Nasa menyiapkan pengiriman manusia ke planet Mars.

Baru satu langkah yang dilakukan, Desember 2014 baru menguji ketahanan modul Orion yang diterbangkan ke ruang angkasa. Lalu kembali ke bumi untuk menghadapi suhu panas 2x dari titik leleh besi.

Selanjutnya masih belum jelas, apakah manusia akan terbang berbulan bulan menuju ke planet Mars di dalam modul antariksa.

Mengapa dibutuhkan pesawat ruang angkasa generasi baru. Bila astronot harus terbang dengan teknologi roket konvensional harus menghadapi 2 tantangan terbesar.

Bahan bakar pesawat yang dibawa harus lebih dari cukup, dan kecepatan roket konvensional tidak akan mampu mempercepat perjalanan astronot.

Bahkan 100 tahun perjalanan dengan roket biasa, diperkirakan baru sampai ke bintang terdekat. Bisa dibayangkan bila astronot harus terbang dengan pesawat konvensional, untuk berangkat saja sudah habis usia di perjalanan.

Bagaimana manusia bisa keluar dari bumi dan menjelajah di ruang angkasa. Dengan teknologi saat ini sepertinya tidak. Untuk ke planet Mars saja dibutuhkan waktu berbulan bulan. Tidak terbayang bila manusia memiliki cita cita untuk menjelajah ke seluruh bintang, bahkan mengunjungi planet di luar tata surya. Dengan teknologi sekarang, dipastikan tidak akan sampai.

Dibutuhkan teknologi pesawat ruang angkasa, yang berbeda dengan disain pesawat saat ini. Tidak mengunakan bahan kabar roket yang berat, tidak mengunakan kecepatan standar. Tapi teknologi yang sangat baru untuk mendorong pesawat lebih cepat.

Beberapa disain pesawat ruang angkasa mulai dirancang. Walau masih terbatas dalam bentuk sketsa dan wacana. Tetapi semua rancangan pesawat ruang angkasa tidak lagi mengunakan teknologi bahan bakar kimia biasa.

Icarus
Seperti disainer Andrian Mann, yang bekerja untuk proyek Icarus. Pesawat ini bukan untuk ke planet Mars, tapi keluar lebih jauh sampai ke bintang tetangga. Disebut pesawat Mann, mengunakan tenaga nuklir dan antimatter.



Pesawat ruang angkasa Nerva.
Pesawat ini mengunakan bahan bakar nuklir. tapi tidak bisa diterbangkan dari bumi karena ukurannya terlalu besar. Harus di rakit di orbit bumi, setelah lengkap baru melakukan perjalanan di antariksa



Pesawat ruang angkasa Orion Spacecraft
Seperti ini bentuk pesawat Orion dengan daya dorong dari berbahan nuklir. Pesawat ini mungkin bisa diluncurkan dari Bumi mengunakan roket Saturn V yang sangat besar. Targetnya tidak terlalu jauh, hanya ke planet Mars.



Bussar Funnel
Terbang di antariksa untuk antar bintang, masalahnya hanya satu. Apakah pesawat ruang angkasa memiliki bahan bakar yang cukup. Robert Bussard menyarankan pesawat ruang angkasa mengunakan sistem magnetik funnel untuk mengambil gas hidrogen yang tersebar di ruang angkasa. Sehingga bahan bakar pesawat dapat di isi selama melakukan perjalanan.



Daedelus
Pesawat ini sudah lama dibuat rancangannya. Dengan 2 tahap sistem pendorong, memiliki kecepatan 12% dari kecepatan cahaya. Seandainya terbang dengan pesawat ini, itupun membutuhkan waktu 50 tahun untuk sampai ke bintang Barnard. Pesawat ini ukurannya jauh lebih besar dari roket terbesar di dunia yaitu roket Saturn. Mengunakan beberapa tangki bahan palet nuklir fusion untuk mesin. Setelha mesin pertama diaktifkan dengan sistem roket, mesin kedua akan mempercepat dan terus menyala. Konstruksi pesawat hanya bisa dirakit di ruang angkasa



Proyek Icarus lainnya
Pesawat ini mengunakan pendorong elektromagnetik VASIMR (Variable Specific Impulse Magnetoplasma Rocket). Fungsinya untuk membawa instrumen dalam pelayaran di ruang angkasa. Beberapa disain seperti Icarus Ortem, Icarus Pathfinder dan lainnya mengunakan sistem roket pendorong yang sama, tetapi berbeda pengunaan. Mungkin untuk membawa instrumen dengan tujuan ke bintang tetangga.




Deep In dengan teknologi laser Photonic propulsion
Profesor Fisika Philips Lubin dari universitas California Santa Barbara membuat ide dengan pendorong laser (Februari 2016). Lubin mendapatkan dana dari Nasa tahun lalu, dan mempelajar teknologi Photonic Laser Thrust atau sederhannya pendorong dengan laser. Mengunakan teknologi ini kata Lubin, manusia bisa mengirim sebuah pesawat antariksa seberat 100kg dan 3 hari sudah sampai di Mars. Kecepatan adalah hal terpenting.

