Puluhan ribu tahun lalu, umat manusia tidak berdampak dengan planet dan lingkunganya. Ketika dunia masih berisi jutaan penduduk.

Teknologi telah berkembang, manusia sekarang merusak biosfer sendiri. Penduduk dunia sudah mencapai 7 miliar orang, dan akan terus tumbuh. Pengelolaan lingkungan menjadi sulit dan penting.

Limbah peradaban seperti nuklir atau radio aktif harus ditanam di bawah perut bumi. Mengapa tidak dibuang saja ke ruang angkasa.

Mengirim ke ruang angkasa, sebuah pesawat harus bergerak setiap 7,9km perdetik agar mencapai orbit, dan 12,2km perdetik untuk melepas dari gravitasi bumi. Sedangkan bumi memiliki putaran 0,47km perdetik di garis khatulistiwa.

Seandainya kita bisa membuang limbah radioaktif ke ruang angkasa, dan membiarkan terbakar di matahari. Berapa resiko yang harus dihadapi.
  • Peluncuran mungkin gagal dan sampah jatuh ke bumi kembali.
  • Biaya sangat mahal
  • Lebih mudah membuang ke ruang angkasa dan membiarkan sampah pergi begitu saja dibanding harus mengarahkan ke matahari.

Sampah dikirim ke ruang angkasa mengapa manusia tidak mengambil keputusan ini

Peluncuran roket kadang beresiko. 1000 peluncuran hanya 97% yang sukses, tapi 2-3% kegagalan membuang sampah berbahaya akan berdampak dengan bencana besar. Bila sampah jatuh di lautan, tanah penduduk, bahkan kota. Tentu tidak ada yang berharap sampah radioaktif jatuh ditanah dan air mereka. Karena semua kotoran akan mencemari, penduduk disekitar harus pergi dari jatuhnya sampah nuklir.

Biaya. Satu roket Soyus mampu membawa 7 ton, tapi lihat berapa banyak sampah yang harus dikirim. Amerika memiliki 60 ribu ton limbah tingkat tinggi. Dibutuhkan biaya peluncuran roket sekali berangkat saja 100 juta dollar. Dari roket yang diluncurkan, seandainya gagal terbang 1%. Artinya ada 34 roket yang membawa limbah menjatuhkan kembali cargo ke Bumi. Bisa dibayangkan semua benda yang jatuh tersebut mencemari lingkungan.

Jadi pilihannya sederhana, lebih baik membuat bunker sampah nuklir dibanding mengirim ke ruang angkasa. Setidaknya satu lokasi dikorbankan agar tidak terjadi pencemaran di tempat lain.