Hardware tidak selamanya score tertinggi itu baik


Kategori : Hardware | Date : 22 June 2014
Masyarakat IT sering melihat kemampuan hardware berdasarkan angka. Angka didapat dari sejumlah test, angka terbaik diartikan hardware terbaik. Umumnya lebih cepat, tentu lebih bagus. Apakah angka tersebut menunjukan kualitas.

Mungkin sekitar 13  tahun lalu sebuah produsen motherboard mengeluarkan satu model motherboard. Score sangat baik, stabil, lulus test stress dan mendapatkan banyak bintang di media hardware internet dan majalah IT. Memberikan garansi pemakaian lebih tinggi dari produsen lain. Apa yang terjadi, banyak motherboard rusak bahkan 20 berbanding 1. Di luar negeri, motherboard tersebut aman saja, tetapi di Indonesia ternyata mendapatkan kualitas kurang baik. Karena banyak penguna computer mengunakan power supply kelas bawah , ditambah disain case tanpa pendingin yang baik. Dan produsen mau menjamin pengantian motherboard yang gagal kerja selama 3 tahun masa garansi, walau akhirnya merek tersebut tutup.

Satu merek motherboard 5 besar mendapatkan score tertinggi, semua media mengatakan motherboard model X dari produsen Y adalah yang terbaik. Satu media hardware senior akhirnya mengungkap, motherboard yang diuji di seluruh media ternyata mengunakan kecepatan Bus 101 Mhz, sementara produsen lain mengunakan Bus 100Mhz atau kurang. Seluruh media yang menguji hanya melihat setting di BIOS tapi tidak memberikan keterangan bahwa model X dari produsen Y tersebut sudah di Tweak atau di Cheat 1 Mhz. Motherboard tersebut tentu mendapatkan score tertinggi, karena hasil cheat. Media tidak bisa disalahkan karena mereka menguji berdasarkan setting BIOS, produsen motherboard juga tidak bisa disalahkan. Karena mereka hanya membuat. Yang rugi adalah pembeli, menganggap mendapatkan motherboard lebih cepat dari model X dan membayar lebih mahal, tapi mereka tidak jeli melihat hasil test seperti apa. Score tidak bisa menjadi acuan sebuah hardware dengan kemampuan terbaik. Chip sama, hardware sama, bila sebuah perangkat memiliki performa 1-3% lebih rendah. Bukan berarti produk tersebut kurang baik.

Satu produsen procesor pernah mengeluarkan motherboard pertama dengan teknologi memory RAMBUS. Bila sekarang kita mendengar dual channel, teknologi RAMBUS di awal 2000an sudah mengunakan dual Channel. Memory RAMBUS atau RDRAM lebih mahal 2x lipat dari memory SDRAM. Entah mengapa atau mungkin terlalu mahal, pabrikan procesor membuat solusi dengan menambahkan adapter card untuk motherboard RAMBUS agar dipasang memory modul SDRAM. Hasilnya dalam beberapa bulan, motherboard yang siudah terjual terkadang gagal bekerja, motherboard terkadang reset secara acak tanpa kejelasan. Apakah pabrik chipset tidak menguji terlebih dahulu disain adaptor memory modul sebelum dilepas ke pasar. Hanya karena RAMBUS lebih mahal, lalu diakalin saja dengan adaptor memory SDRAM agar lebih murah. Beruntung pemasaran motherboard tersebut belum terlalu banyak. Bagi mereka yang sudah membeli motherboard, diberikan pengantian dengan pengantian motherboard lain. Tentu yang rugi ada pembeli, karena harus rugi waktu dan bersiap menganti motherboard berbeda.





Satu merek motherboard pernah mengeluarkan fitur baru dengan kecepatan dinamis procesor. Tujuannya agar kecepatan procesor dapat turun naik mengikuti beban kinerja software. Apa yang terjadi bagi penguna. Seakan computer naik turun ala rooler coaster, FSB procesor dimainkan dari 100Mhz naik ke 102Mhz terkadang naik ke 110Mhz. Sehingga terasa seakan lebih cepat terkadang lambat. Hasil test di media menunjukan dalam angka bahwa sistem tersebut computer dengan motherboard tersebut memiliki kinerja lebih baik. Tapi bagi penguna malah membuat gregetan. Untungnya sistem FSB yang di utak atik tersebut bisa di matikan. Fitur baru, tapi beberapa pembeli tidak menyukai. Bisa dibayangkan bila bermain game mendadak kecepatan gambar di layar seperti rooler coaster. Mengapa pabrik motherboard tidak menguji terlebih dahulu sistem yang mereka buat. Biar mereka merasakan betapa pusing kepala melihat gambar dilayar seakan dipercepat dan diperlambat.

Kasus dari AMD yang mengeluarkan VGA seri Radeon X series. Pertama keluar langsung mendapat sambutan hangat para gamer, kecepatan memang menjanjikan, tetapi hanya produk yang di test oleh media internet. AMD agak lambat mengeluarkan produk aslinya dipasar. Setelah muncul dan   pembeli mengeluh. Performanya lebih rendah dari hasil test, dari masalah suara fan yang bising, kecepatan GPU yang menurun dan lainnya. Untungnya AMD bisa memperbaiki masalah tersebut, setelah menemukan masalah dari driver yang belum sempurna.

