Peraturan baru oleh 2 kota di China, Shanghai dan Beijing akan mengenakan hukuman bila pengemudi taksi online bukan penduduk asli kedua kota.

Masalahnyanya disana ada 2 layanan taksi online yaitu Uber dan Didi.

Bila pengemudi taksi online tidak dapat menunjukan dokumen mereka tinggal, maka mereka tidak boleh menjadi pengemudi taksi online.

Beijing memberikan waktu sampai 5 bulan kedepan, tapi Shanghai akan memberlakukan aturan tersebut segera.

Banyak pekerja migran datang dari desa ke kota kota besar. Anak anak merakit iphone dan industri lainnya dilakukan oleh orang pinggiran kota.

Driver Didi di kota Shanghai saja jumlahnya tidak kepalang tanggung, 410.000 pengemudi. Tapi kurang dari 10.000 driver yang memiliki dokumen resmi sebagai penduduk kota dan mengantongi dokumen yang disebut Hukou. Dengan aturan tersebut para pekerja migran harus keluar dari pekerjaannya.
Tidak jelas bagaimana pemerintah kota mengatur dan pelaksanaannya di lapangan. Terlihat sangat keras dengan penduduk dari luar kota. Tapi Beijing memang memiliki masalah polusi. Menjadi salah satu kota dengan kabut asap, dan terus berulang terjadi. Disamping banyak pabrik berada di pinggiran dalam kota masih mengunakan energi batu baru.

Perusahaan taksi online Didi percaya pemerintah daerah dapat memastikan kelancaran transisi. Bagaimana bila pemberlakukan aturan tersebut dilaksanakan. Pengemudi akan dikenakan denda sangat besar, mencapai $1440 bila mereka terus memaksakan menjadi pengemudi taksi online. Tidak jelas apakah perusahaan Didi berani menanggung denda sebanyak itu.

Jakarta misalnya tidak membatasi lagi armada taksi tapi jumlah taksi resmi turun hanya separuh armada, dibanding sebelum taksi online muncul. Data tersisa sekitar 29 ribu driver taksi di Jakarta atau tersisa 40%, Sisanya adalah taksi argo dari ijin taksi di Bekasi, Bogor dan Tanggerang. Taksi resmi yang terdaftar di Jakarta hanya 27.400 driver taksi resmi dengan 10.000 kendaraan, bila di total sekitar 40.000 driver taksi saja.
Tidak tercatat jumlah driver taksi online yang ada di Jakarta, tapi angkanya diperkirakan mencapai 34.000 driver.