Bentuk gambar dari kombinasi teleskop

Setiap benda di ruang angkasa dapat mengeluarkan sinyal, dan salah satunya sinyal 21cm.



Jika terdeteksi, sinyal tersebut dapat menjelaskan beberapa misteri yang belum terjawab dari asal usul awal alam semesta,  serta segala sesuatu.

Dari bintang, galaksi, bahkan materi gelap - Dark Matter dan energi gelap - Dark Energi yang misterius yang menurut para ilmuwan. Diperkirakan 95 persen dari isi massa alam semesta

Tahun 2018, tim lain lebih dahulu menangkap potensi deteksi sinyal yang paling menjanjikan sejauh ini, meskipun hasil itu masih dalam pembuktian.
Pada bulan September 2019, sebuah tim menerbitkan kerangka baru era dari mana sinyal berasal, sekitar 10 kali lebih tepat dari perkiraan sebelumnya.

Sinyal sinyal yang didapat dari ruang angkasa bukan pesan dari peradaban alien, atau sekilas tentang objek eksotis di ujung zaman.
Sinyal tersebut dapat berasal dari salah satu komponen paling sederhana di alam semesta yaitu atom hidrogen netral.

Peneliti mengatakan alam semesta berasal dari dua gas Hidrogen dan Helium dalam tabel periodik. Lalu menjadi seperti sekarang ini termasuk benda padat seperti emas, batu, besi dan lainnya.

Karena atom-atom hidrogen adalah atom terbanyak yang ada di alam semesta, menjadi sumber dari isi alam semesta.

Atom hidrogen juga menyerap dan melepaskan foton dengan panjang gelombang 21 sentimeter. Nah sinyal inilah yang sebenarnya dicari.

Sinyal 21cm adalah frekuensi sinyal radio yang berada di rentang 1420Mhz.

Setiap era atau zaman sejak dimulainya alam semesta terbentuk.

Alam semesta terjadi dalam beberapa tahap.

Dimulai era kegelapan, memasuki pembentukan bintang generasi pertama lahir

Sampai reionisasi gas yang terjadi.

Setiap tahap membentuk sinyal berbeda beda. Walau sinyal tersebut terjadi pada 13 miliar tahun lalu, masih dapat di tangkap untuk dipelajari saat ini dimana alam semesta sudah berusia 13,8 miliar tahun.

Sinyal dari setiap zaman di masa lampau yang dapat tertangkap dari ruang angkasa

Jejak dari hidrogen kuno ini akan membuka jendela pengamatan pertama ke awal Zaman Reionisasi (EoR)



Era paling suram dalam sejarah alam semesta, dan dimulai beberapa ratus juta tahun setelah Big Bang. Atau ketika semua materi terlempar dari ledakan besar. Dimana di dominasi oleh materi gas. Dan belum terbentuk elemen padat lain, hanya gas saja seperti Hidrogen dan Helium.

"Kita tahu bahwa hidrogen netral (belum terkontaminasi) ada di sana, jadi sinyal hidrogen netral juga harus terditeksi dari sana," jelas Leon Koopmans, seorang profesor di Universitas Groningen dan peneliti utama dari LOFAR Epoch of Reionization Key Science Project, yang menggunakan teleskop LOFAR untuk berburu sinyal hidrogen netral.

Hidrogen netral adalah gas hidrogen yang belum terkontaminasi dan hanya berada di awal alam semesta.

Perlahan gas tersebut terkompresi, dan mengumpal lalu mulai memanas dan menjadi bintang. Selanjutnya menjadi galaksi dan terus berubah membentuk alam semesta saat ini.

Hidrogen netral hanya ada di awal pembentukan alam semesta

Sebelum EoR, alam semesta tidak memiliki cahaya bintang atau belum muncul bintang, di masa yang dikenal sebagai zaman Kegelapan kosmik / Cosmic Dawn..

Setelah EoR / Zaman Reionisasi, alam semesta mulai mengalami regerasi atau daur ulang sehingga struktur dasar dari alam semesta yang kita kenal seperti kita huni saat ini.

Apa yang terlihat seperti berbintik-bintik dengan bintang dan galaksi dan diukir oleh materi gelap dan materi energi, telah terwujud seperti sekarang.

Tetapi para ilmuwan hampir tidak mengetahui tentang rentang waktu sekitar tahun 0 sampai 500 juta tahun yang memisahkan Abad Kegelapan ke alam semesta modern yang dipenuhi cahaya. Waktu Big Bang adalah periode tahun 0, dimana sebuah ledakan amat dasyat diperkirakan terjadi.

