Jaap Arriens pada 7 Juli 2015 mencoba mengabadikan foto badai di sebuah teluk di Belanda. Angin begitu kencan mencapai 120km perjam, bahkan sebuah restoran di tepi pantai tertutup pasir sampai terlihat seperti bukit pasir. Jaap bekerja sebagai fotografer berita, dia berpikir ini kesempatan terbaik. Membuat foto tentang badai yang menjadi salah satu berita penting dalam pekerjaannya.

Dia bekerja untuk media Hollandse Hoogte sebagai perusahaan agen foto terbesar. Fotonya digunakan oleh media The Times

Jaap menyiapkan camera agar tahan air, ceritanya seperti itu. Bagian mounting camera dan lensa ditutup dengan cover plastik (dari supermarket). Tapi dia tidak menutup bodi camera.

Camera terkena badai rusak tidak karuan

Dia membawa lampu flash untuk camera Nikon buatan Yongnuo. Katanya harga cuma separuh tapi kualitas 90%. Karena yakin dengan kemampuan lampu flash buatan China tersebut. Dia mulai menembus hujan dan badai dari laut.

Dia berhasil membuat foto ketika badai terjadi dari tepi pantai

Foto badai dekat mercusuar

Dibawah ini bagian LCD dari lampu flash yang sudah kemasukan air.

Lampu flash terkena air

Awalnya bagian lampu flash terkena air. Tapi tidak masalah, terlihat sudah masuk ke dalam layar LCD. Demikian juga lensa 70-200mm f4L sampai dia terus bekerja beberapa jam.

Tetapi setelah kembali ke rumah, apa yang tidak diperkirakan terjadi. Bagian dalam lensa mengalami kondensasi, dan dia mencoba lensa ternyat lensanya rusak tidak bereaksi.

Bagian memory card sudah di iselotip tapi cameranya tetap kemasukan air. Dan bodi camera juga terkena pasir laut. Dia mencoba mencuci langsung dengan membasahi bodi camera dengan air kran. Toh dipikir, apa bedanya sudah terkena air laut.

Lalu dikeringkan camera di tempat pemanas. Esokan harinya jadi cerita lucu.

Camera 1D Mark II dengan lensa 16-35mm bekerja sempurna, tidak ada kondensasi di dalam lensa.

Namun di lensa 70-200mm tampaknya benar benar terjadi kondensasi dan air ada di dalam lensa. Bodi camera Canon 7D bikin masalah juga, dan tidak bereaksi lagi alias mati. Dicoba dikeringkan lagi, dan hari 3 tiga dari 2 dari 1 camera yang dibawah serta lensa 70-200mm  memang masalah. Jaap menjelaskan mengapa camera yang dibawah bisa basah, dia membeli sebuah tas murah yang bukan standar fotografi seperti rancangan tas yang tahan air atau hujan.

Masih penasaran dengan camera yang mati. Dia memasukan ke kantung beras (teori tradisional), dan dibiarkan sekitar 2-3 minggu. Lensanya akhirnya masih bekerja, tapi satu camera terlihat tidak bereaksi lagi.

Tersisa satu bodi camera yang mati, dia membiarkan kembali sampai 2 bulan. Akhirnya camera menyala dan terdengar suara samar dari komponen elektronik di dalamnya. Layar LCD kembali menampilkan menu, tapi di bagian atas LCD untuk informasi camera mati.

Menyerah dengan Canon, akhir dia membawa ke servis center lokal. Teknisi Canon mengatakan cameranya sudah nyala lagi, bagian display untuk info camera dikabarkan rusak. Tapi board tetap rusak terkena air laut. Dia akhirnya gerah, karena harga menganti board camera setara dengan membeli camera second dengan tipe yang sama.

Mengapa camera kelas Pro tidak bermasalah, Jaap mengatakan konstruksi camera berbeda. Sedangkan camera untuk semi Pro seperti Canon 7D bukan disiapkan untuk segala medan.

Dibawah ini foto dari Jaap dengan kerusakan . Bagian paling fatal karena air menembus bagian board camera. Mungkin pesannya, persiapkan diri ketika membuat foto ketika hujan besar dan badai. Bisa saja camera kemasukan air dan rusak walau sudah dimasukan ke dalam tas.

komponen rusak camera DSLR terkena air laut