Melihat layar LCD terlalu lama tidak baik. Khususnya dapat menganggu jadwal tidur anda. Tetapi bisa saja meluas menjadi insomnia. Apa teknologi modern memang menganggu kesehatann, khususnya efek cahaya biru.
Ada baiknya memberitahu kepada anak, keponakan, kakak, adik dan lainnya bila mereka terlalu lama mengunakan perangkat dengan pencahayaan lamp LED. Lampu LED digunakan untuk lampu backlit (lampu belakang) pada layar LCD teknologi baru. Dimana mata kita akan terus menatap bidang cahaya tersebut. Berbeda dengan teknologi lampu backlit untuk computer, yang mengunakan tipe neon atau CCFL. Sedangkan semua perangkat portabel langsung memulai pemakaian lampu LED sebagai lampu backlit.

Seorang dokter mata mengatakan beberapa pasien berumur 35 tahun lebih banyak yang mengunakan kacamata. Dahulu hanya mereka yang berusia lanjut lebih banyak mengunakan kacamata. Bagi anak anak akan berdampak insomnia kronis. Dan mempengaruhi perilaku mereka sampai di sekolah. Apa benar ada hubungannya dengan kegiatan orang dengan perangkat elektronik yang menganggu kesehatan.



Dr Richard Hansler, selama 20 tahun terakhir mengkhawatirkan efek cahaya dari lampu LED. Dia bekerja di universitas John Carroll di Ohio. Mempelajari efek cahaya pada malam hari bagi kesehatan. Keterangannya seperti ini, efek cahaya di malam hari adalah hal yang buruk bagi kita dan dapat menganggu tidur. Warna biru dalam putih dapat menurunkan tubuh untuk memproduksi Malatonin yang membantu tidur.

Dimana cahaya biru dari lampu LED berada
Cahaya biru nyaris pada batas cahaya yang tidak terlihat. Sementara warna lain diatasnya adalah cahaya alami. Terlalu terpapar cahaya biru pada mata akan menganggu kesehatan dan sulit tidur. Yang berbahaya pada gelombang cahaya 415-455nm yang dapat menganggu retina mata dimana rentang cahaya biru dimulai dari 380-500nm

Dampak cahaya spektrum Lampu LED warna Biru
Berdasarkan data Vision Council efek cahaya dapat menganggu kesehatan penguna perangkat elektronik. Secara rata rata penguna alat elektronik bekerja 44% di depan layar monitor, 38% mengunakan perangkat ketika bangun, 43% mengunakan perangkat ketika jalan jalan, 26% masih mengunakan perangkat ketika makan, dan 32% ketika melakukan perjalanan.

Dampak pengunaan perangkat elektronik bagi kita
  • Gangguan mata 32,8%
  • Rasa sakit di tulang leher dan bagian belakang 32,6%
  • Sakit kepala 24%
  • Pengelihatan kabur 23,3%
  • Mata kering 22,8%

Cakupan umur yang terkena dampak perangkat digital
  • Lahir dari tahun 1997-2014, sekitar 23,6% atau 1 dari 4 anak anak menghabiskan waktu dengan perangkat. Tapi 22% orang tua tidak terlalu peduli dengan kesehatan anak mereka.
  • Lahir dari tahun 1981-1996, atau 4 dari 10 pemuda. Menghabiskan waktu 9 jam di perangkat digital mereka. 7/10 orang mengalami gangguan mata, 84% dari mereka terlalu banyak mengunakan smartphone, 6/10 orang mengunakan smartphone di kamar tidur dan mengunakan sebagai jam weker.
  • Lahir dari tahun 1965-1980. 1/3  di grup ini menghabiskan waktu 9 jam di perangkat digital. 6/10 melaporkan gangguan pada mata, 48% mengunakan perangkat tablet lebih banyak dari grup lain.
  • Lahir dari tahun 1046-1964. Realtif kecil dengan angka 1/4 setidaknya masih mengunakan perangkat digital. Tapi terkena dampak mencapai 57% gangguan mata lebih banyak. 81% dari usia dewasa keatas memiliki TV sendiri.

Efek Melatonin baru saja dikonfirmasi pada tahun 2001, dan cahaya tersebut biasanya muncul pada spektrum 415-445 nanometer. Begitu terangnya, cahaya biru digunakan pada perangkat lampu LED. Termasuk telepon, monitor, TV, notebook. Akibat tubuh terpapar cahaya biru ini melalui penglihatan, tubuh menunda pembentukan Melatoni pada malam hari. Efekya lebih buruh bagi tubuh karena dapat meningkatkan stres tinggi di retina kalangan muda.