Sejak itu sinyal dari masa lampau terjadi beberapa zaman berbeda beda sampai membentuk alam semesta sekarang.

Sementara galaksit jauh yang pernah di amati 500 ribu tahun sudah hadir, diartikan di masa tersebut sudah muncul bintang.
Salah satunya dinamai galaksi Z8GND6296. Tetapi galaksi tersebut terlihat secara tidak sengaja ketika melewati lensa gravitasi di alam semesta.

Mencari jejak sinyal 21cm.

Mendeteksi sinyal  yang sudah begitu lama terbukti menjadi salah satu pengejaran paling sulit dalam astronomi dan kosmologi.

Sinyal 21 sentimeter sudah sangat lemah untuk ditangkap, karena tercipta atau muncul saat terjadinya fajar kosmik. Setelah melintasi jarak dan rentang waktu ekstrem untuk mencapai waktu sangat lama seperti diusia kita saat ini, sinyal kecil itu tenggelam oleh gangguan yang lebih kuat dari galaksi, bintang, nebula, termasuk gadget pemancar radio di Bumi.

Sinyal 21cm di masa lampau, sejuta kali lebih redup (tertangkap instrumen teleskop radio) dari semua terganggu dengan kebisingan sinyal radio, menurut Koopmans.

Sinyal 21cm dengan rentang 1420Mhz di masa itu. Tidak tertangkap seperti frekuensi 1420Mhz di waktu sekarang.

Sinyal di masa lampau sudah tertarik ketika di amati / di dengar dari Bumi. Karena alam semesta mengalami ekpansi dimana semua isinya bergerak dan sebagian besar saling menjauh.

Dengan rentang 7,7 redshift, maka sinyal radio juga ikut berubah menjadi sinyal dengan rentang 163Mhz atau sinyal frekuensi telah memanjang menjadi 2 meter.

Jejak sinyal radio 21cm dari alam semesta

Teleskop radio di bumi yang baru baru ini dibangun. Dirancang untuk mencari sinyal rentang 100-200Mhz dari ruang angkasa.



"Semua energi yang pernah dikumpulkan oleh teleskop radio, seperti LOFAR, seperti melihat kepingan salju yang jatuh di Bumi," katanya. Dan "Energi yang dipancarkan oleh sinyal hidrogen netral masih 100.000 lebih kecil dari itu."

Setelah Big Bang atau dimulainya usia alam semesta tahun ke 0, Kondisi awal alam semesta menjadi sangat panas dan energik sehingga proton dan elektron tidak dapat bergabung untuk membentuk atom netral stabil.

Alam semesta pada dasarnya seperti di satu mangkok sup yang sangat besar panas dari partikel-partikel subatomik.

Kondisi kosmik mulai mendingin memasuki usia 378.000 tahun setelah Big Bang, memungkinkan waktu itu terjadi pembentukan hidrogen netral dan mengantarkan apa yang disebut Era Rekombinasi.

Ketika atom mulai terbentuk selama periode ini, alam semesta mulai lebih transparan, memungkinkan cahaya bebas bepergian tanpa disebarkan partikel-partikel subatom random.

Radiasi ini yang disebut latar belakang gelombang mikro kosmik atau dikenal CMB - Cosmic Microwave Background
Menjadi sinyal tertua yang pernah terdeteksi di alam semesta paling jauh oleh manusia.
Sekedar pengetahuan, penemuan sinyal CMB ditemukan tahun 1965 ketika dua ilmuwan Arno Penzias dan Robert Wilson untuk pengamatan gas hidrogen di ruang angkasa.
Awalnya mengira ada burung yang bersarang di antena radio. Ternyata keduanya malah menemukan sumber suara kosmik yang tidak disangka.
Menjadi penemuan paling penting stelah Newton.

Ketika alam semesta beralih dari plasma panas ke gas kondensasi yang dingin
Memasuki Zaman Kegelapan kosmik /Cosmic Dawn.

Awal bentuk alam semesta sampai sekarang

Para ilmuwan berpikir hanya ada dua bentuk cahaya / sinyal yang dapat diamati dari jaman purba.

