Foto memiliki arti, dengan gambar yang tertangkap dan dapat mengingat masa kecil sebagian orang yang mungkin mereka sendiri lupa.

Bipasha Shom menghabiskan liburan musim panas ke kota indah di Kolkata.

Berada di daerah Bengal Barat India, dikenal dengan kota arsitek dari jaman Koloni, festival budaya dan galeri seni.

Dia sering berhenti membuat foto dengan camera, tapi orang orang tersebut tidak memiliki foto dirinya sendiri. Alasannya, warga disana mungkin tidak memiliki camera, bahkan tidak bisa mencetak foto mereka sebagai kenangan.

Bipasha Shom bekerja sebagai seorang editor di beberapa TV komersil, musik video dan dokumenter. Terakhir dia sebagai senior produser Uprising untuk berita politik dan banyak lagi. Seorang lulusan antropologi dari universitas Cornell dan universitas Pennsylvania. Julie menjadi pendamping dirinya, pertama pergi dari Korea Selatan ke Amerika ketika berusia 8 tahun. Memiliki pengalaman disain web, foto dan media sosial. Sekarang Julie melanjutkan studi di universitas Cornell.

Chriss Manley dan Bipasha Shom

Akhirnya muncul ide, Shom bersama timnya (suami dan temannya Julie) mengabadikan beberapa orang yang tinggal di pondok jerami dengan lantai tanah, bahkan tidak memiliki akses air dan listrik.

Ceritanya juga menarik, ketika dia mengambil sebuah foto seorang petugas kamar mandi. Dia tidak tahu bila yang orang yang difoto ternyata tidak bisa mendengar. Walau agak kesulitan berkomunikasi, tapi yang menyenangkan bagi Shom adalah foto yang dibuat membuat orang tersebut tersenyum. Setiap foto yang dibuat dimasukan ke dalam kantong plastik agar di penerima foto dapat membawa hasil fotonya lebih berharga.

Bagaimana Shom bisa membuat foto bagi warga di Kolkata India.
Shom meminta bantuan ke perusahaan Fujifilm dan menjelaskan proyeknya untuk membuat foto. Lalu pihak Fujifilm tertarik dan meminta detil apa yang akan dilakukan. Bahkan Shom menceritakan dia akan dibantu oleh suaminya seorang sinematografer profesional yang menangani TV Mad Men.. Camera yang dipakai tipe Fujifilm Instax Wide 300

Fujifilm setuju, dan mengirim perlengkapan foto instann / sekali cetak jadi. 1000 Instax film diberikan ke Shom, dan 3 unit camera Instax.



Membawa 500 lembar film Intax di setiap koper juga urusan rumit. Khawatir pihak airport di India akan menanyakan untuk apa film sebanyak itu. Tapi proses semuanya berjalan lancar. Masalah kedua apakah warga India apakah ingin difoto, atau malah memicu kemarahan orang yang difoto nantinya. Karena beberapa tradisi di masyarakat masih melekat kuat.

Semua berjalan lancar, dan Shom bersyukur idenya bisa sejalan dengan Fujifilm dalam mempromosikan produk Intax. Walau arahnya sedikit berbeda, satu untuk sosial dan satu untuk komersil.

Foto Shom ini memberi foto ke warga yang belum pernah membuat foto sendiri

Proyek Shom diberi nama GivePhotos di Instagram Facebook , Proyeknya masih berlanjut di Generosity