Ingin kota menjadi maju. Lihatlah kota Shenzhen China.

Indonesia memiliki layanan bus TransJakarta, tapi masih mengandalkan baban bakar BBG.

Itupun diperdebatkan, harga bus yang mahal, produk dari Eropa. Walau kita tahu daya tahan bus dengan mesin BBG akan lebih murah, setidaknya tidak menimbulkan emisi gas buang berlebih seperti mesin diesel.

Bila ingin maju satu langkah, ada a di Shenzhen.

Tahun depan ada 500 taksi hijau untuk daerah bisnis, tentu saja taksi listrik. Dan menghilangkan pemakaian 116 ribu ton bahan bakar.

biskota listrik

Kota ini tidak kepalang tanggung, memiliki armada 16.359 bus dan lebih dari separuhnya te;aj mengunakan power baterai.

Diproduksi oleh perusahaan BYD yang terkenal kemampuannya membuat bis listrik di China. Dan beberapa bis listrik digunakan di bandara di Eropa.

Dengan target tahun 2020, semua armada bus kota Shenzhen akan mengunakan power listrik seluruhnya.

Perpindahan bus listrik tidak semudah membalik tangan. Pemerintah kota harus membuang lebih dari 16.000 bus bertenaga diesel.

Pengisian baterai, dibangun 510 stasiun. Dan tambahan 8.000 tiang tempat pengisian baterai.

Menurut EyeShenzhen, satu stasiun dapat mengisi power 0% sampai full charge dalam waktu 2 jam saja. Dan melayani 300 kendaraan setiap hari.

Untuk apa kota Shenzhen berinvestasi sangat mahal hanya untuk transportasi publik.

Asap, China sempat bermasalah dengan kota asap. Dengan armada bis listrik dapat menurunkan gas CO2 sampai 1,35 juta ton pertahun.

Tidak sampai disana, suara bising bis semakin menghilang. Karena separuh bis mengunakan power baterai dan tidak bising.

Manfaat lain, biaya. Sekitar 75% dapat di hemat dari pemakaian energi dibanding mengunakan bahan bakar diesel.
Untuk biaya, diperlukan subsidi sampai $490 juta atau setara 6 trilyun rupiah lebih.

Tapi biaya pemerintah untuk mensubsidi bis listrik jauh lebih baik, ketimbang membayar untuk kota yang berasap.