- Sinyal dari latar belakang gelombang mikro kosmik / CMB. Sudah 3 kali di publikasi dengan perangkat awal dan terakhir.
- Sinyal 21-sentimeter yang sekarang paling dicari (2019)

Sebagai contoh sinyal dari CMB. Bila pernah mendengar radio dengan kanal kosong tanpa siaran radio atau walkitalkie.
Akan terdengar seperti noise mendesis atau suara berisik tidak berhenti.

Sinyal tersebut bukan gangguan pada radio tapi adanya sinyal yang ditangkap oleh antena dari perangkat radio dan di rubah menjadi suara.

Sinyal suara pada frekuensi radio FM dengan suara noise statik.
Berisikan 99,7% berasal dari sinyal frekuensi elektron relativistik yang berputar di medan magnit galaksi kita, galaksi terdekat sampai sinyal dari perangkat buatan manusia dibumi.

Tetapi sebagian sinyal tersebut juga berasal dari sinyal CMB yang bersumber dari puluhan miliar tahun lalu jauhnya dari Bumi.
Sinyal lain atau sekitar 0,3% berasal dari sinyal Big Bang adalah sinyal 21cm yang hanya tertangkap 0.01%

Kata Judd Bowman, seorang kosmologis eksperimental di Arizona State University, dalam sebuah email.

Seperti cahaya, walau di sumber yang jauh berwarna putih. Ketika melintas di ruang hampa selama puluhan miliar tahun lalu dan sampai di Bumi.
Cahaya yang tertangkap oleh teleskop Hubble di ruang angkasa, tapi berwarna merah. Spektrum cahaya akan berubah warna, akibat tertarik ketika melakukan perjalanan yang sangat lama dalam ruang hampa di alam semesta.

Demikan juga sinyal 21cm. Gelombang frekuensi dari sinyal 21cm disana, sinyal ikut tertarik ketika tertangkap di bumi. Sehingga sinyal tersebut akan menjadi sinyal dengan panjang gelombang 20meter.

Ketika bintang bintang pertama di alam semesta mulai bersinar.
Energi atom hidrogen netral berangsur angsur terionisasi dan mereka melepas elektron.

Itulah awal terjadinya Era Reionisasi. Ketika cahaya dari bintang dan menjadi galaksi mengubah sebagian besar gas hidrogen netral menjadi hidrogen terionisasi.
Sekarang ini gas hidrogen di alam semesta tetap menjadi bentuk hidrogen terionisasi.

Ketika cahaya dari sumber-sumber tersebut muncul dan hidrogen netral mulai berkurang akibat terionisasi, sinyal mereka melemah memasuki zaman EoR.

"Sinyal tersebut peka terhadap cahaya yang akan dihasilkan oleh bintang generasi pertama," jelas Fialkov.
Kita bisa belajar tentang proses reionisasi darinya: misal seberapa efisien galaksi pertama dalam mengionisasi gas dan bagaimana efisiensi ini bervariasi dengan massa galaksi dan lingkaran cahaya tempat mereka berada.

Proses reionisasi berlangsung selama beberapa ratus juta tahun, tetapi selesai pada saat alam semesta mencapai usia satu miliar.

Karena alam semesta sebelumnya masih diliputi kegelapan sebelum reionisasi, sulit untuk mendeteksi apa pun dari bagian awal EoR yang dapat memberikan petunjuk tentang struktur alam semesta ketika waktu terbentuk.

Para ilmuwan telah berhasil menemukan beberapa bintang dan galaksi tertua (terjauh) dari Bumi yang dapat diamati.

Tetapi belum memungkinkan melihat sekilas objek-objek yang bersinar tersebut ketika terjadinya fajar kosmik / Cosmic Dawn.

Itu sebabnya hidrogen netral, menjadi salah satu cara untuk dipelajari dan sangat berharga dalam mendeteksi secara tidak langsung generasi pertama bintang dan galaksi — "asalkan" para ilmuwan dapat menangkapnya aktivitas atau keberadaan mereka.

"Salah satu prioritas tertinggi dalam astrofisika adalah memahami sifat dan evolusi bintang serta terbentuknya galaksi generasi pertama," kata Bowman. "mereka adalah objek yang mengubah alam semesta ketika di awal terbentuknya, mengubah hampir setiap atom dengan radiasi mereka dan menyemai alam semesta dengan unsur-unsur sampai akhirnya akan membentuk Bumi dan kita semua."

Gagasan bahwa sinyal hidrogen netral dapat digunakan untuk mempelajari waktu paling awal di alam semesta telah ada selama beberapa dekade, tetapi baru beberapa dekade terakhir ini teknologi mulai mengejar visi tersebut.

