SolidEnergy sistem mengunakan anode bebas untuk baterai lithium.

Membuat baterai lithium double capacity, dua kali lipat dari kapasitas baterai saat ini.

Rahasianya. Pendiri perusahaan Qichao Hu menyebut bahan lithium mampu dibuat lebih tipis, dan menyimpan energi tinggi dari foil lihtium metal. Sehingga mampu menyerap ion lebih banyak dari tipe grafit baterai lithium sekarng.

Ion lebih banyak artinya kapasitas baterai lebih besar. Bahkan disain baterai baru terebut lebih aman dan lebih kuat.

Dengan meningkatkan kapasitas, bukan kapasitas baterai saja bertambah. Termasuk ukuran baterai dapat diperkecil sampai separuh. Dibayangkan seperti ini, baterai berukuran separuh, tapi memiliki power 2x lebih tahan lama.

SolidEnergy bahkan menemukan cara membuat mesin produksi baterai lithiumnya. Jadi perusahaan tidak hanya menyiapkan disain dalam konsep atau hasil lab. Tapi siap diproduksi segera, dari disain baterai sampai produksi baterai.

Baterai lithium Metal untuk Drone akan tersedia bulan November 2016. Sedangkan baterai smartphone mulai tahun 2017. Untuk kendaran listrik seperti mobil listrik butuh 2 tahun atau 2018 nanti.

Walau nantinya baterai buatan SolidEnergy, pihak produsen perangkat seperti produsen smartphone mungkin baru mengunakan 1 tahun setelah produk baterai SolidEnergy jadi.

Cerita teknologi baterai SolidEnergy, diawali dari perusahaan A123 yang bangkrut pada tahun 2012 dan masih menjadi bagian dari pengembangan teknologiu MIT.  Qu diijinkan mengembangkan produknya dari perusahaan yang sudah gugur tersebut. Bahkan perusahaan SolidEnergy mendapatkan dukungan dana ari MIT sebesar $100.000, dan tambahan dana dari hadiah lain.
Nama A123 adalah pabrik lama,  sekarang produksi SolidEnergy dibuat dalam bisnis nyata. Dimana orang yang bekerja disana mengerti tentang proses, dan mendisain materi yang ada.

Gambar paling kanan adalah disain baterai lithium dengan Li-Metal
Baterai lithium double kapasitas dari SolidEnergy dengan lithium metal

2017
Baterai rancangan Stanford ini disebut baterai Natrium-Ion, mampu menyimpan energi sebanyak baterai lithium-ion.
Tapi biaya produksi lebih murah 80%.

Baterai Natrium-Ion mengunakan bahan dasar dari garam, sama seperti garam meja dan makanan.
Walau bahan lithium masih di peringkat satu dan tidak ada yang menandngi kemampuan penyimpan energi baterai lithium.
Tetapi lithium adalah barang langka, dan perlahan dipastikan akan habis. Untuk itu peneliti mencari bahan penganti, setidaknya yang sama efisien seperti lithium.

Peneliti Stanford mengunakan katode natrium garam, dimana ion natrium bermuatan positif terika dengan ion inositol negatif dan anode fosfor. Semua bahan yang digunakan ada dan berlimpah di bumi.
Katode baterai Natrium-Ion memiliki kapasitas pembalik 484mAh g-1, dengan kepadatan 726Wh kg-1.  Artinya dengan ukuran hampir mendekat lithium dapat menghasilkan energi 87%.
Tim Stanford masih meneliti bagian anoda fosfor, dimana diharapkan dapat menghasilkan energi lebih banyak.