Tata surya kita sangat stabil, demikian juga isi galaksi kita.

Seluruh benda mengorbit mengikuti gerakan dari tengah galaksi, dan cahaya bintang yang terlihat relatif sama dari ratusan ribu bahkan jutaan tahun ke depan. Apakah semuanya memang seperti perkiraan kita. Informasi dari pusat observasi Sloan mengatakan hal berbeda.

Mereka meneliti komposisi setiap bintang dalam spektrum atau jangkauan dan intensitas panjang gelombang cahaya. Disebut Spektrum Stellar menunjukan susunan kimiawi galaksi kita terus berubah. Hal ini diungkap oleh Profesor Jon Holtzman dari universitas New Mexico.

Bintang menciptakan elemen berat di inti mereka, ketika bintang bintang mati maka unsur yang lebih berat akan kembali ke gas dimana bintang berikutnya terbentuk. Mengunakan spektrum dari observasi SDSS Apache Point Galactic Evolution selama 4 tahun dari 100 ribu bintang. Hal menarik menunjukan 30% bintang yang diteliti ternyata bergerak atau bergeser dari tempat asal mereka lahir.

Juli 2015
Beruntung ilmuwan menjelaskan dimana model bintang bintang yang diteliti bergerak berbeda beda. Ada yang mendekat ke tengah galaksi dan sebagian menjauh karena usia mereka semakin betambah. Hal ini menyebabkan penyimpangan dalam bentuk disk galaksi kita. Sampai akhirnya membentuk galaksi Spiral seperti sekarang.

Tetapi penemuan ini baru awal, masih perlu dilanjuti lebih lanjut tentang pergerakan bintang dimana terdapat planet lainnya. Mungkin matahari  beruntung, karena ukurannya cukup besar atau sekelas bintang ukuran menengah. Dan posisinya berada ditengah galaksi Bima Sakti. Apakah posisi matahari dahulunya lebih dekat ke tengah galaksi, atau posisinya malah menjauhi atau memang tetap seperti dahulu kala.

Dari gambaran dibawah ini adalah analisa pergerakan bintang yang bergeser dari titik awal mereka lahir.

Bintang berpindah tempat di galaksi Bima Sakti

Juli 2017
Peneliti dari univeresitas Cambridge mengunakan data Sloan Digital Sky Survey. awalnya 3 alasan dibawah ini awalnya penyebab sebuah bintang bergerak sendiri keluar dari orbit Bima Sakti
  • Bintang yang bergerak sangat cepat tersebut dikenal dengan bintang Hipervelocity, artinya bintang bergerak sendiri dan jauh lebih cepat dari bintang normal. Peneliti awalnya memperkirakan dahulunya bintang tersebut adalah bintang biner. Dimana salah satu bintang yang mengorbit meledak, dan melemparkan bintang kedua. Sampai bintang kedua bergerak sangat cepat dari tempat asalnya, dan terbawa di sekitar pinggiran galaksi dan bergerak masuk ke orbit Bima Sakti.
  • Perkiraan lain, bila bintang Hipervelocity berada di dekat di tengah galaksi. Berarti bintang tersebut dekat dengan lubang hitam supermasive. Lalu bintang tertarik dan terlempar sampai bergerak sedemikian cepat.
  • Asumsi terakhir disebutkan adanya galaksi kerdil yang terpecah. Atau adanya kelompok bintang (Globular Cluster) yang kacau dan membuat beberapa bintang terlempar.
Mereka melakukan simulasi dengan pelarian bintang. Dan menunjukan gerakan bintang berasal dari galaksi kerdil di samping galaksi Bima Sakti yang disebut LMC - Large Magellanic Cloud.
Sampai saat ini ada 20 bintang Hipervelocity bergerak di galaksi Bima Sakti. Tapi baru sebagian yang diketahui.
Kebanyakan terlihat bergerak di wilayah bumi utara, dan mungkin masih banyak lagi bila dilihat di bumi bagian selatan.

Penjelasannya yang menarik sepertini. Douglas Boubert mahasiswa PhD Cambridge Institute of Astronomy menyebut, kebanyakan bintang yang diamati berada di rasi bintang Leo dan Sextans. Kami bertanya mengapa begitu.
Bila ada 2 bintang biner dan saling mengorbit, keduanya akan saling mendekat dan orbitnya semakin cepat. Bila satu bintang meledak akan mendorong bintang kembarnya. Kecepatan gerakan bintang Hipervelocity tidak akan tercapai.

Alasan yang kuat dari peneliti. Mereka melakukan simulasi model computer untuk membuat perkiraan selama 2 miliar tahun terakhir. Di ikuti dengan simulasi kedua dari bintang yang keluar dari area LMC
Beberapa bintang Hipervelocity sangat mungkin berasal dari LMC atau satelit galaksi Bima Sakti. Karena bagian LMC ini bergerak dengan kecepatan 400km perdetik mengelilingi Bima sakti. Seperti peluru yang ditembakan di kereta super cepat. Maka bintang pelarian tersebut dapat mencapai kecepatan Hipervelocity.
Yang membuktikan alasan tersebut, karena sebagian besar bintang yang bergerak tersebut lebih banyak bergerak menuju rasi bintang Leo dan Sextans.

Boubert mengatakan, kami memperkirakan ada 10 ribu bintang pelarian yang tersebar dilangit. Dari data simulasi computer, separuh dari bintang sangat berpotensi keluar menjadi bintang Hypervelocity.
Apakah bintang tersebut berbahaya bagi bintang lain yang mengorbit tetap. Sebagian bintang yang terbang tersebut akhirnya mati, masalahnya ketika bintang yang kebanyakan berukuran raksasa biru mati, akan menjadi bintang neutron dan black hole. Dan terus berlanjut melakukan perjalanan mereka.
Penelitian masih berlanjut, menunggu laporan teleskop Gaia milik ESO yang memetakan galaksi Bima Sakti selesai melakukan pengambilan data. Setidaknya dapat ditemukan jejak dari gerakan bintang Hipervelocity, nantinya.

Dibawah ini gerakan bintang yang diteliti dari ESA dan perkiraan posisi sejak 1 juta tahun lalu.
1 dari 6 bitnang bergerak sangat cepat mencapai 500km perdetik. Bahkan lebih cepat dari gerakan bintang di galaksi. dan 5 bintang lain bergerak dengan kecepatan 360 - 400 km perjam.