Puluhan ribu tahun lalu, umat manusia tidak berdampak dengan planet dan lingkunganya. Ketika dunia baru berisi jutaan penduduk.

Manusia modern hadir baru 300 ribu tahun lalu, tapi urusan sampah berbahaya dimulai pada abad ke 19. Dengan pertumbuhan penduduk, teknologi dan kebutuhan listrik.

Teknologi telah berkembang, manusia sekarang telah merusak biosfer sendiri.

Kebutuhan energi nuklir untuk pembangkit, berdampak menghasilkan sampah radioaktif berbahaya. Walau perlahan beberapa negara mulai berinvestasi energi terbarukan.
Pembangkit nuklir masih digunakan sampai saat ini, menjadi teknologi pembangkit listrik paling ekonomis.
Karena kekuatan untuk menghasilkan listrik lebih besar di tempat yang lebih kecil. Tidak menghasilkan pencemaran lingkungan selama bekerja, karena hanya memanaskan air menjadi uap untuk pengerak turbin.

Dibanding pembangkit listrik batubara akan menghasilkan asap.Pembangkit termal, air masih terbatas khususnya kendala dari lokasi dan biaya.

Sementara penduduk dunia sudah mencapai 7 miliar orang, dan terus tumbuh. Pengelolaan lingkungan menjadi sulit dan penting.

Limbah peradaban dari sampah nuklir / radio aktif akhirnya di tanam di perut bumi. Tertutup rapat dalam tabung yang katanya aman sampai ratusan bahkan ribuan tahun kedepan. Nantinya sampah radioaktif tersebut perlahan menjadi tidak berbahaya lagi atau turun tingkat radiasinya sampai batas aman.

Mengapa sampah tidak dibuang saja ke ruang angkasa ?

Tentu menjadi pertanyaan, jenis sampah apa yang harus dibuang.Membuang sampah plastik ke ruang angkasa, tentu biaya terlalu mahal. Lebih murah dengan mendaur ulang, atau mengurangi pengunaan plastik. Tentu upaya tersebut jauh lebih mudah.

Ok, kalau pembangkit nuklir yang menghasilkan sampah radioaktif tidak dapat dihindari. Mungkin akan lebih mudah disingkirkan dari Bumi.
Dibuang ke ruang angkasa saja, dan masalah sudah selesai.

Masalah mengapa sampah berbahaya di Bumi tidak di lempar ke ruang angkasa.
Mengirim roket ke ruang angkasa, sebuah roket harus bergerak 7,9km perdetik keatas. Agar dapat mencapai orbit, dan memerlukan kecepatan 12,2km perdetik untuk lepas dari gravitasi bumi.
Sedangkan bumi memiliki putaran 0,47km perdetik di garis khatulistiwa.
Setelah berada di orbit bumi, tinggal di arahkan kemana sampah akan dibuang. Misal di arahkan ke matahari agar terbakar saja.



Seandainya kita bisa membuang limbah radioaktif ke ruang angkasa, dan membiarkan terbakar di matahari atau di lempar kemana yang tidak ada tujuannya. Berapa resiko yang harus dihadapi.

Bahaya membuang sampah ke ruang angkasa tidak sepenuhnya aman.
  • Peluncuran mungkin gagal, roket meledak, merusak kontainer pengaman sampah radioaktif dan sampah jatuh ke bumi kembali. Apa yang terjadi, sisa partikel radioaktif jatuh menyebar sangat luas di wilayah bumi.
  • Biaya sangat mahal menjadi pertimbangan perusahaan bahkan negara.
  • Lebih mudah membuang ke ruang angkasa dan membiarkan sampah pergi begitu saja dibanding harus mengarahkan ke matahari ?. Siapa yang menanggung resikonya.
Kasus reaktor Chernobyl yang meledak saja, sampai hari ini sebuah kota harus dikosongkan. Walau lokasi pembangkit tersebut hanya berada di wilayah dekat hutan.
Bocornya reaktor pembangkit nuklir di Jepang akibat gempa. Kota di sekitar reaktor harus di kosongkan karena memiliki tingkat radiasi yang lebih tinggi, bahkan terjadi pencemaran air.

Sampah dikirim ke ruang angkasa mengapa manusia tidak mengambil keputusan ini

Peluncuran roket kadang beresiko.
Dari 1000 peluncuran hanya 97% yang sukses, 2-3% kegagalan mencapai orbit. Membuang sampah berbahaya akan berdampak menjadi bencana besar bila roket meledak atau tidak mencapai orbit.
Bila sampah jatuh di lautan, tanah penduduk, bahkan kota. Tentu tidak ada yang berharap sampah radioaktif jatuh dan terkontaminasi di negara, tanah dan air mereka. Karena semua kotoran akan mencemari, bila jatuh menyebar maka penduduk disekitar harus pergi dari lokasi jatuhnya sampah nuklir. Bila sampah radio aktif jatuh dari udara, bisa saja sebagian wilayah negara yang perlu dikosongkan.

Biaya. Satu roket Soyus mampu membawa beban 7 ton, tapi lihat berapa banyak sampah yang harus dikirim. Amerika memiliki 60 ribu ton limbah radiasi tingkat tinggi.

Sedangkan biaya peluncuran roket sekali berangkat 100 juta dollar. Dari banyaknya peluncuran roket yang mengirim sampah, seandainya gagal terbang 1%. Artinya ada 34 roket yang membawa limbah menjatuhkan kembali muatannya ke Bumi. Bisa dibayangkan semua benda yang jatuh tersebut mencemari lingkungan. Itu baru sampah dari satu negara.

Jadi pilihannya sederhana, lebih baik membuat bunker sampah nuklir dibanding mengirim ke ruang angkasa. Setidaknya satu lokasi dikorbankan agar tidak terjadi pencemaran di tempat lain.