Ketika informasi hanya di dapat dari media TV, radio atau ponsel dengan SMS. Sebuah berita menjadi lebih akurat, karena dipubliklasi oleh media resmi atau teman sampai keluarga yang menerima SMS akan saling mengenal dan mengetahui sumber berita.

Di era digital dimana semua berita dapat terhubung ke internet, siapa saja dapat mempublikasikan apa yang mereka ketahui. Media sosial, Messenger menjadi media penyebaran berita. Termasuk berita yang salah.

Kadang membuat cerita konyol dan membuat sakit jantung yang membaca. Karena isu isu yang dikeluarkan nyaris tidak masuk akal. Baik sekedar lelucon, hiburan, sampai berita politik. Bagi mereka yang mengenal dunia IT tentu dapat memeriksa lebih teliti dengan memeriksa dari nara sumber lain. Bila tidak yakin mereka akan mengabaikan dan tidak perlu meneruskan sebuah kabar ke orang lain.

Tapi sebagian orang dapat diyakinkan bahwa berita yang mereka baca memang asli bahkan tidak memeriksa ulang dari mana sumber berita yang disebutkan. Kelompok seperti ini yang membuat berita menjadi viral di dunia internet

Ibarat kata, era digital adalah era Copy Paste. Baca, ketik kembali, dan tambahkan komentar. Mendadak berita menjadi panas dan menarik orang. Dunia ini seperti kurang hiburan sampai berita palsu juga di yakini benar. Bahkan membuang energi kita dengan hal tong kosong.

Google dan Facebook mulai gerah dengan berita palsu. Kedua perusahaan yang memiliki jaringan media sosial sudah menyiapkan pembersihan bila ada yang memposting berita palsu termasuk dari media resmi.

Bagaimana membuat berita menjadi viral yang menghebohkan. Sebenarnya siapa saja bisa melakukan, dan yang paling "gila" semua berita dapat disebar tanpa bukti sekalipun. Asal ngetik, bikin video yang di edit, mendadak bisa menjadi berita nasional. Tinggal disisi orang lain yang membaca, bila mereka percaya maka berita pastinya akan berlanjut disebarkan.

Tapi jangan lupa sekarang ada aturan hukum yang berlaku. Bila salah mempublikasikan berita, atau ngarang seenaknya, urusannya akan panjang. Setidaknya bersiap menghadapi ancaman maksimal 6 tahun....
Berita palsu di internet sangat mudah membodohi kita.

Tapi apa benar begitu mudahnya berita palsu / berita yang salah bahkan dapat dipercaya orang lain.
Media NYT mengutip sumber postingan mantan marketing Eric Tucker. Di account Twitternya hanya memiliki 40 follower. Dia mengirim berita bahwa ada demo bayaran terhadap capres Trump dilengkapi dengan gambar sejumlah bus besar

Apa yang terjadi setelah dia memposting di Twitter , dan ternyata berita salah. Di media Twitter kembali disebar sampai 16.000 kali, dan 350.000 kali di Facebook. Pada kenyatannya tidak ada demo yang disebutkan diatas.

Eric mengakui berita yang salah dan sudah dihapus, tapi berita tersebut terlanjur beredar di internet. Disini bisa dibayangkan, kecepatan sering diutamakan sebagai "kebenaran". Observasi masyarakat begitu cepat dan melihat lalu menjadi pusat berita, walau beritanya salah alias palsu.

Eric sudah mencari berita di internet tentang demo anti Trump, ternyata tidak ada di media lain. Jadi dia sendiri yang salah memposting dan menghapus beritanya.

Lalu sejumlah bus itu untuk apa, katanya disewa perusahan Tableau Software untuk konferensi mereka yang jumlah pesertanya mencapai 13 ribu peserta. Lucunya lagi, Eric tidak menyangka Twitternya sampai melebar luas.

Cerita lucu si Eric tidak berhenti disitu. Di Reddit sudah terlanjur meledak menjadi sumber berita bebas (kadang tidak dapat dipertanggung jawabkan) masuk di kolom Breaking.
Dalam hitungan jam, beritanya masuk ke media dan terus menyebar oleh penguna internet.

Berita palsu di internet begitu mudah membodohi kita

Berita Eric hanya diawali dari beberapa temannya yang ada di Twitter, tapi dampaknya begitu luas.

Hati hati menyebarkan berita yang tidak akurat, terlebih berita yang sedang tren di masyarakat. Karena kecepatan internet begitu cepat, salah click dan terlanjur di bagikan dan tidak mudah dihentikan oleh si pembuat berita.

