September 2017
Negara paling khawatir dengan berita Hoax adalah Brasil.
Data dari BBC Brasil tahun 2016, 3 dari 5 berita yang disebar melalui facebook adalah berita bohong atau salah. Dan masyarakat ikut terpengaruhi dengan berita palsu tersebut.
Di negara maju Jerman juga mengalami masalah, walau masyarakat yang khawatir jauh lebih sedikit.

masyarakat yang paling khawatir dengan berita hoax


Agustus 2017
Bumi gelap 15 hari pada bulan November 2017. Disebut mendapatkan dokumen dari Nasa.
Cerita tersebut diawali dari sebuah media Newswatch 33 media (palsu) tapi halaman web seperti media resmi. Bumi akan gelap selama 15 hari.
Berita yang sama pernah muncul di tahun 2015, kali ini di daur ulang.
Apakah benar bumi akan gelap selama 15 hari, katanya fenomena langka dari pergerakan Venus dan Jupiter. Terserah apa yang disebut pengarang cerita tersebut. Jangan percaya, itu hanya cerita lucuan.

Pemilu Jerman atau Bundestagswahl 2017 pada tanggal 24 September, layanan Facebook di Jerman telah memblokir puluhan ribu akun palsu. Tindakan tersebut untuk melindungi gangguan kampanye yang berlangsung di media sosial.
Informasi yang diblokir seperti berita spam, salah informasi, atau konten menyesatkan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang membuat akun palsu di media sosial.
Febook juga bekerja sama dengan kantor federal setempat untuk melibatkan keamanan seperti otentikasi akun. Dimana akun media sosial dari kandidat atau partai mengunakan 2 sistem keamanan.
Menariknya banyak akun palsu tersebut tidak dikendalikan oleh bot (istilah robot otomatis memposting di media sosial), tetapi ada orang yang melakukan. Tujuannnya untuk menganggu atau distorsi ke wacana publik melalui jejaring sosial.
Beberapa waktu lalu, Facebook sudah melakukan pengamanan seperti filter berita memerangi berita palsu atau Hoax.
Kasus di luar negeri mugnkin akan berdampak pada pemilihan kepala daerah di Indonesia. Siapa saja yang tidak suka atau ada tujuan lain, dapat membiaskan berita ke media publik. Caranya sangat mudah, dengan membuat berita di media sosial saja.

Juli 2017
Admin grup Whatsapp ditangkap di India. Setelah di grup Whatsapp The Balse Boys terdapat penyebaran gambar perdana mentri India di edit dan dibuat tidak pantas. 2 minggu setelah hakim India mengumumkan pengaturan peraturan baru yang melarang penguna Whatsapp menyebarkan berita palsu. Sekarang Admin Whatsapp akan diminta bertanggung jawb atas penyebaran konten.

Mei 2017
Berita di Whatsapp menyebabkan kerusuhan di India, dan 7 orang meinggal percuma akibat 2 serangan kekerasan. Dipicu hal sederhana dari berita palsu di Whatsapp.
Minggu ke 3 bulan Mei ada berita mengatakan orang asing di daerah Jharkhand India menculik anak anak, dan masyarakat mulai mencari berdasarkan berita tersebut. Polisi setempat bahkan tidak mendapatkan laporan tentang anak hilang. Lucunya laporan dari harian Hindustan Times menanyakan darimana mereka mempercayai berita tersebut. Kepolisian langsung bertindak untuk mencari si penyebar rumor konyol yang telah mengakibatkan korban.

April 2017
Cerita berita palsu di laut Hitam, dimana pesawat Rusia berulang kali menayangkan gambar kapal perusak Donald Cook milik Amerika. Berita di tahun 2014 tersebut sebenarnya sudah di pelintir oleh salah satu media utama di Rusia.

Menceritakan sebuah pesawat tempur milik Rusia mampu terbang tanpa terditeksi oleh radar kapal perusak. Tidak itu saja, pesawat dapat menonaktifkan sistem radar Donald Cook. Tapi berita tersebut hanya berita palsu.