Teknologi roket dengan pendorong Photonic propulsion mengunakan sistem penembakan laser yang diterima dari solar sail. Cahaya seperti Photon laser tidak memiliki massa, tapi memiliki energi dan momentum.
Mampu mentranfer energi kinetik yang kecil dan memantul kembali. Gesekan antara ruang vakum di ruang angkasa dapat mempercepat daya dorong pesawat.
Kata Lubin, kecepatan pesawat dengan Photonic propulsion dapat melaju sampai 30% dari kecepatan cahaya sendiri.

Pesawat ruang angkasa dengan pendorong laser Deep In Photonic 
propulsion



Solar Express
Disai dari Montreal mengunakan pelontar gravitasi. Mirip seperti kereta panjang, dimana satu silinder memiliki panjang 50 meter. Satu kapsul dapat memuat 4 cargo. Di lorong pesawat ruang angkasa, astronot dapat berjalan jalan selama perjalanan yang panjang. Diruang tengah ditempatkan lain seperti ruang istirahat.
Untuk keberangkatan, peawat mengunakan bantuan roket pendorong, dan bahan bakar dapat disimpan sesuai kebutuhan. Kecepatan maksimum disesuaikan dengan tujuan, dan mencapai 1% kecepatan cahaya atau 3000km/s.
Di luar angkasa bagian termahal adalah mempercepat dan memperlambat karena dibutuhkan energi sangat besar. Setelah pesawat meluncur, kebutuhan energi sangat minimal. Kapal dapat dilengkapi senjata laser atau rudal untuk membuang asteroid yang dapat mengenai kapal. Energi matahari dapat dimanfaatkan dari panel surya untuk cahaya listrik dan peralatan. Air dapat diambil selama pesawat melaju, dan mengambil dari komet dan bulan, serta dijadikan pendorong hidrogen.
Pesawat ruang angkasa seperti ini mungkin tidak akan tampak dalam 1000 tahun nanti. Banyak pertimbangan membuat kapal besar ini, tapi ini sebuah ide dasar dari penjelajahan manusia antar planet bahkan intergalaksi. Seandainya dapat dibuat, kecepatan pesawat dapat mencapai planet Mars kurang dari 2 hari dengan jarak 401 juta km. Bahkan dapat mencapai planet Neptunus yang jauhnya 4,7 miliar km dalam 18 hari



Semua rancangan pesawat diatas baru wacana. Ada yang dibuat untuk perjalanan antar bintang, atau hanya membawa instrumen penelitian. Masih ada lagi rancangan pesawat lain untuk melakukan perjalanan ke planet terdekat seperti Jupiter, Saturnuns dan paling dekat seperti Mars.

EM Drive pendorong pesawat ruang angkasa
Satu bocoran dokumen yang tidak dipublikasi Nasa, menunjukan teknologi pendorong roket EM-Drive atau pendorong roket dengan daya listrik dapat bekerja. Hal ini menentang hukum Newton ke 3.
Rover Shwyer penemu EM Drive dari Inggris menjadi konstroversi, karena pengujian yang dilakukan untuk daya dorong EM-Drive disebutkan sangat kecil bahkan dianggap tidak ada. Menarik dari disain roket pendorong EM Drive berhasil dikembangkan oleh China dimana proyek ini awalnya tidak mungkin dibuat.
Bila sistem pendorong EM Drive bisa dibuat dan benar benar bekerja. Untuk terbang ke planet Mars hanya membutuhkan waktut 70 hari. Dibanding teknologi yang ada saat ini membutuhkan waktu 3-4 bulan.

Tapi tim Nasa menunjukan pendorong tersebut dapat bekerja.
Tapi sangat lambat karena pengujian dilakukan dengan 1,2 milinewton / kW. Sedangkan dengan drive ion menghasilkan 60 milinewton /Kw. Kelihatannya teknologi EM Driver sangat kecil, tapi masih lebih kuat dibanding pendorong energi matahari dengan layar surya.

Drive Ion membutuhkan pasokan listrik untuk sumber tenaga dan gas seperti Xenon. Sedangkan EM-Drive dapat bekerja tanpa tenaga surya.
Di ruang hampa, sejumlah dorongan kecil cukup cepat, dan EM Drive hanya membutuhkan sumber energi listrik. Teknologi ini dapat digunakan untuk menjaga posisi satelit stabil di orbit, bahkan digunakan untuk pesawat ruang angkasa untuk melakukan perjalanan ke palnet lain.
Melihat sumber dokumen yang tidak diterbitkan, mungkin saja penemuan tersebut perlu di telah lebih lanjut. Karena masih ada kemungkinan kesalahan yang terjadi dari sebuah percobaan.

Pesawat ruang angkasa dengan pendorong EM Drive hanya membutuhkan 
listrik