Teknologi smartphone Bezeless perang terlalu jauh dari teknologi Xiaomi kembali ke era lama


Technology | 14 October 2019

Smartphone Blackberry pertama tampil dengan tombol keyboard fisik, membuat ukuran layar jauh lebih kecil dari smartphone modern.

Smartphone Android pertama juga berukuran kecil, walau tampilan layar lebih besar tapi terbatas hanya 3 inci.

Lihat smartphone saat ini. Produsen berlomba lomba membuat bezeless.

Bingkai smartphone di buat tipis dari 2-3 mm, sampai mendekati 1 mm.





Tidak sampai disana, rangka bagian bawah smartphone dimana ditempatkan tombol Home untuk OS Android. Dihilangkan dan dpindah ke bagian layar.

 
Bagian atas untuk camera selfie hanya bertahan beberapa tahun dibuat dengan bingkai tipis.
Layar atas smartphone semakin kecil dan ramping.
Ukuran bodi smartphone mengikuti gaya Cinema 16:9, jadi lebih memanjang ke atas

Camera juga berpindah ke disain Notch. Atau camera berada di tengah layar atas. Bagian bingkai smartphone bagian atas mulai mengecil.





Disini dimulai kata Body Rasio, katanya sih dalam persentase 96%, 98% 90,5%. Yang dimaksud lebar layar mencapai perbandingan lebih besar dari bingkainya sendiri.

Satu komponen jack audio mulai di pindah ke sana kemari. Dari atas pindah kebawah, lalu menghilang, disatukan dengan jack USB. Mengapa, karena ketebalan smartphone sudah dibawah 8mm.
Ruang di dalam smartphone harus efisien, dan kapasitas baterai besar menyita tempat untuk komponen.

Tahun 2019, untuk membuat smartphone tampak menarik. Camera depan juga di gusur / hilangkan, Sidik jari di pindah ke bagian layar, bahkan ada yang ditempatkan di sisi samping bodi.



Camera depan tidak terlihat lagi. Digantikan dengan camera Pop, Flip, Rotari, sampai in-Display alias berada di dalam layar.

Perlahan bingkai smartphone sudah samar terlihat. Dengan cerita layar Curve Display, Edge Display, Water Fall screen dan lainnya.
Layar lebih menonjol di bagian atas smartphone. Sedangkan bingkai ditutup kaca pelindung.
Sekilas layar smartphone akan memenuhi semua bingkai kiri dan kanan, tersisa bagian atas dan bawah yang juga dibuat tipis.

Teknologi terbaru, produksi lebih rumit, lalu siapa yang membayar. Tentu saja kita.

Pertanyaan, apakah tahan.
Bila dahulu mengatakan smartphone jatuh, mungkin tidak se tragis smartphone model sekarang
Kadang jatuh berkali kali, layar tetap selamat alias masih utuh.

Tanpa kita sadari, lebar layar smartphone kebingkai bodi semakin luas. Bagi mereka yang bertahan dengan smartphone 3 tahun lalu, mungkin agak bingung melihat smartphone terbaru yang dirilis tahun 2018-2019.

Sekarang memiliki smartphone jangan sampai jatuh.
Ibarat seseorang pernah jatuh dan patah kaki. Dokter akan mengatakan, lompat boleh tapi jangan jatuh.

Karena produsen kaca Gorilla Glass memiliki batas daya tahan, batas kekerasan kaca pelindung smartphone dihitung berapa kali jatuh.


Jatuh pertama mungkin tidak masalah, tapi 5 kali jatuh dengan posisi yang sama. Tidak di jamin kaca tidak retak.

Bila bingkai smartphone sudah tertutup layar, artinya layar sentuh berada di seluruh bodi smartphone. Apakah mudah mengunakan smartphone yang tampak depannya adalah layar. Bagaimana kita memengang smartphone ?

Banyak perangkat dikorbankan hanya untuk layar yang katanya inovasi terbaru.
Speaker stereo saja dipindah ke belakang, kecuali speaker untuk telepon masih ada di atas, camera entah dipindah beberapa kali..
Microphone juga tidak luput diusir dari layar depan, dan dipindah ke bagian bawah.

Ketebalan smartphone
Masalah lain dari disain smartphone, produsen membuat smartphone tipis dan semakin tipis.
Apa yang dikorbankan. Tentu saja unit baterai.
Smartphone high end rata rata hanya memiliki kapasitas baterai 3700-4000mAh.

Camera semakin kecil juga menurunkan kualitas foto.
Camera bagian depan seharusnya dapat mempertahankan kualitas foto.
Pada kenyataannya, camera ukuran kecil akan sulit mempertahankan detil gambar.
Memaksa produsen merubah teknologi camera ke fitur software camera. Dari AI, Dehaze, HDR dan white balance. Mungkin fitur seperti itu masuk seperti AI Beauty.