Bagaimana sebuah berita dari Rusia akhirnya sampai dan diberitakan kembali ke media Amerika Fox News.

Salinan berita dari Dmitri Sedov menulis opini bahwa perang elektronik membuat kepanikan awak kapal perang Amerika. Bahasanya memang jelas, seperti propaganda Soviet yang agak aneh. Berita sampai disebarkan ke Facebook, dengan kata bahasa yang  mudah dikenali seperti "Rasa Malu" atau "Aegis"

Salinan sampai di media Rossiya 1 yang dikontrol Rusia. Tertanggal 15 April 2017, menceritakan insiden di tahun 2014 tersebut. Ceritanya menjadi sebuah pesawat Rusia melintas di depan kapal perusak Amerika, dan mengaktifkan gelombang radio elektronik yang kuat dan menonaktifkan sistem kapal perusak.
Sumber berita palsu yang sama di tahun 2014 dari sebuah website parodi
Kembali di sadur dengan sebagai tautan berita untuk memperkuat berita sebelumnya dan muncul kembali di Facebook tahun 2014
Sampai kembali muncul April 2017 di media TV Rossiya 1. Kembali diberitakan di media Sun dengan menambahkan Bom Elektronik, muncul di Fox dan kembali menyebar di media sosial.

Dunia yang aneh. Sementara yang lain damai, tapi berita sentimen di tahun 2014 dapat kembali menjadi berita baru dan dipercayai sebagian orang.


Berita palsu dari postingan ke Facebook sampai ke Media


Ketika informasi hanya di dapat dari media TV, radio atau ponsel dengan SMS. Sebuah berita menjadi lebih akurat, karena dipubliklasi oleh media resmi atau teman sampai keluarga yang menerima SMS akan saling mengenal dan mengetahui sumber berita.

Di era digital dimana semua berita dapat terhubung ke internet, siapa saja dapat mempublikasikan apa yang mereka ketahui. Media sosial, Messenger menjadi media penyebaran berita. Termasuk berita yang salah.

Kadang membuat cerita konyol dan membuat sakit jantung yang membaca. Karena isu isu yang dikeluarkan nyaris tidak masuk akal. Baik sekedar lelucon, hiburan, sampai berita politik. Bagi mereka yang mengenal dunia IT tentu dapat memeriksa lebih teliti dengan memeriksa dari nara sumber lain. Bila tidak yakin mereka akan mengabaikan dan tidak perlu meneruskan sebuah kabar ke orang lain.

Tapi sebagian orang dapat diyakinkan bahwa berita yang mereka baca memang asli bahkan tidak memeriksa ulang dari mana sumber berita yang disebutkan. Kelompok seperti ini yang membuat berita menjadi viral di dunia internet

Ibarat kata, era digital adalah era Copy Paste. Baca, ketik kembali, dan tambahkan komentar. Mendadak berita menjadi panas dan menarik orang. Dunia ini seperti kurang hiburan sampai berita palsu juga di yakini benar. Bahkan membuang energi kita dengan hal tong kosong.

Google dan Facebook mulai gerah dengan berita palsu. Kedua perusahaan yang memiliki jaringan media sosial sudah menyiapkan pembersihan bila ada yang memposting berita palsu termasuk dari media resmi.

Bagaimana membuat berita menjadi viral yang menghebohkan. Sebenarnya siapa saja bisa melakukan, dan yang paling "gila" semua berita dapat disebar tanpa bukti sekalipun. Asal ngetik, bikin video yang di edit, mendadak bisa menjadi berita nasional. Tinggal disisi orang lain yang membaca, bila mereka percaya maka berita pastinya akan berlanjut disebarkan.

Tapi jangan lupa sekarang ada aturan hukum yang berlaku. Bila salah mempublikasikan berita, atau ngarang seenaknya, urusannya akan panjang. Setidaknya bersiap menghadapi ancaman maksimal 6 tahun....
Berita palsu di internet sangat mudah membodohi kita.

