Maret 2015
Ekpedisi 43 sukses diluncurkan kemarin. Astronot Scott Kelly dari Amerika dan Mikhail Kornienko dan Gennady Padalka dari Rusia sudah berada di ISS.

Ketiga astronot akan tinggal selama 1 tahun disana, tepatnya 340 hari. Untuk apa mereka tinggal disana.

Kelly dan Kornienko akan tinggal selama 340 hari. Bila berjalan lancar kedua astronot Rusia akan memecahkan rekor lama di tahun 2007.

Kelly akan memecahkan rekor 522 hari sebagai astronot yang pernah menginap di ruang angkasa paling banyak. Padalka akan pulang lebih dahulu setelah tinggal antara 4-6 bulan di stasiun ISS.

Apa yang dilakukan untuk mereka. Ilmuwan akan mengevaluasi dampak gaya berat mikro terhadap manusia. Kelly dan Kornienko menjadi astronot percobaan untuk misi antariksa. Nantinya ilmuwan bisa mendapatkan apa yang terjadi bila mengirim astronot ke planet Mars. Setidaknya dampak terhadap manusia selama melakukan perjalanan kesana yang membutuhkan waktu hampir setahun.

Space - Russia Launch Historic One-Year Space Mission

Ketiga astronot mengunakan modul Soyuz TMA-16M.

Nasa Google+ Foto

Ini merupakan langkah kedua setelah Nasa berhasil menguji modul pendarat Orion untuk misi Mars di akhir Desember 2015 lalu. Nasa menyiapkan test modul pendarat yang diturunkan ke Bumi, dan menguji daya tahan modul ketika kembali ke Bumi terhadap gesekan panas di atmofer.
Tahap pertama terlihat sukses setelah modul Orion. Tahap lain adalah pengujian roket SLS terbesar yang pernah dibuat badan antariksa Nasa, tetapi baru diuji coba pada tahun 2021.

2 Maret 2016 Kelly baru kembali ke Bumi apa yang terjadi
Astronot Kelly yang baru pulang dari stasiun ISS, bersama kosmonot Mikhail Kornienko kiri dan Sergey Volkov tengah dan kanan Kelly dari Nasa. Ketiganya kembali bersama modul Soyuz TMA-18M

Astronot paling lama di ruang angkasa Kelly tinggal 1 tahun

Kelly sekarang lebih tinggi 2 inci dibanding saudara kembar identiknya, dan kembali menyusut setelah beberapa waktu. Kelly menjalani misi sebagai astronot yang tinggal setahun di stasiun ISS. Untuk menguji seberapa tahan manusia tinggal disana, baik pikiran, tubuh dan kondisi kejiawaan.
Kelly melaporakn kondisinya cukup baik. Dan dia akan diteliti lebih lanjut di Bumi untuk memantau kondisi kesehatannya.

Kelly berada di ruang angkasa nonstop selama 340 hari, dan 1 April 2016 dia akan pensiun setelah 20 tahun karirnya menjadi astronot. Kelly melanjutkan pekerjaannya untuk membantu tim Nasa, tapi dia tidak akan terbang ke ruang angkasa.