Teleskop radio LOFAR, yang selesai pada tahun 2012, memiliki area pengumpulan yang sangat besar dengan antena kecil yang membentang di beberapa negara Belanda, Jerman, Inggris, Prancis, Swedia, dan Irlandia.

Rentang geografis yang luas ini memungkinkan tim untuk memilah sinyal dengan mengoreksi kesalahan instrumen atau gangguan sinyal di atmosfer Bumi, kata Koopmans.

Teleskop radio Murchison Widefield Array (MWA), juga selesai pada 2012, memiliki ukuran lebih kecil dari LOFAR.
Tetapi memiliki kemampuan untuk menghindari gangguan sinyal radio lebih rendah karena berada di daerah terpencil di pedalaman Australia Barat.

Eksperimen untuk mendeteksi Global EoR Signature (EDGES), sebuah instrumen di situs yang sama dengan MWA, telah menghasilkan "bukti paling menjanjikan adanya sinyal yang deteksi di gelombang 21-sentimeter sampai saat ini," kata Bowman, yang memimpin penelitian, informasinya juga diterbitkan dalam makalah Nature 2018.

Tim sekarang menunggu pengukuran lain untuk mengkonfirmasi temuan mereka, kata Bowman. Perlunya verifikasi sangat relevan dengan hasil studi 2018 karena penuh kejutan yang menantang dengan model yang ada dari alam semesta awal. Perbedaan antara sinyal prediksi dan apa yang sebenarnya terdeteksi menunjukkan bahwa "baik gas purba jauh lebih dingin dari yang diperkirakan, atau suhu radiasi latar lebih panas dari yang diharapkan," kata tim Bowman dalam penelitian tersebut.

Beberapa model menunjukkan bahwa adanya materi gelap / Dark Matter mungkin bertanggung jawab dengan suhu yang lebih dingin dari perkiraan ketika terdeteksi di  masa fajar kosmik. "Kami telah belajar dari penjelasan yang diajukan untuk kedalaman profil EDGES bahwa fajar kosmik dapat menyimpan rahasia untuk membuka kunci sifat materi gelap / Dark Matter," kata Bowman.

Daya pikat harta karun kosmologis seperti itu telah memotivasi tim ilmuwan untuk membangun observatorium dalam mencari sinyal hidrogen netral di Tanjung Utara Afrika Selatan, pegunungan Tibet, dan Antartika, serta antara situs-situs lain.
Bahkan ada beberapa proposal untuk meluncurkan observatorium ruang angkasa untuk mencari sinyal yang bahkan lebih tua lagi, baik dari orbit atau di sisi jauh Bulan.

"Sinyal-sinyal dari Zaman Kegelapan, yang mendahului pembentukan bintang-bintang pertama, menjadi sangat menarik untuk diamati, tetapi sinyal-sinyal itu tidak dapat diamati dari peralatan di tanah karena terhalang oleh ionosfer," kata Fialkov, merujuk pada lapisan atmosfer Bumi.
 "Ionosfer bertindak seperti cermin yang menghalangi terhadap sinyal yang datang dari luar angkasa dan mereka tidak menembus atau tidak dapat diamati langsung dari Bumi."

"Jadi pergi ke ruang angkasa akan membuka pengamatan ini, dan tentu saja area paling tepat ada di belakang Bulan juga, memungkinkan kita untuk menghindari gangguan frekuensi radio dari bumi" tambahnya.

Untuk saat ini, perlombaan untuk deteksi pertama hidrogen netral akan berlanjut di planet bumi.
Saat tim di seluruh dunia telah memindai langit untuk mencari sinyal peninggalan kuno tersebut menggunakan susunan antena radio yang sangat akurat. Beberapa alat juga diatur untuk bergabung untuk melakukan pencarian bersama.

EDGES-3, versi generasi berikutnya dari instrumen yang mendeteksi kandidat sinyal terbaik, diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2020, menurut Bowman.
Teleskop khusus lain yang disebut Epoch of Reionisasi Array Hidrogen (HERA), yang berbasis di Afrika Selatan, juga siap untuk mengumpulkan data.

Peralatan Panjang Gelombang Lembah Owens Valley di California, yang telah mencari sinyal itu selama bertahun-tahun, dan sedang ditingkatkan untuk menargetkan era yang menghasilkan seperti terdeteksi di tahun 2018.

