Suara di ruang angkasa memiliki frekuensi.

Tetapi suara yang di dengar di pesawat ruang angkasa adalah gelombang frekuensi rendah. Berbeda dengan suara yang di dengar manusia yang harus melintas melalui media udara. Ditangkap atas getaran dari suara ke udara dan diterima di telinga. Di ruang hampa, suara praktis tidak bisa didengar, tetapi dapat tertangkap sebagai frekuensi seperti gelombang radio.

Bahkan melewati batas tata surya, masih ada suara yang bisa di dengar dan direkam oleh pesawat ruang angkasa Voyager 1

Seperti suara kebisingan secara acak yang berasal dari luar atmosfer Bumi. Kadang dapat ditangkap oleh radio, seperti yang terjadi di tahun 1947 ketika pasukan Amerika yang sedang berperang mendengar suara aneh di seluruh radio mereka.

Tetapi gelombang frekuensi dari ruang angkasa di sekitar tata surya memiliki frekuensi rendah, dalam hitungan Hz sampai kHz. Sedangkan benda yang besar seperti matahari, quasar dan lainnya dapat mencapai Mhz.
Suara yang menghasilkan frekuensi radio bisa saja terdengar oleh radio, ketika sebuah meteorit bergesekan dengan atmofer dan terbakar.

Penemu Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR) adalah Arno Penzias dan Robert Wilson, yang memenangkan penghargaan Nobel atas pengetahuan mereka.

Apakah setiap benda di ruang angkasa memiliki suara. Bisa dilihat pada beberapa penemuan dibawah ini

Suara Bumi
Dahulu penguna radio amatir mendengar suara aneh. Akhirnya terbukti bila Bumi memiliki suara. Tetapi suara tersebut bukan suara yang bisa di dengar manusia, melainkan gelombang magnetik.

Nasa mengirim 2 probe Radiation Belt Storm Probe / RBSP yang memiliki magnetometer untuk menangkap suara di sekitar Bumi seperti suara frekuensi plasma. Suara yang ditangkap adalah gelombang suara dari 0 sampai 10Khz  Suara tersebut dihasilkan tabrakan antara angin matahari ke magnetik bumi.

Suara Bumi di ruang angkasa dari satelit - Spacecraft RBSP

Suara musik yang dibuat oleh Bumi seperti dibawah ini.



Suara di tepi tata surya
Voyager 1 menangkap gelombang suara dalam bentuk frekuensi 0 sampai 4kHz. Suara plasma tersebut bukan suara biasa tapi berupa suara plasma magnetik berbentuk frekuensi.

Ketika pesawat masih berada di tata surya, suara yang ditangkap masih berasal dari plasma matahari. Nada suara yang ditangkap relatif frekuensi rendah sekitar 300Hz
Sedangkan Voyager 1 ketika terus menjauh, akan berada di daerah interstellar Plasma akan menangkap suara dengan frekuensi 2-3 kHz

Bagaimana suara di tepian ruang angkasa. Pesawat ruang angkasa Voyager 1 terakhir sudah melewati batas tata surya. Melintas lebih jauh dari sisi belakang planet Pluto atau sudah memasuki daerah Interstellar. Dimana daerah tersebut, daya dorong matahari menjadi lemah, dan pesawat mulai menditeksi adanya gelombang magnetik dari luar tata surya yaitu suara alam semesta.

Perbatasan antara angin matahari disebut Heliopause sebagai tempat perpisahan antara ruang tata surya yang dipengaruhi angin matahari dan pengaruh luar yaitu alam semesta (kosmos). Perubahan nada pada sensor Voyager 1 menunjukan pesawat melewati dari kerapatan plasma yang berbeda.

Suara pertama dikirim dari Voyager 1 pada 1 November 2012 dan rekaman kedua pada bulan April atau Mei 2014.

Matahari melindungi isi tata surya dengan angin matahari, dan mencegah agar radiasi dari ruang angkasa tidak menyebar masuk ke Bumi. Demikian juga pesawat Voyager, ketika mulai melepaskan diri dari angin matahari, dan mulai mendengar suara berbeda.

Suara dari daerah Interstellar

Seperti gambar diatas, ketika memasuki daerah hijau maka nada suara yang direkam masih berada di nada rendah.
Memasuki daerah kuning, dimana pengaruh plasma dari ruang angkasa lebih kuat, pesawat Voyager 1 menangkap nada lebih tinggi.



Suara bintang tidak jauh Matahari
Suara sebuah bintang tidak terlalu jauh dapat di dengar. Matahari adalah bintang, apakah bintang memiliki suara. Ketika korona matahari terlepas dari permukaan, akan terjadi pelepasan plasma keluar matahari.
Di matahari akan terdengar suara kekacauan. Karena disana adalah gas yang terbakar terus menerus.

Suara matahari tidak berbeda dengan suara di Bumi, tapi skalanya lebih besar. Suara plasma membuat gelombang di permukaan matahari akibat tekanan dari luar permukaan dan di dalam matahari yang naik ke luar. Bila di dengar seperti gemuruh secara acak dimana-mana. Getaran atau gelombang api yang membakar matahari menimbulkan frekuensi yang dapat ditangkap oleh pesawat ruang angkasa.

Dengan mendengar suara matahari, maka ilmuwan dapat memperkirakan seperti apa di bagian dalam dari Matahari.

Suara di permukaan matahari




Suara Jupiter
Apakah planet lain memiliki suara, yang dimaksud suara dari permukaan sebuah planet. Apa yang didengar dikatakan luar biasa.
Suara dari pesawat Galileo pernah merekam kekuatan planet terbesar di tata surya ini. Planet Jupiter memiliki spot merah, spot tersebut adalah pusat badai, hanya saja kekuatan badai disana jauh lebih besar dibanding badai di Bumi. Tetapi bukan efek suara dari planet Jupiter, melainkan kekuatan Jupiter terhadap gelombang matahari. Sama seperti Bumi memberikan suara akibat terjangan radiasi matahari.



Pesawat ruang angkasa milik Nasa, Juno Spacecraft baru memasuki area magnetik Jupiter pada 25 Juni 2016. Suara ini direkam diatas planet Jupiter.



Dibawah ini direkam Juno yang menangkap suara Aurora di Jupiter 27 Agustus 2016



Suara di Bulan
2 bulan sebelum pendaratan paling terkenal dari misi Apollo ke 11 tahun 1969. Misi Apollo10 sedang memasuki orbit bulan, dan memutar di bagian sisi gelap bulan. Membuat komunikasi astronot ke bumi terputus selama 1 jam karena terhalang di sisi bulan. (Space)
Apa yang di dengar oleh para astronot di radio mereka, suara aneh seperti musik. Percakapan ketiga astronot tersebut mengatakan suara tersebut belum mereka pernah dengar.
Dari mana asal suara tersebut, pastinya bukan dari Alien. Suara siulan tersebut berasal dari gangguan 2 perangkat radio VHF di kedua modul.



Masih ada lagi beberapa rekaman suara di ruang angkasa. Dan sebagian planet sampai bulan memiliki ciri suara masing masing. Dapat di dengar via JPL Nasa