Gejala gangguan pada mata dengan perangkat digital adalah mata tidak nyaman bahkan dapat berwarna merah, kering dan teriritasi. Terjadi kelelahan mata, pandangan kabur, mata berair sampai sakit kepala.

Berbeda dengan lampu pijar tidak menghasilkan cahaya biru, bahkan termasuk tabung CCFL yang ada di layar LCD model lama. Beberapa perangkat saat ini sudah menawarkan kacamata yang menolak cahaya biru. Mungkin dapat dibantu dengan 1 jam sebelum tidur dengan mematikan semua komponen dengan lampu LED.

Beberapa tip menghindari gangguan emisi cahaya biru dibawah ini
  • Untuk computer dapat dikurangi efek cahaya biru dari LCD LED dengan aplikasi Flux
  • Untuk perangkat lain, mungkin sebaiknya dihentikan pemakaiannya menjelang tidur.
  • Biasakan melakukan istirahat pada mata ketika melihat layar, termasuk TV LED, layar monitor LED, sampai smartphone yang pastinya mengunakan cahaya LED. Agak susah karena dibutuhkan waktu 20-20, atau 20 menit melihat layar, dan 20 menit lagi untuk menjauh dari perangkat.
  • Menurut pendapat dari UK Health and Safety, sebaiknya penguna perangkat elektronik menjauhi 5-10 setelah mengunakan perangkat selama 50-60 menit secara kontinue. Bila susah membiasakaan dengan waktu dapat dibantu dengan timer.
  • Usahakan kecerahan pada layar sesuai dengan tingkat cahaya di ruangan
  • Bila tidak bias dilakukan istirahat, sebaiknya mengunakan kacamata khusus untuk menangkis cahaya biru.

Lampu LED memiliki kedipan lebih cepat.

Peneliti mungkin mengatakan, orang tidak dapat melihat kedipan sampai 90 perdetik. Tetapi sekarang kita tahu, mata kita dapat bergerak cepat dari satu arah ke arah lain, setidaknya dapat melihat sampai 2000 kedipan (Flicker) perdetik. Ketika mata kita bergerak, seperti melihat ke arah jendela dengan kereta yang bergerak maka mata dapat melihat tulisan di papan di pinggi rel kereta.

Lampu LED berbeda dibanding lampu neon.  Lampu Neon berkedip 100 kali perdetik, membuat mata kita masih dapat merasakan dari kedipan lampu.

berbeda dengan lampu neon dengan cahaya yang tidak total 100% mati dan hidup kembali. Hanya sampai batasi 35% meredup cahayanya dan kembali terang.

Bagaimana dengan dampak lampu LED untuk rumah dan ruang kerja.

Sejauh ini belum ada penelitian serupa. Perbedaan kedipan lampu LED sangat cepat, tapi lampu menyala dan mati dari 0% sampai 100% ketika menyala. Bebeda dengan lampu neon yang redup sampai 35%. Ada kemungkinan lampu LED dapat menyebabkan efek yang menjengkelkan dan menganggu penglihatan yang disebut Saccades.
Lampu LED yang berkedip terjadi pada lampu LED listrik


Berbeda dengan lampu LED dengan arus searah, sehingga cahaya lampu tetap konstan. Tapi membuat lampu LED seperti ini membutuhkan biaya tambahan, dan menjadi lebih mahal serta usia lampu LED lebih pendek.

Lampu LED listrik memiliki kedipan dan mata dapat merasakan flicker lampu LED


Percobaan dilakukan dengan kedipan 1000kali perdetik, mata manusia masih dapat terlihat dengan jelas. Ketika kedipan sampai 3000x perdetik membuat gambar tidak jelas.

  • Risks of seizures due to flicker at frequencies within the range ~3- ~70Hz
  • Human  biological  effects  due  to  invisible  flicker  at  frequencies below ~165Hz
  • The differences between “visible” flicker and “invisible” flicker and any relation to health risks
    A  few,  typical  driving  approaches  in  LED  lighting  that  may produce flicker. 

Lampu LED hanya berkedip 400 kali perdetik. Jadi masih dapat terasa oleh mata. Hemat energi membuat dampak lain antara biaya ekonomis dan usia lampu. Ketika membeli lampu LED memang, kita tidak dapat memilih. Bila terganggu dan lebih nyaman dengan lampu neon, dapat memanfaatkan lampu neon di beberapa tempat agar memberikan kenyamanan. Mengingat lampu LED yang dipasarkan sudah mengikuti  aturan standar yang berlaku.