Laporan pemerintah Amerika, 25 Mei 2016 menyebut sistem kendali nuklir Amerika masih mengunakan disket ukuran 8 inci.

Ada yang salah disini, tidak. Seorang peretas kelas putih mengatakan ini hal baik, dan sistem rudal nuklir Amerika menjadi lebih aman.

Bagaimana mungkin sebuah computer berukur 40 tahun mengendalikan sistem rudal nuklir Amerika.

Dan tidak pernah berubah puluhan tahun, sementara sekarang computer sudah dibuat seukuran smartphone.

Kuncinya bukan teknologi, tapi kualitas pintu kunci dimana computer ditempatkan kata Cris Thomas

Cris Thomas adalah ahli strategi dalam jaringan security. Dia dikenal sebagai peretas dengan nama samaran Space Roque, dan salah satu anggota pendiri kumpulan peretas legendaris L0pht. Pada tahun 1998 kelompok ini pernah menghadap ke senat Amerika, dan mengatakan tim kami bisa menjatuhkan internet dalam 30 menit.
L0pht memang bukan peretas perusak, tapi mereka adalah kelompok peretas di kelas putih atau peretas dengan sisi kebaikan.

Sistem kendali nuklir Amerika mengunakan diskette

Memang menarik, Amerika menjalankan sistem kendali nuklir mengunakan komputer tua, ditambah sistem yang dimasukan ke dalam disket. Hal ini lebih sukar di hack dan membuktikan angkatan udara memang benar mengambil keputusan. Sistem computer sama sekali tidak mengunakan jaringan internet. Bayangkan sebuah PC XT dengan procesor 8088 di tahun 1980an masih mengunakan diskete ukuran 5 inci dengan kapasitas terbesar 360KB. Dan sistem pertahanan nuklir Amerika malah mengunakan ukuran disket lebih tua lagi yaitu 8 inci.

Seandainya ada yang ingin mengambil sistem rudal nuklir, satu satunya cara hanya orang yang duduk di depan computer terminal itu. Alasan lain, computer yang digunakan terkenal handal, jadi tidak heran sampai hari ini masih bekerja.

Selama angkatan udara masih dapat membuat copy disket dengan ukuran 8 inci, memiliki disket cadangan (karena disket kadang rusak bila terkena magnit), serta diskete yang ada di computer masih bekerja. Tidak ada alasan untuk sistem keamanan nuklir Pentagon mengunakan computer lawas.

Mereka juga mengunakan bahasa computer tua, setingkat Cobol, Fortran yang dikatakan menjelimet. Yang jelas sudah tidak ada lagi manual bahkan orang yang mempelajarinya dan mengutak atik sistem computer. Tapi masalah juga muncul, seandainya coding di disket tersebu ternyata ada yang salah, dan pihak angkatan udara dipastikan akan kesulitian menemukan programer dengan bahasa itu.

Tetapi ada laporan departemen pertahanan atau DoD akan mencari solusi baru untuk storage, menambah port procesor, terminal portabel dan sistem desktop terminal untuk tahun fiskal 2017 nanti.