Bowman mengatakan harapan dari salah satu dari proyek penelitian tersebut akan mendeteksi sinyal yang dicari dalam beberapa tahun ke depan. "Kami telah belajar banyak bagaimana daalam melakukan pengukuran ini," katanya. "Sekarang, ini adalah masalah mempraktikkan pelajaran itu."

Di sepanjang jalur yang sama, observatorium seperti MWA, LOFAR, atau MeerKAT Afrika Selatan juga membantu menginformasikan pembangunan teleskop radio terbesar - yaitu Square Kilometer Array (SKA).

Fasilitas SKA terdiri dari jutaan antena radio yang berada di Afrika Selatan dan Australia. Membentuk ruang observatorium antarbenua dengan kemampuan 50 kali lebih sensitif dari observatorium modern mana pun. Nantinya akan beroperasi penuh tahun 2020, dan salah satu misi terbesar dari pembangunan antena tersebut  adalah menyelidiki EoR.

"Saya pikir deteksi itu sendiri sudah akan luar biasa, setara dengan deteksi yang menemukan sinyal latar belakang gelombang mikro kosmik / CMB," Kata Koopmans. Hal yang indah ketika menemukan, dengan alam adalah hal yang mengejutkan kita!"

Terlepas dari tim mana yang pertama mengklaim mendapatkan sinyal 21cm dengan alat deteksi merek", observatorium radio yang berkembang ini akan bekerja sama membangun gambaran yang lebih luas atas transisi alam semesta yang terjadi antara zaman kegelapan sampai di era modern ketika munculnya cahaya bintang.

"Saya terkejut dan kagum pada apa yang bisa kita lakukan dari bumi," kata Fialkov. "Kita terkurung di Bumi, tetapi kita masih bisa melihat jauh ke masa lampau dan memahami bagaimana bintang-bintang pertama terbentuk." Prioritas tersebut terlebih dahulu yang mereka cari, membuktikan frekuensi 21cm memang ada.

Berita terkait
Galaksi yang sedang mengalami ledakan pembentukan bintang ketika usia alam semesta baru 1 persen, terlihat galaksi menyalakan gas yang mengelilingi galaksi. Awan tebal debu mengaburkan sebagian besar cahaya, menyebabkan galaksi tampak redup bahkan bentuknya tidak teratur. Mirip menemukan mahluk mitos Yeti di hutan belantara. Teknologi saat ini hanya mampu melihat benda kabur dengan teleskop sinyal radio

Dua kelompok galaksi saling bergerak ke arah yang sama dengan kefepatan 6 juta km perjam. Dua grup galaksi berisikan banyak galaksi nantinya akan bertabrakan. Seperti apa kekuatan keduanya, sebelum menjadi sebuah cluster galaksi yang lebih besar.



Satu kluster galaksi berisikan beberapa galaksi yang saling berkelompok dan berkumpul. Tidak seperti pengabungan 2 galaksi yang disebut galaksi bertabarakan. Di Abell 1758 menjadi tempat terbesar pengabungan dari 4 kluster galaksi. Dari beberapa kluster galaksi yang berisi puluhan bahkan ratusan galaksi, akhirnya menjadi satu kelompok baru. Penggabungan dari empat kluster galaksi di Abell 1758 telah diamati oleh Chandra dan teleskop lainnya.

Apa yang terlihat ketika sebuah lubang hitam aktif mengkonsumsi sesuatu yang besar. Peneliti mengolah data ketika lubang hitam aktif dan memakan bintang. Yang terlempar dari lubang hitam MAXI J1820 + 070 yang tertangkap. Radiasi sinar X-ray yang kuat, disusul hitungan mili detik muncul plasma keluar dari kutub lubang hitam.Data pertama aktivitas Black Hole yang aktif diolah sebagai gambar visual.

Proses daur ulang di alam semesta hal biasa. Galaksi Bima Sakti menelan gas dan melontarkan kembali ke ruang angkasa. Tapi gas yang keluar akan masuk kembali ke dalam galaksi. Membentuk gas sebagai bahan bakar bintang baru. Uniknya, yang masuk lebih banyak dari yang dimuntahkan. Dari mana gas tersebut bertambah.

Bumi mengitari matahari 365 hari, apakah matahari juga mengitari benda lain. Matahari mengitari galaksi atau titik tengah galaksi. Posisi matahari berada agak ke pinggir galaksi. Lalu sudah berapa kali matahari mengorbit ke inti galaksi. Bagaimana bila melihat kecepatan dari asal alam semesta ke Bumi, seberapa cepat semuanya bergerak termasuk isi tata surya.

