September 2014
Satu tim dokter berangkat ke puncak gunung tertinggi di Everest.16 dokter akan mendaki ke Everest. Mereka lebih dahulu datang sebelum 2000 wisatan memulai berkunjung ke Everest. Tim medis tersebut menghabiskan waktu 2 minggu untuk perjalanan menuju ke base camp. Dr. Roger dan rekannya sering mendaki gunung, tapi baru kali ini mencoba mendaki Everest. Tim peneliti ini tidak datang begitu saja, mereka sudah menyiapkan perencanaan selama 5 tahun. Dari logistik, beberapa penelitian, khususnya mencari jawaban dengan penyakit Hipoksia (kondisi dimana tubuh seseorang mengalami kekurangan oksigen di ketinggian)



Everest salah satu gunung dengan perbandingan keberhasilan 15:1. Kecelakaan sering terjadi karena faktor alam serta kelalaian para pendaki. Apa yang dilakukan tim dokter ini. Mereka melakukan uji coba kondisi tubuh di ketinggian, mencatat berapa banyak oksigen yang diterima oleh tubuh. Dengan suhu -25 deg.C, mereka mencoba memaksakan tubuh sampai batas akhir. Dan melihat perilaku tubuh terhadap kondisi ekstrim seperti di Everest. Tujuannya mencari cara dalam pertolongan medis, perawatan untuk pasien yang menderita hipoksia karena kekurangan oksigen. Bila oksigen para pendaki turun sampai ke tingkat paling rendah, mereka akan mengalami rasa pusing dan mual. Bila sekamin parah akan beresiko dengan kematian. Salah satu dampak gunung di Everest seperti orang sedang mabuk, kesulitan bernapas karena udara yang tipis.

Ketika tim dokter menginjakan kakinya, mereka sudah berada di ketinggian 5400 meter dari permukaan lain. Disana tersisa 50% oksigen. Darah manusia mulai berubah warna, dari warna merah sedikit berwarna biru. Setelah melakukan test di basecamp, tim dokter melanjutkan uji coba di jalur pendakian biasa.

Menuju camp 2 paru paru semakin kuat menarik menarik udara, dan jantung bekerja semakin cepat. Tim dokter ini memperkirakan bukan berapa banyak oksigen yang diambil oleh tubuh. Dalam kondisi seperti ini, tubuh akan menyesuaikan diri dengan memanfaatkan jumlah oksigen yang ada. Dr Mic mengatakan dia tidak pernah melihat tingkat oksigen serendah para pendaki di Everest seperti data yang di analisa pada ketinggian camp 2. Dia mengatakan ke temannya sebagai bahan percobaan "seharusnya kamu panik. Karena tingkat oksigennya sudah berada tingkat rendah."  Dia mengatakan, di rumah sakit bila pasien mengalami kondisi di tingkat oksigen seperti ini, si pasien sudah di ruang UGD untuk dirawat intensif.



Terakhir tim dokter membuat lab di camp 2. Kebanyakan pendaki menginap di ketinggian tersebut. Bila test bisa membuktikan bahwa tubuh manusia bisa menyesuaikan dalam kondisi ekstrem. Setidaknya tim dokter dapat membuat prosedur penyelamatan, yang mungkin dapat menyelamatkan ribuan pendaki.



Akhirnya tim kecil mencoba mendaki menuju camp 3. Melintas 7100 meter menuju camp3 saja, para dokter baru mencapai berjam jam. Apa yang dilihat ada di depan mata mereka. Pendaki turis di Everest mendadak jatuh beberapa meter menjelang camp 3. Kebetulan tim dokter yang melakukan percobaan disana memberi nasihat kepada rekan pendaki tersebut. Baru saja diberitakan, tidak jauh satu pendaki yang baru turun dari puncak mendadak lemas menjelang camp3. Seperti banyak berita, mendaki gunung yang berbahaya bukan mendaki tapi resiko lebih besar pada saat kembali turun. Obat dan oksigen dapat membantu menyelamatkan pendaki, tapi obat paling tepat dengan membawa pendaki turun secepatnya dari ketinggian sebelumnya.

Yang membuat kesal tim dokter di camp3, mereka melihat pendaki turis tidak langsung membawa turun temannya. Walau sudah diberi nasihat kami adalah tim dokter "puncak Everest tidak penting, nyawa lebih penting". Bila kamu biarkan temanmu semalam disini, semakin memperbesar resiko kematian. Pendakit tersebut sangat beruntung, karena bertemu dengan para dokter yang membantu dan akhirnya dirawat oleh mereka. Pendaki yang mengalami Hipoksia akhirnya berhasil di evakuasi turun ke camp 2 keesokan pagi.



Terakhir adalah camp 4, disinilah dibuat percobaan lab tertinggi di dunia. Melalui lewat rute manapun, pendaki akan semaki dekat dengan daerahi death zone. Dimana tidak terdapat pelajaran text book kedokteran dengan daya tahan manusia di ketinggian ini.  Manusia dapat hidup dengan kandungan oksigen paling tipis tapi bukan untuk waktu lama. Melewati batas hidup dan mati untuk manusia ketika mencapai ketinggian 8000m. Tim dokter mencari bagaimana manusia bisa hidup dengan kandungan oksigen seperti di Everest.
Di camp 3  tingkat oksigen hanya 40% dibanding oksigen di permukaan laut, dan tersisaa 33% di puncak Everest. Sebagai perbandingan, pendaki harus bernapas 3x pada ketinggian tersebut.