Tapi apa benar begitu mudahnya berita palsu / berita yang salah bahkan dapat dipercaya orang lain.
Media NYT mengutip sumber postingan mantan marketing Eric Tucker. Di account Twitternya hanya memiliki 40 follower. Dia mengirim berita bahwa ada demo bayaran terhadap capres Trump dilengkapi dengan gambar sejumlah bus besar

Apa yang terjadi setelah dia memposting di Twitter , dan ternyata berita salah. Di media Twitter kembali disebar sampai 16.000 kali, dan 350.000 kali di Facebook. Pada kenyatannya tidak ada demo yang disebutkan diatas.

Eric mengakui berita yang salah dan sudah dihapus, tapi berita tersebut terlanjur beredar di internet. Disini bisa dibayangkan, kecepatan sering diutamakan sebagai "kebenaran". Observasi masyarakat begitu cepat dan melihat lalu menjadi pusat berita, walau beritanya salah alias palsu.

Eric sudah mencari berita di internet tentang demo anti Trump, ternyata tidak ada di media lain. Jadi dia sendiri yang salah memposting dan menghapus beritanya.

Lalu sejumlah bus itu untuk apa, katanya disewa perusahan Tableau Software untuk konferensi mereka yang jumlah pesertanya mencapai 13 ribu peserta. Lucunya lagi, Eric tidak menyangka Twitternya sampai melebar luas.

Cerita lucu si Eric tidak berhenti disitu. Di Reddit sudah terlanjur meledak menjadi sumber berita bebas (kadang tidak dapat dipertanggung jawabkan) masuk di kolom Breaking.
Dalam hitungan jam, beritanya masuk ke media dan terus menyebar oleh penguna internet.

Berita palsu di internet begitu mudah membodohi kita

Berita Eric hanya diawali dari beberapa temannya yang ada di Twitter, tapi dampaknya begitu luas.

Hati hati menyebarkan berita yang tidak akurat, terlebih berita yang sedang tren di masyarakat. Karena kecepatan internet begitu cepat, salah click dan terlanjur di bagikan dan tidak mudah dihentikan oleh si pembuat berita.

Berita palsu di News Facebook
Berita lain adalah kantor berita palsu. Biasanya pembaca melihat nama domain seperti akhiran com dibelakangs sebuah berita. Berita di News Facebook juga terkena dampaknya, dan dibaca oleh member Facebook.
Bagaimana mengenali kantor berita palsu yang masuk di News Facebook. Kita dapat melihat nama belakang situs yang tidak dikenal walau terlihat mirip
Kantor berita Amerika sering dipalsu dengan nama belakang yang berbeda. Beberapa contoh nama yang digunakan seperti ABCnews.com.co atau MSNBC.co.
Co adalah nama situs untuk negara Kolombia, kelihatannya sepele tapi siapa saja bisa tertipu membaca berita dari kantor berita palsu.

Ciri lain mengunakan Breaking, atau Breaking News dengan huruf besar. Artinya berita tersebut signifikan dan perlu dibaca. Tapi lagi lagi itu si pembuat berita yang lebai agar menarik perhatian netter.

Pembuat berita seperti dibawah ini cukup dengan modal membuat website agar berita yang ditampilkan terlihat asli. Facebook mulai membersihkan nama domain yang mencurigakan karena dianggap meresahkan pembaca di layanan News Facebook