Apa saja yang diteliti
  • Karena astronot berada di ruang tanpa gravitasi, tulang menjadi rapuh, baik bagian kaki, pinggul dan tulang belakang. Pelepasan kalsium juga meningkatkan resiko pembentukan batu ginjal dan tulang yang rawan patah.
  • Otot. Dapat menjadi lemah karena kurang beban
  • Wajah dan kaki. Darah yang mengalir di ruang angkasa lebih besar mengalir ke atas dan lebih rendah ke bagian kaki. Membuat wajah astronot lebih membengkak dan kaki lebih kecil.
  • Kondisi jantung. Jantung bagi astronot tidak perlu bekerja keras. Seiring waktu akan menurunkan ukuran jantung. Bahkan radiasi di ruang angkasa dapat mempengaruhi sel endotel, lapisan pembuluh darah, yang mungkin menyebabkan penyakit jantung koroner.
  • Telinga. Karena di ruang angkasa maka telinga bagian dalam yang sensitif terhadap gravitasi. Bisa saja tidak berfungsi dengan benar. Di awal misi, astronot dapat diorientasi, mabuk ruangan dan kehilangan arah. Setelah kembali ke Bumi, harus menyesuaikan diri bahkan hanya untuk berjalan dan menstabilkan pandangan sampai berputar.
  • Resiko radiasi. Di ruang angkasa terdapat radiasi lebih tinggi, membuat astronot berpotensi mengalami katarak dan kanker. Disana astronot menghadapi 20x lebih tinggi radiasi, bila ke planet Mars tingkat radiasi mencapai 300x dibanding radiasi di Bumi.
  • Siklus tubuh. Tidak ada waktu 24 jam baik siang dan malam. Membuat tubuh harus menyesuaikan diri kembali, setelah cahaya di ruang modul antariksa berbeda dibanding di Bumi.
  • Kelly melakukan penelitian dari urine, kotoran dirinya, untuk mempelajari proses imun tubuh manusia. Serta mencatata semua kegiatan dari tidur, makanan dan lainnya.

Jeff Williams 2016
Memecahkan rekor sebagai astronot Amerika paling lama tinggal di ruang angkasa pada Agustus 2016. Dia sudah mundar mandir ke ruang angkasa, sesuai tugasnya sebagai kepala ISS. 521 hari baru dilewati, dan mengalahkan rekor Kelly astronot Amerika sebelumnya.
Misinya akan berakhir pada 6 September 2016 dan kembali ke Bumi, total akan mencapai 534 hari. Rekor tersebut masih dibawah Gennady Padalka yang tercatat di 5 misi yaitu Mir dan ISS selama 879 hari.

Astronit Jeff William manusia paling lama tinggal di ISS

Apa dampak bagi manusia bila tinggal terlalu lama di ruang angkasa
Nasa mencatat perubahan dari Kelly dengan kembarannya yang juga seorang astronot, termasuk kondisi astronot lainnya.
Ada 8 perubahan bila seseorang tinggal di ruang angkasa dibanding orang yang tinggal di bumi.
  • Cairan akan menyebar lebih merata, membuat tubuh seseorang terlihat lebih gemuk
  • Bila astronot tidak berolahraga di ruang angkasa. Kepadatan tulang dapat menurun 12%
  • Cairan yang beredar dari kepala sampai kaki dapat mengisi sebuah botol 2 liter.
  • Gangguan mata dapata memperburuk, diakibatkan perubahan tekanan pada otak
  • Otok dapat mengecil dan berat badan menurun.
  • Gangguan tidur, rata rata astronot hanya tidur 6 jam dengan posisi tidur yang aneh (mengantung)
  • Radiasi dari luar angkasa dapat mengganggu kesehatan.
  • Karena tidak ada gravitasi, tubuh dapat lebih tinggi 3%

Satu hal yang menarik pada bagian otak. Karena di ruang tanpa gravitasi, otak akan mengambang. Otak dapat meningkat , menata dan membuat hubungan saraf baru. Disebut efek Neuroplastisitas. Dengan cara ini, astronot belajar ketrampilan motorik baru dan lebih baik ketika di ruang angkasa.

Sieder mengatakan, kita mengambang bukan berarti berenang.  Astronot akan mengunakan otak berbeda, kontraksi otot juga berbeda.

Awalnya Sieder mempelajari keseimbangan ketika astronot sudah berada di ruang angkasa, dan menurunnya kemampuan keseimbangan. Bila mereka kembali ke Bumi, mereka akan kesulitan berjalan untuk beradaptasi lagi dengan gravitasi. Temuan ini juga membantu mengembangkan pengobatan yang lebih baik untuk fungsi otak. Khususnya bila manusia jadi pergi ke planet Mars.

+ Space - Russia Launch Historic One-Year Space Mission