Kerja lembur tidak membuat produktivitas meningkatSeorang mahasiswa belajar giat untuk mendapatkan nilai tertinggi. Siapa tahu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah. Tapi bagi pekerjaan mungkin berbeda.

Sebuah studi menunjukan orang bekerja kurang lebih untuk mendapatkan kenaikan gaji atau bonus, dibanding orang yang bekerja seperti biasa.

Cerita dari Nomimizu yang pindah dari Birmingham Inggris dan kembali ke Tokyo. Keluarga dari pekerja mulai khawatir jangan jangan dia menghilang dari peradaban dan terus bekerja dari pagi sampai larut malam.

Untuk menyakinkan keluarganya dia mendokumentasikan selama satu minggu dari hidupnya yang disebut Salaryman di bisnis jasa keuangan di Tokyo dan diposting secara online

Laporan yang dilihat sudah ditonton 1 juta kali. seminggu sibuk di tahun 2015, dari bulan Januari sampai Maret. Total 78 jam bekerja, 35 jam tidur dari Senin sampai Sabtu. Dibanding waktu sebelumnya dia hanya bekerja 6 jam setiap hari selama seminggu. Suatu hari dia pingsan di apartemennya.

Kenyataannya memang benar. Bekerja marathon sudah membudaya di Jepang dan disebut Karoshi atau secara harafiah "kematian terlalu banyak bekerja".

Kementerian Kesehatan Jepang melaporkan, 1 dari 4 perusahaan memiliki beberapa karyawan yang bekerja 80jam + lembur perbulan. Bila bekerja di Jepang, karyawan dibawahnya memiliki budaya untuk tidak meninggalkan kantor mereka. Seorang pekerja muda mengatakan, bila anda pulang kantor terlebih dahulu, anda tidak akan dilihat sebagai pemain tim.

Di Jepang, orang tidur di kereta MRT adalah umum. Banyak pimpinan perusahaan dan karyawan  mempertahankan jam kerja yang panjang. Bos ada di ruang kantor, jangan berharap ada karyawan  pulang lebih dahulu. Jadi seperti lingkaran setan, bila bos tertinggi tidak mau pulang apakah semua tidak boleh pulang.
Ditambah biaya sewa rumah di pusat kota Tokyo atau Osaka, pekerja memilih tinggal di pinggiran kota. Dampaknya perjalanan menjadi lebih panjang. Bahkan internet cafe dibuat untuk tempat tinggal.

Apakah pekerja yang lembur lebih produktif.
Nomimizu tidak berpendapat demikian. Memang ada bukti bahwa bekerja lebih lama tidak saja membahayakan kesehatan kita. Tapi berbalik merugikan karir kita dan merendahkan produktivitas perusahaan.

Dibanding negara lain, Amerika memiliki 47 jam kerja seminggu, 1 hari lebih lama dari waktu kerja  "9-5". Dan 1 dari 5 pekerja mendapatkan 60 jam atau lebih selama seminggu. Tapi mereka mengejar yang disebut bonus, bila telah bekerja selama 3 tahun.

Disini pendapat menarik. Penulis buku dan ahli manajemen Laura Vanderkam mengatakan, terserah otak anda dibuat dari apa, tidak dapat bekerja tanpa batas. Bahkan lebih buruk bila mendorong melewati batas dirinya, akan melakukan banyak kesalahan.

Studi universitas Stanfor tmendapatkan kinerja karyawan akan menurun tajam bila memasuki waktu 50 jam bekerja setiap minggu. Bahkan 70 jam seminggu si pekerja tidak menghasilkan apa-apa dibanding mereka yang mendapat tambahan jam kerja sampai 14 jam. Yang terjadi kelelahan, seperti kasus pekerja di Jepang.

Beberapa perusahaan sudah merubah budaya mereka.
Toyota sekarang membatasi waktu jam lembur. Setahun tidak lebih dari 360 jam jam lembur. atau rata rata 30 jam perbulan.
Perusahaan agen iklan Dentsu merilis rencana membuat liburan kantor, dan lampu kantor dimatikan jam 10 malam. Setelah satu kasus ada karyawan yang lompat dan tuing.
BMW dan Volkswagen membatasi koneksi email diluar jam kantor, untuk menyesuaikan kebiasaan karyawan online dengan hiper-konektivitas.
Perusahaan keuangan Credit Suisse dan JPMOrgan mengeluarkan panduan baru untuk mencengah analis dan rekan kerjannya datang ke kantor pada akhir pekan.

Vanderkam mengingatkan, ketika anda menjalankan mesin tanpa perawatan. Akan beresiko mogok dari waktu ke waktu bahkan mogok pada saat yang tidak tepat. Tampaknya banyak perusahaan mulai menyadari keadaan mesin mogok bisa terjadi dengan manusia.