Berita palsu News Facebook juga bermodal

Iklan rasis di media sosial, diumumkan Oktober 2017
Tidak hanya di Indonesia dimana internet memplintir berita asli menjadi berita salah.
Amerika juga kebanjiran perkataan rasis untuk memecah kebangsaan Amerika, khususnya Facebook. Bahkan telah beroperasi selama 2 tahun, dari 3000 iklan rasis dan sangat jelas pemiliknya dari perusahaan peneliti iklan internet dari Rusia. Terakhir Facebook memberikan informasi sekitar 2.200 tayangan iklan masuk dari perusahaan lain.
Iklan dengan wanita berkulit hitam sedang membersihkan senjata tapi tidak memasukan peluru, Gambar Hilarry clinton di jeruji besi, iklan yang mengunakan kata kasr, gambar imigran ilegal dan lainnya.
Tidak sampai disana, tayanang tersebut bukan berisi konten negatif tapi iklan. Bahkan mengunakan target dari usia yang melihat, jenis kelamin dan lainnnya.
Intinya propaganda rasis untuk mengeksploitasi perpecahan bangsa, yang konon pembuatnya dari negara Rusia. Tetapi pemerintah Rusia menyatakan tidak terlibat dengan konten atau tayangan iklan tersebut.
Tetapi dari Facebook menyebut iklan tersebut dapat lolos dari penyaringan.

Google pertama kali mengungkap bukti ada perusahaan Rusia yang menyebarkan berita yang salah atau diplintir seperti berita resmi di Pemilu 2016.
Google menemukan puluhan ribu dollar dihabiskan oleh salah satu perusahan iklan dari Rusia.
Iklan yang ditampilkan untuk menyebarkan informasi yang salah (disinformasi). Dan tayang di produk Google, termasuk Youtube. Serta tampil di Google Search, gmail dan lainnya.
Penemuan Google ini juga penting, setelah satu perusahaan iklan dari Rusia lain yang membeli slot iklan di Facebook. Kedua perusahaan iklan tersebut berbeda.

Google awalnya tidak memperhatikan adanya campur tangan dari media di Rusia dengan Pemilu di Amerika kata juru bicara Google Andrea Faville.
Walau perusahaan Google terus memantai tayangan penguna dan mengawasi bila ada perusahaan yang menayangkan iklan yang melanggar aturan. Seperti kata rasis, politik dan usia masuk daftar pengawasan perusahaan Google. Sementara Google tidak melihat bukti bahwa jenis kampanye ternyata tayang di platform mereka.

Walau demikian, Google tetap melakukan penyelidikan. Karena kongres Amerika menekan perusahaan teknologi untuk mengetahui bagimana sebuah perusahaan media Rusia dapat masuk ke jaringan media sosial, tayangan iklan online bahkan alat digital lainnya. Dan dapat mempengaruhi pemilihan presiden 2016 lalu. Sampai akhirnya memicu perselisihan masyarakat.
Perusahaan yang menyebarkan berita salah dari Rusia tersebut dikabarkan menghabiskan dana sampai $100.000.
Google masih memilah apakah semua iklan berasal dari satu atau beberapa akun milik perusahaan Rusia.

Para politisi menghabiskan dana sekitar $100.000. Seperti kampanye Donald Trump, Bernie Sanders dan partai.
Jill Stein melihat beberapa kampanye iklan juga mempromosikan sendimen anti-imigran dan permusuhan rasional.
Facebook mengatakan iklan politik hanya dilihat 10 juta dari 210 juta penguna di Amerika.
Peneliti lain mengatakan berita yang dipelintirkan Rusia di Facebook jauh lebih besar dari catatan Facebook sendiri. Karena masih banyak tayangan berita yang masuk di halaman Facebook yang juga dikendalikan oleh perusahaan Rusia. Postingan disebarkan sampai ratusan juta kali kata peneliti Jonathan Albright dari direktur peneliti informasi digital universitas Columbia.

Oktober 2017, Facebook menyiapkan 1000 staf untuk mengawasi konten negatif dari filter bahasa dan video secara manual.
Bagaimana mungkin sebuah perusahaan di Amerika malah dimanfaatkan oleh negara / orang lain untuk menghancurkan negara mereka sendiri.
Perkataan mulutmu harimau mu, mungkin berlaku sebagai jempol mu harimau mu di media internet. Jadi jangan terkecoh dengan berita / tayangan seperti ini.