Mundur 9 tahun ke belakang, pendaki gunung profesional dan pemandu gunung Adrian Ballinger telah mendaki beberapa kali puncak Everest.

6 kali dia mencapai puncak tertinggi, bahkan 2 kali dicapai dalam waktu 3 minggu.

Dia seorang petualang yang rajin, dan membedakan para pendaki lain yang setiap tahun mencapai puncak Everest. Karena dia mengunakan teknik tersendiri.

Adrian Ballinger dan rekannya Cory Richards menjadi berita tahun lalu, karena keduanya malah Snapchat ketika menuju puncak dengan jaringan 3G wireless (bukan telepon satelit).

Tahun ini duo ini akan bermitra dengan produsen pakaian dan timnya. Harapannya dapat mencapai Everest di bulan April dan sudah mencapai puncak pada bulan Mei.

Gunung Everest pendaki sebagai penguji produk

Mereka tidak saja mendaki ke puncak Everest. Keduanya harus menguji pakaian pendaki untuk daya tahan baju dingin bersama Eddie Bauer, sebelum produk dipasarkan.

Nama Richard memiliki reputasi naik ke puncak Everest tahun lalu, dan bersama Ballinger yang turun tanpa oksigen tambahan. Baju dingin yang diuji untuk pendakian ini juga unik. Dibuat seringan mungkin, tapi akan di coba seberapa tahan menghadapi suhu ekstrim di Everest. Mereka bertugas melihat mana yang berfungsi dan bagian apa yang tidak berfungsi.

Selain tim sponsor yang membiayai mereka. Satu lagi produsen akan menguji jam Fenix 5 terhubung ke aplikasi Strava dan dicoba di Everest. Melihat pengalaman tahun lalu jam Richard mati ketika melakukan pendakian. Tujuan pengujian jam tersebut untuk mencatat kondisi para pendaki dengan teknologi canggih. Sensor detak jantung, ketinggian, kecepatan bergerak nantinya dapat dicatat oleh teknologi. Sehingga para pendaki dapat mengetahui kondisi tubuh mereka dengan teknologi digital.

Ketika produsen mencari orang yang cocok untuk mempromosikan produk mereka. Seperti atlit lari, basket,  pesepeda, renang dan lainnya. Sekarang beberapa produk teknologi melirik bidang pendakian. Membuat para pendaki menjadi olahragawan dan menempatkan mereka sebagai penguji.