Michel mendapat penghargaan Nobel Prize in Physics 2019. Atas upayanya mencari planet dan dia menjadi orang pertama yang menemukan exoplanet diluar tata surya kita. Teleskop Hubble sudah ada di ruang angkasa sejak 1990, tapi tidak ketemu namanya planet lain. Merubah semua teori yang dipegang oleh para ilmuwan lain. Michel mengatakan ide gila kalau pergi kesana. Kenapa harus kesana, karena bumi masih bisa di tinggali.



Bintang T Ursae Minoris adalah bintang besar berukuran 2x lebih besar dari matahari. Masuk bintang raksasa yang sekarang sedang membengkak, mulai berdunyut. Ilmuwan berharap dapat menyaksikan bintang T Ursae Minoris ketika memasuki masa akhir. Dimana skala kehidupan manusia dapat melihat secara langsung kematian bintang.

Herbig Haro adalah semburan gas dan debu dari sebuah aktivitas bintang yang baru lahir. Lontaran yang disebut jet, melintas dari kutub bintang dengan bentuk mengerucut. Mencapai kecepatan ratusan km perdetik. Debu dan gas akan menabrak debu dan gas lain di ruang antar bintang akan terlihat berwarna biru dan ungu.

Westerlund 2 adalah kelompok bintang yang kompak, saling berdekatan dan jumlahnya mencapai 3000 bintang. Rata rata bintang disana memiliki usia sangat muda, antara 1-2 juta tahun. Sebagian besar adalah bintang dengan cahaya sangat panas, paling terang. sampai paling ukurannya paling masif. WR20a menjadi bintang biner terbesar yang diketahui sampai 2007.

Satu tata surya HD131399 ini memiliki 3 bintang, bahkan ditemukan sebuah planet mengorbit disana. Tata surya HD131399 terlihat ada satu planet yang mengorbit disebut planet HD131399Ab. 2018 diumumkan disana bukan 3 bintang

Kami tidak tahu apakah ada orang yang melihat secara langsung ketika terjadi ledakan yang sangat terang tersebut. Sumber cahaya GRB 080319B berasal dari benda yang jauhnya 7,5 miliar tahun cahaya. Atau ledakan yang tercatat tersebut di tahun 2008 berasal dari ledakan 7,5 miliar tahun lalu.

Sebuah bintang tidak jauh dari bumi, bintang EBLM J0555-57Ab merupakan bintang terkecil yang pernah ditemukan. Ukurannya menakjubkan. Sementara bintang raksasa atau bintang lumayan besar seperti matahari. Yang ini hanya seukuran  planet Saturnus saja dan mengalahkan rekor sebelumnya bintang Trappist-1

Apakah Supernova. Sederhananya sebuah bintang yang meledak adalah Supernova. Bila letaknya tidak jauh dari Bumi akan tampak cahaya sangat terang. Apakah ledakan bintang berbahaya bagi manusia di Bumi, berapa jarak aman kembali di revisi



Gugus galaksi Abell 370 letaknya 6 miliar tahun cahaya. Tapi terlihat dari bumi memberikan foto berbeda dari bentuk galaksi disana  Tetapi ada gambar galaksi yang terlihat pada busur biru adalah galaksi yang lebih jauh lagi. Dan berada di belakang kelompok galaksi Abell 370

2 lubang hitam yang disebut PG 1302-102, adalah keberadaan 2 lubang hitam biner yang saling mengorbit. Jarak keduanya seperti matahari ke pluto. Tetapi dampak gravitasi keduanya terlihat begitu kuat.

Tata surya Elias 2-27 disana terdapat bintang seukuran separuh matahari kita. Terlihat sedang membentuk planet yang nantinya akan menjadi sebuah tata surya lengkap. Tapi bentuk lingkaran yang terlihat memiliki letak sangat jauh bahkan planet yang muncul mencapai 2-3 kali lebih jauh dari Pluto

Teori relativitas umum dari Einstein kembali terbukti. Yang ini bisa disebut sangat langkah, karena ditemukan tidak kebetulan. Sebuha benda yang sangat jauh dengan jarak miliaran tahun cahaya bisa tampak, bahkan yang ini disebut cincin Canarias Einstein memiliki cahaya sempurna.




No popular articles found.
< /body>