Topher White seorang insinyur dari San Francisco pernah mendaki dan bekerja untuk hutan Indonesia.

Idenya lahir untuk membuat alat yang dapat mendengar mesin gergaji dari penebangan liar. Dan melaporkan ke petugas taman nasional langsung dari ponsel.

White sekarang sudah berusia 35 tahun, idenya lahir ketika dia pernah mendengar suara mesin gergaji di tengah hutan.

Kondisi di Indonesia, sinyal telepon masih dapat menjangkau ke area tepi hutan lindung. Sekarang dia bisa memerangi pembalakan liar dengan mengandalkan ponsel tua.

White menempatkan telepon di beberapa pohon, dan mengambil power dari pembangkit solar cell kecil.

Bila ponsel mendengar suara mesin gergaji, tidak lama ponsel akan mengirim pesan dimana keberadaan ponsel berada.

Penebangan hutan liar di Indonesia nyaris tidak terditeksi. Karena mereka datang dari tempat yang tidak ada penduduknya, tentu saja targetnya untuk kayu di hutan lindung atau daerah konservasi alam.

Untuk membuat peralatan, White memasang dengan alat pelindung anti air. Lalu dipasangkan sebuah mikofon yang sangat sensitif terhadap suara. Dari suara yang terditeksi, dikirim kembali ke sistem internet dan di analisa dengan Cloud. Bila suara yang tertangkap adalah suara mesin gergaji, maka perangkat akan mengirim pesan ke pihak berwenang.

Memerangi pembalakan liar dengan ponsel Android

Sementara para ahli meminta pengunaan drone atau satelit untuk memantau pembalakan hutan. Tetapi teknologi tersebut tidak real-time untuk menghubungi penjaga hutan. Dengan bantuan perangkat White, maka kejadian yang terjadi akan langsung diterima oleh pihak berwenang disertai koordinat lokasi.

Hutan sangat penting bagi kehidupan, setidaknya untuk paru paru bumi. Pembalakan hutan mengakibatkan rusaknya habitat dan menyumbang perubahan iklim. Pohon mengambil gas CO2 untuk dirubah menjadi oksigen bagi manusia. Tapi deforestasi tetap terjadi dan 90% hutan tropis gundul akibat ulah pembalakan liar.

Penebang liar umumnya menargetkan spesies pohon tersendiri yang bernilai tinggi, dan hanya ada di pedalaman. Mereka memotong jalan ke dalam hutan dan mengambil kayu dan membawanya dengan truk kata White.

White sekarang menjadi pimpinan Roainforest Connection. Sebuah lembaga nirlaba dan mendapat sumbangan ponsel Android tua membantunya menjaga hutan. Orang Amerika melempar jutaan ponsel setiap tahun. Disini kesempatan White mengambil sampah ponsel dan dapat dimanfaatkan kembali sebagai alat pemantau hutan.

Satu telepon Android yang dimodifikasi dapat mendengar suara sampai wilayah 1,6km persegi. Mewakili jumlah pohon yang menyerap 15.000 ton gas CO2 atau setara menyerap gas buang dari 3000 kendaraan pertahun.
White telah memasang 100 alat di hutan termasuk di beberapa negara di Indonesia, Kamerun, Rumania, Brasil, Ekuador, Peru, NIkaragua dan Bolivia. Dan dia juga mengumpulkan ribuan dollar dari proyeknya berkat para sumbangan di internet yang dipantu bintang rock Neil Young.

White mengermbangkan teknologi lain, yang ini untuk mengejar pemburu. Alat yang dibuat dapat mendengar suara tembakan, dan mesin perahu serta gergaji mesin. Satu tempat yang dipasang ada di hutan Bolivia, dimana pihak berwenang bekerja untuk melindungi populasi jaguar yang semakin berkurang. Pemburu mencari jaguar untuk diambil bagian giginya, dan digunakan sebagai obat rematik dan penyakit lain dari pengobatan tradisional China.

White bukan satu satunya insinyur yang mengembangkan ponsel tua untuk menjaga alam. Para ahli sudah menyerukan agar masyarakat adat dapat mengunakan ponsel selular untuk memantai penebangan liar. Masyarakat dapat mengawasi dengan camera telepon dan mencatat lokasi melalui GPS. Lalu mengirim ke pihak berwenang untuk ditangkap.