Bulan ini kembali muncul dua merek SSD yang sudah dirubah dari spesifikasi aslinya. Ketika di tangan media memiliki angka score 100%, tapi beberapa bulan kemudian ada penguna yang mencoba dan merasakan performa berbeda. Kecepatan tidak 100% seperti hasil test, hanya 80% bahkan kurang. Setelah ditelili oleh media, akhirnya terungkap. Chip atau Controller ternyata berbeda antara versi media dengan produk yang dipasarkan. Setidaknya berubah beberapa bulan setelah produk mulai dijual ke pasar. Alasan produsen, mereka memang menganti walau terjadi perubahan performa. Hal lain untuk diproduksi lebih terjangkau dan mereka menawarkan produk sesuai iklan yang mereka buat. Bila komponen ada yang diganti, mengapa tidak dipublikasikan bahkan tetap mengunakan tipe atau model yang sama. Atau dibuat revisi dari model pertama dan model yang sudah dirubah, dan diumumkan pada label produk. Siapa yang salah, produsen tentu tidak salah karena mereka menawarkan produk sesuai label yang mereka tawarkan. Media yang menguji tidak salah, karena mendapatkan hasil pada saat pengujian. Yang salah adalah pembeli karena tidak teliti dan hanya mengandalkan model dari hasil test.

Informasi diatas adalah sebagian dari kemampuan hardware dalam mengejar angka benchmark.



Score hanyalah angka, hanya menunjukan sebuah performa sebuah produk sesaat. Bila score tinggi, apakah produk yang dijual memang handal. Atau umurnya hidupnya lebih pendek dari produk lain, atau memang memiliki mutu yang baik. Di awal tahun 2000an, banyak produsen berlomba menawarkan produk dengan kinerja lebih tinggi. Ketika itu banyak modder atau penguna computer melakukan overclocking. Mungkin sekarang overcloking tidak terlalu menarik. Umumnya penguna hardware lebih memilih perangkat yang hemat power, murah dan umur pemakaian lebih lama. Sisanya dianggap sebagai bonus saja.

Kondisi produk computer saat ini agak berbeda dibanding 10 tahun lalu. Masing masing produsen menawarkan harga lebih murah sebagai kunci sukses di pasaran. Memaksa produsen harus memangkas biaya produksi dengan komponen lain. Apakah yang murah lebih jelek, atau lebih baik. Hal ini agak sulit dibuktikan kecuali seiring waktu bahwa produk mereka memang handal. Setidaknya produsen mau memenui garansi yang mereka tetapkan, dan menjamin bila terjadi kerusakan dari produk mereka.

Akhir kata, score benchmark hanya angka dan bukan kemampuan produk ketika dipakai. Bila 2 buah storage menyebut kemampuan umur data penulisan sampai 700TB. Pada kenyataannya satu merek malah mampu bekerja lebih mencapai 1000TB, jangan salahkan merek yang lain yang gagal bekerja. Selama produk tersebut memang sudah memenuhi pemakaian 700TB sesuai iklan mereka

Bagi kita sebagai penguna seharusnya lebih cermat. Dengan melihat pengalaman dari sebuah produsen agar tidak tertarik dalam konflik persaingan harga dan marketing. Untuk opini, belilah perangkat sesuai kebutuhan, dibanding mencari kecepatan yang mungkin tidak pernah kita butuhkan.


Kecepatan memory DDR dengan CAS dan NS seperti paradok. Selalu berbanding terbalik, tapi kita salah melihat kecepatan memory bila kecepatan clock speed berbeda. CAS adalah kecepatan memory ketika dipasang, sedangkan di dalam chip maka kecepatan memory mengunakan angka NS.

Perkembang procesor Intel sejak tahun 2011 setidaknya sudah mengeluarkan 3 model procesor, dari seri 2000, 3000, dan 4000 dan generasi ke 6 Skylake di seri 6000. Apakah procesor lama lebih lambat dari procesor baru, seberapa jauh kemampuan procesor lama.



Perbandingan 5 model procesor dari Intel Ivy Bridge, Haswell dan Sandy Bridge. Dan 2 model procesor FX serta seri A. Untuk procesor Intel, hanya memiliki selisih 12-5 persen saja dari masing masing generasi. Tertinggi dengan Core i 7 4770K.

Posisi mendatar tetap lebih baik dibandingkan vertikal, tetapi tidak banyak berdampak. Apakah akan merusak harddisk bila harddisk dipasang vertikal. Tidak juga, semua posisi aman bagi harddisk. Berapa lama umur harddisk bila di pasang dengan benar.

Versi ECS, sekarang membuat motherbord berkualitas. Apa beda motherboard murah dan motherboard mahal. Tentu ada, kualitas pastinya. Mengapa harga motherboard ada yang mahal dan murah.

Satu power supply merek Suntai dijual murah.

2 merek power supply kemungkinan menempatkan label bodong.



No popular articles found.