Perjalanan antariksa memang berbahaya.

Dari awal berangkat dan pulang, semuanya memiliki resiko tinggi.

Resiko gagal roket bekerja dan jatuh ketika berangkat. Kembali dari ruang angkasa harus menghadapi gesekan atmofer bumi.

Apakah manusia aman bila berada di ruang angkasa.

Tapi satu penelitian baru ini cukup menarik kita menelaah resiko berada di ruang angkasa.

Astronot Nasa Kelly total telah menghabiskan waktu 500 hari di ruang angkasa.

Karena Kelly memiliki saudara kembar Mark, keduanya kembar identik.

Astronot satu tahun di antariksa DNA berubah

Nasa mengambil contoh sebagai pembanding, apakah keduanya akan tetap sama.

Kelly Scott yang berada di ruang angkasa begitu lama, memiliki dampak dengan perubahaan DNA.



Satu misi paling panjang ketika Kelly berada 342 hari nonstop tinggal di stasiun ISS.

Mark juga pensiunan astronot. Tetapi Nasa tidak mengirim lagi Mark ke ruang angkasa, agar bisa mempelajari dampak perbedaan manusia bila terlalu lama berada di antariksa. Hasilnya memang benar ada yang berubah.

DNA Mark dan Kelly ternyata berubah cukup signifikan.

DNA Kelly atau kromosom bagian paling akhir memendek satu usia. Mayoritas bagian telomere tersebut dipersingkat dalam 2 hari setelah Kelly kembali ke Bumi.

Walau beberapa gen kembali normal, tetapi tidak semua. Sekitar 7% gen Kelly menunjukan perubahan jangka panjang (masih seperti kondisi ketika di ruang angkasa) dibanding gen saudaranya.
Perubahan tersebut bertahan selama 2 tahun sejak dia kembali dari stasiun ruang angkasa hampir 1 tahun.

93% DNA Kelly Scott kembali normal setelah mendarat, beberapa jam bahkan sampai seminggu.

Namun 7% lainnya menunjukan perubahan jangka panjang. Dan terkait dengan sistem kekebalan, perbaikan DNA, jaringan pembentukan tulang, hipoksia dan hypercapnia.

Mengapa DNA manusia berubah. Di bumi manusia terlindung oleh magnet Bumi. Semua radiasi elektron tinggi tidak dapat masuk dan dibelokan. Termasuk angin matahari sebagai energi tinggi, akan membentuk aurora di kutuh selatan dan utara. Artinya energi magnet yang sangat kuat dari angin matahari berhasil ditolak oleh bumi.

Di ruang angkasa dimana manusia tidak lagi terlindung 100% seperti tinggal di Bumi. Partikel energi tinggi dapat membombardir ruang kapsul kabin ruang angkasa. Walau sebagian besar masih dapat ditolak, tidak semuanya. Partikel yang tidak terlihat dapat menembus ruang kabin dan mengenai tubuh astronot.
Karena partikel energi tersebut dapat menembus semua benda.

Studi astronot kembar tersebut merupakan langkah awal dalam meneliti dampak manusia / astronot di antariksa. Khususnya perjalanan ke planet Mars yang membutuhkan waktu cukup lama.
.
Satu misi ke planet Mars dapat mencapai 3 tahun. Dari waktu keberangkatan sampai kembali pulang ke Bumi. Manusia atau astronot tidak dapat melakukan perjalan seperti naik pesawat. Datang naik dan turun lalu naik dan pulang ke Bumi. Disana tidak ada oksigen, kandungan atmofer Mars berisikan 95$ gas CO dan 3% gas nitrogen. Ditambah suhu super dingin mencapai -60 derajat Celcius.

Masalah terbesar, di planet Mars tidak memiliki kekuatan magnet seperti di Bumi. Berada di permukaan planet Mars sama saja seperti mandi di atas radiasi sinar gamma dan X-Ray.