Witness salah satu badan sosial berbasis di New York ikut melatih orang mengunakan camera video dengan smartphone. Fungsinya untuk memantau kejahatan dimana badan tersebut bekerja sama dengan kelompok hak asasi manusia dan lingkungan.  Baru baru ini Witness meluncurkan kampanye memerangi pengundulan hutan di hutan Amazon. Mereka bahkan memberikan pesawat drone, telepon sesluar dan telepon satelit ke masyarakat adat untuk mendokumentasikan pembalakan liar.



Info lebih lanjut dari Rainforest Connection

Juli 2017
Payments for Ecosystem Services (PES) melakukan percobaan untuk mengurangi pembalakan liar. Di beberapa kota seperti Uganda, Kosta Rika dan Meksiko.

Upaya PES akhir terbayarkan, bagaimana layanan ini berhasil menghalau penebangan liar.

2 tahun lalu PES meminta bantuan ke 120 desa di Uganda. Separuh penduduk diberikan dana untuk melestarikan hutan di tempat mereka. Tapi sebagian lagi tidak.
Percobaan secara acak ini untuk konservasi hutan. Satu hektar tanah diberikan $28 setiap tahun. Dan peneliti terus memantau seberapa banyak hutan yang ditebang mengunakan pengamatan sistem satelit dan memantai setiap pohon di daerah yang diawsi.

Masyarakat tahu, hutan itu baik tapi kebutuhan memaksa mereka menebang hutan. Menebang pohon atau mendapatkan $30 dan biaya sekolah anak mereka. Pilihan tersebut diberikan ke masyarakat, agar mereka membiarkan pohon tetap ada disana tapi hidupnya disubsidi oleh yayasan PES.

Uang memang berbicara bagi masyarakat miskin. Dengan mengeluarkan biaya $200 saja selama 2 tahun maka keuntungan yang didapat bagi dunia $500.

Vietnam tanam bibit pohon akasia
Di kaki pegunungan Annamite Vietnam terdapat ratusan hutan kecil yang bergabung untuk menghasilkan tanaman akasia. Sehingga dapat digunakan untuk kayu furnitur dan dijual ke seluruh dunia.
Le Thi Thuy Nga manajer perusahaan mengatakan semua kita sebar dari pohon induk yang di simpan akademi ilmu kehutanan di Hanoi. Dengan kelangsungan hidup 99%, efektif mengandakan produktivitas perkebunan.
Pembibitan sudah dimulai sejak berakhirnya perang, ketika hutan rusak akibat penebangan liar. Bahkan hampir tidak ada hutan primer yang tidak disentuh oleh pembalakan hutan.

Pemerintah Vietnam berhasil mensertifikasi 500 juta dari 6,6 juta hektar hutan produksi yang nantinya akan memenuhi permintaan pasar. Perusahaan pemotong kayu dan furnitur dapat mengunakan kayu akasia yang bersetifikasi FSC seperti yang diminta pelanggan.
Vietnam menjadi pemasuk langganannya ke Scansia Pacific. Dan perusahaan tersebut mengunakan kayu untuk perabotan rumah tangga untuk Ikea.

Memerangi 
pembalakan liar harga kayu resmi lebih menguntungkan

Bagaimana dengan pengelola perkebunan kecil. Dibanding Scansia dan Ikea, mereka berbagi biaya dan tanggung jawab. Didukung oleh WWF bersama asosiasi kelestarian hutan - Fosda pengelola 241 hutan di Thua Thien Hue. Di propinsi ini kayu menjadi legal karena ditanam oleh pemiliknya sendiri, dan jumalhnya mencapai 4000 ribu hektar pohon akasia. 951 hektar dimiliki oleh anggota Fosda.
Setahun mereka yang memiliki 1 hektar hutan kayu memiliki penghasilan $1320 perhektar dan sudah bersertifikasi FSC. 2x lipat dibanding harga kayu tanpa sertifikasi.
Kayu akasia dikelola sebuah perusahaan, hanya menerima kayu 100% dengan sertifikasi. Dari pabrik pemotongan ini dikirim ke perusahaan Scansia yang menjadi pemasok Ikea.
Dengan langkah badan swasta yang membantu pemilik perkebunan, nilai tambah kayu yang bersertifikasi lebih menguntungkan dibanding membabat hutan.