Dampak bagi konsumen
ni semua cerita yang sama: Ketika perusahaan smartphone berusaha saling berinovasi menciptakan desain yang terlihat cantik dan tampil beda.
Kita kehilangan fungsionalitas dan inovasi sepanjang jalan, belum lagi kurangnya kenyamanan dan rasa khawatir.
Siapa yang berani menempatkan smartphone seharga 10+ juta di saku bawah.
Masalah lain apakah muat di kantung saku atas.
Jadi tidak heran bila melihat smartphone lebih sering memegang ponselnya sambil berjalan.

Smartphone dengan layar besar akan membuat kita canggung untuk digunakan. Agak lucu kalau wajah kita harus tertutup smartphone yang katanya high end dengan layar 6,5 inci.
Bahkan ketika smartphone dengan layar 6 inci sudah masuk kategore Phaplet alias smartphone tablet. Sekarang tidak ada yang mengatakan model itu, ukuran 6 inci adalah wajar.

Karena bezeless, membuat smartphone jauh lebih sulit untuk dipegang dengan nyaman. Alih alih untuk nelpon malah mengclick aplikasi secara tidak sengaja.

Bila terjatuh, atau pecah pada bagian layar, pengantian teknologi baru tersebut tidak murah. Dan konsumen akan dikenakan biaya. Tentu repot kalau harus mengasuransikan smartphone.

Apple iPhone XS memiliki disain yang cukup dekat dengan sweet spot.
Tapi layar Galaxy S10 yang baru tampil nyaris tidak ada (tidak terlihat), bezel dua milimeter hanya tampak dari samping.
IPhone XS lebih mudah dipegang, lebih mudah dibuka, dan sama bagusnya untuk dilihat.

Bezel mulai tidak terlihat sejak sensor sidik jari ditempatkan di bawah layar, dan layar semakin mengambil posisi.
Tidak lama lagi akan produsen akan mengikuti disain baru smartphone Bezeless.

Salah satu contoh disain yang dipaksakan. Apakah sensor sidik jari di layar lebih baik. Nyatanya lebih lambat, walau produsen boleh mengatakan mampu menditeksi kurang dari 1 detik. Sensor sidik jari di layar juga memiliki keterbatasan, seperti tidak mengenal dengan baik sidik jari yang kotor.


Nyatanya ada 3 teknologi sensor sidik jari mengunakan teknik berbeda.

Sensor sidik jari dalam layar mungkin terlihat futuristik, tetapi sensor ini sebenarnya mundur selangkah kebelakang.
Bagaimana dengan fitur Face Unlock smartphone, katanya bisa dipalsukan sehingga dibuatlah sensor sidik jari.

Xiaomi kembali ke smartphone dengan camera di bodi Oktober 2019
Xiaomi kabarnya telah mendaftar paten disain camera smartphone. Tidak lagi notches atau Bezelles.

Alasannya tidak murah memasukan camera ke dalam layar. Kalau dikembalikan ke bingkai maka harga smartphone lebih terjangkau.
Menarik, tentu saja. Karena harga smartphone selalu membawa biaya produksi dan konsumen menanggung semua harga komponen dari teknologi yang tidak perlu.

Dibawah ini disain smartphone Xiaomi yang mungkin kembali ke layar di bingkai smartphone.

Paten teknologi camera Xiaomi camera body smartphone

Berita terkait
Penganti WIFI 802.11ac adalah WIFI 802.11ax, seberapa cepat WIFI ax. Menawarkan kecepatan 4x dari generasi sebelumnya. Grup aliansi WIFI membuka program sertifikasi WIFI 6, setidaknya sudah masuk beberapa chip untuk koneksi WIFI yang disertifikasi

Cara kerja sensor sidik jari setidaknya mengunakan 3 teknologi berbeda. Sensor Capacitive yang umum digunakan di smartphone pemula dan menengah. Teknologi sensor sidik jari optik sebagaimodel kelas menengah ditempatkan di tengah layar. Lebih canggih sensor ultrasonik yang lebih akurat mengenal sidik jari.



Teknologi hyrid zoom camera smartphone dengan 10x pembesaran Huawei P30. Sensor IMX586 telah dikirim 2018, tampil di tahun 2019. Camera smartphone terbesar 64MP dari Samsung ISOCELL 64MP tahun 2019. Tahun 2020, layar 90hz menjadi standar, camera 108Mpix dari single camera, dan zoom.

Vivo kembangkan foto Super HDR pada smartphone. Mengambil 12 gambar bersamaan, mengabung serta mengatur cahaya foto. Hasil foto menjadi lebih tajam, warna gelap dan terang di proses dengan AI.

Perbedaan procesor PC vs procesor smartphone. Keduanya berbeda, khusus dalam tugas menangani pekerjaan dan kebutuhan. Satu dirancang untuk hemat power, yang lain untuk kalkulasi sangat komplek. Mungkin suatu hari kemampuan CPU desktop PC akan dicapai procesor smartphone.

Teknologi 3G dan 4G LTE, apakah teknologi 2G sudah di tinggalkan. Kemampuan terbatas untuk bicara serta mengirim pesan singkat dan internet lambat. Beberapa orang masih mengunakan bahkan tetap menyukai teknologi 2G dengan berbagai alasan. Apa saja alasannya




No popular articles found.