Di camp 4 sebagai lab tertinggi yang pernah dilakukan manusia. Ditemukan lagi satu pendaki lemas. Pendaki tersebut mengalami frostbite dan hiportemia. Di camp 4 tim dokter melakukan test dengan tabung oksigen.

Mereka menganalisa bagaimana tingkat oksigen yang rendah dapat berdampak bagi sebagian orang lain. Sedangkan sebagian pendaki masih dapat bertahan secara normal. Disimpulkan kondisi tubuh pendaki berbeda beda dan berubah bagi mereka yang mampu bertahan. Mengapa sebagian orang mampu bertahan di ketinggian death zone. Tubuh sebagian orang memanfaatkan seefisien mungkin oksigen yang diterima tubuh. Sebagian lagi mengalami kekurangan oksigen sangat fatal, karena otak manusia paling membutuhkan. Jawaban mengapa manusia bisa menyesuaikan diri dalam kondisi ekstrims seperti ketinggian di Everest, adalah faktor genetik yang berbeda.



Penelitian ini menjadi penelitian paling lengkap dengan hipoksia dimana tubuh mengalami kekurangan oksigen akibat ketinggian. Pada kasus fatal dapat berakibat koma sampai kematian. Dr Mic akhirnya mendapatkan jawaban mengapa manusia dapat bertahan dengan hipoksia. Penelitian ini membuka salah satu kunci rahasia tentang kekuatan tubuh manusia.

Video kopian dari siaran TV BBC. Video pertama dari perjalanan awal sampai di camp 3



Video kedua, diteruskan sampai ke camp4 sampai ke puncak Everest

+ www.bbc.co.uk

RAW video menjelang langkah terakhir menuju Summit, hanya 5 menit.



Mei 2017
Penelitian terbaru dengan manusia yang dapat beradaptasi di di ketinggian - BBC
Hari Minggu 21 Mei 2017, Kilian Jornet salah satu ultra runner paling berprestasi di dunia berusaha memecahkan rekor mendaki Everest paling cepat. Dia berangkat tanpa oksigen, tanpa tali. Mencapai puncak dalam waktu 26 jam. Dibanding pendaki lain memerlukan waktu 4 hari, ditambah perlengkapan oksigen. Tapi belum mengalahkan seorang Sherpa Kazi, di tahun 1998 mendaki 20 jam 24 menit.

Mengapa sherpa gunung memiliki tubuh sangat baik di ketinggian. Alasannya, genetik mereka berbeda.
Sementara orang lain yang tinggal lebih dekat di permukaan laut, tidak mungkin bertahan di tempat tinggi dengan tingkat oksigen rndah. Sekelompok ilmuwan asal Inggris mencari jawaban mengapa sherpa memiliki tubuh berbeda. 10 orang peneliti yang tidak biasa tinggal di ketinggian, sebelum berangkat sampel mereka diambil. Dan 2 bulan tinggal di basecamp untuk aklamasi dan data diambil kembali
Data dibandingkan ke penduduk lokal, tapi bukan pekerja seperti sherpa pendaki gunung.

Disini yang berbeda antara tubuh Sherpa dan orang biasa. Pada bagian Mitokondria sherpa, pusat kekuatan sel mereka lebih efisien dibanding Mitokondria orang yang tinggal di kota. Sharpa memiliki tingkat oksida lemak lebih rendah, tubuh sherpa juga menghasilkan energi lebih efisien. Perbedaan genetik mereka dibawah ini
  • Membakar lemak untuk bahan bakar tubuh sangat intensif, artinya oksigen dibutuhkan lebih banyak.
  • Gula yang terbakar untuk energi lebih rendah mengunakan oksigen.
Apakah paru paru dan darah sherpa berbeda dengan orang biasa. Pemimpin peneliti profesor Andrew Murray dari universitas Cambridge mengatakan. Sherpa adalah pemain luar biasa, terutama di puncak Himalaya yang sangat tinggi bagi sebagian orang.

Perbedaan tubuh orang biasa. Tingkat Fosfokreatin yang memungkinkan otot terus berkontrasi bahkan ketika adenosin trifosfat / ATP sebagai molekul yang mengangkut energi kimia di dalam sel akhirnya habis. Fosfokreatin akan turun ketika seseorang berada di tempat ketinggian selama 2 bulan.
Terbalik dengan tubuh sherpa. Fosfokreatin di dalam tubuh sherpa malah meningkat.
Perbedaan kedua. Molekul yang tercipta dalam konsisi kekurangan oksigen dapat merusak sel dan jaringan, dan peningkatan terjadi di tubuh orang biasa.
Sherpa juga terjadi tapi tingkatnya sangat rendah..

Sherpa atau manusia Tibet sudah ada di pegunungan selama 9000 tahun lalu. Sehingga tubuh mereka telah teleran terhadap ketinggian.
Tatum Simonson ahli genetik universitas California San Diego, telah mempelajar keunikan sherpa mengatakan Ini adalah seleksi alam pada manusia yang luar biasa.
Sherpa menghabiskan waktu ribuan tahun dan turun menurun di tempat tinggi, jadi tidak mengherankan tubuh mereka sudah beradaptasi menjadi lebih efisien dalam pengunaan energi dan oksigen kata Murray.
Bila orang lain, aklamasi perlu dilakukan di ketinggian seperti 5000 meter dari permukaan laut. Tapi tubuh orang biasa hanya beradaptasi dalam batas tertentu tapi tidak seefisien tubuh sherpa.