Berita palsu di News Facebook
Berita lain adalah kantor berita palsu. Biasanya pembaca melihat nama domain seperti akhiran com dibelakangs sebuah berita. Berita di News Facebook juga terkena dampaknya, dan dibaca oleh member Facebook.
Bagaimana mengenali kantor berita palsu yang masuk di News Facebook. Kita dapat melihat nama belakang situs yang tidak dikenal walau terlihat mirip
Kantor berita Amerika sering dipalsu dengan nama belakang yang berbeda. Beberapa contoh nama yang digunakan seperti ABCnews.com.co atau MSNBC.co.
Co adalah nama situs untuk negara Kolombia, kelihatannya sepele tapi siapa saja bisa tertipu membaca berita dari kantor berita palsu.

Ciri lain mengunakan Breaking, atau Breaking News dengan huruf besar. Artinya berita tersebut signifikan dan perlu dibaca. Tapi lagi lagi itu si pembuat berita yang lebai agar menarik perhatian netter.

Pembuat berita seperti dibawah ini cukup dengan modal membuat website agar berita yang ditampilkan terlihat asli. Facebook mulai membersihkan nama domain yang mencurigakan karena dianggap meresahkan pembaca di layanan News Facebook

Berita palsu News Facebook juga bermodal

Giliran Google, Facebok, Twitter dan Microsoft telah membuat database bersama. Kali ini adalah melacak sidik jari digital dari akun konten teroris. Antar layanan sekarang dapat berbagi Hash dari konten ekstrim dan dihapus. Ketika sebuah konten dihapus akan masuk ke daftar database bersama. Sehingga layanan lain dapat berpartisipasi menghapus konten berbahaya yang ada di layanan lain.

April 2017
Cerita berita palsu di laut Hitam, dimana pesawat Rusia berulang kali menayangkan gambar kapal perusak Donald Cook milik Amerika. Berita di tahun 2014 tersebut sebenarnya sudah di pelintir oleh salah satu media utama di Rusia.

Menceritakan sebuah pesawat tempur milik Rusia mampu terbang tanpa terditeksi oleh radar kapal perusak. Tidak itu saja, pesawat dapat menonaktifkan sistem radar Donald Cook. Tapi berita tersebut hanya berita palsu.

Bagaimana sebuah berita dari Rusia akhirnya sampai dan diberitakan kembali ke media Amerika Fox News.

Salinan berita dari Dmitri Sedov menulis opini bahwa perang elektronik membuat kepanikan awak kapal perang Amerika. Bahasanya memang jelas, seperti propaganda Soviet yang agak aneh. Berita sampai disebarkan ke Facebook, dengan kata bahasa yang  mudah dikenali seperti "Rasa Malu" atau "Aegis"

Salinan sampai di media Rossiya 1 yang dikontrol Rusia. Tertanggal 15 April 2017, menceritakan insiden di tahun 2014 tersebut. Ceritanya menjadi sebuah pesawat Rusia melintas di depan kapal perusak Amerika, dan mengaktifkan gelombang radio elektronik yang kuat dan menonaktifkan sistem kapal perusak.
Sumber berita palsu yang sama di tahun 2014 dari sebuah website parodi
Kembali di sadur dengan sebagai tautan berita untuk memperkuat berita sebelumnya dan muncul kembali di Facebook tahun 2014
Sampai kembali muncul April 2017 di media TV Rossiya 1. Kembali diberitakan di media Sun dengan menambahkan Bom Elektronik, muncul di Fox dan kembali menyebar di media sosial.

Dunia yang aneh. Sementara yang lain damai, tapi berita sentimen di tahun 2014 dapat kembali menjadi berita baru dan dipercayai sebagian orang.


Berita palsu dari postingan ke Facebook sampai ke Media


Mei 2017
Berita di Whatsapp menyebabkan kerusuhan di India, dan 7 orang meinggal percuma akibat 2 serangan kekerasan. Dipicu hal sederhana dari berita palsu di Whatsapp.
Minggu ke 3 bulan Mei ada berita mengatakan orang asing di daerah Jharkhand India menculik anak anak, dan masyarakat mulai mencari berdasarkan berita tersebut. Polisi setempat bahkan tidak mendapatkan laporan tentang anak hilang. Lucunya laporan dari harian Hindustan Times menanyakan darimana mereka mempercayai berita tersebut. Kepolisian langsung bertindak untuk mencari si penyebar rumor konyol yang telah mengakibatkan korban.

Juli 2017
Admin grup Whatsapp ditangkap di India. Setelah di grup Whatsapp The Balse Boys terdapat penyebaran gambar perdana mentri India di edit dan dibuat tidak pantas. 2 minggu setelah hakim India mengumumkan pengaturan peraturan baru yang melarang penguna Whatsapp menyebarkan berita palsu. Sekarang Admin Whatsapp akan diminta bertanggung jawb atas penyebaran konten.