Tiongkok properti mulai gerah terlalu banyak rumah yang dijual


Shortstory | 28 May 2014

Booming ekonomi, pendapatan meningkat, memiliki rumah baru menjadi pilihan. Tapi itu cerita lalu, properti di Tiongkok tidak seindah masa jayanya. Harga terus merangkak naik, lalu apa yang terjadi. Apakah harus kembali turun atau tidak laku lagi. Masa emas untuk properti di Tiongkok sudah selesai. Menurut Bloomberg, perusahaan properti mulai menawarkan paket diskon untuk pembelian kelompok. Khususnya rumah mewah mulai tidak laku lagi. Sampai satu properti mall membuat merek palsu agar terlihat seperti mall internasional

Nilai saham perusahaan properti Vanke


Seperti Amerika ketika masyarakat mendapatkan kemudahan kredit untuk kepemilikan properti, semua berbondong bondong mengambil. Setelah krisis ekonomi terjadi, sebagian besar kredit macet dan yang meminjam menyerahkan kembali cicilan rumah ke bank. Giliran bank yang sudah mengucurkan dana kelimpungan menghadapi resiko kredit macet sangat besar. Banyak karyawan hanya ikut-ikutan membeli properti, akhirnya harga properti naik. Ketika krisis terjadi semua kembali ke titik awal. Mengapa kredit macet terjadi di properti Amerika tahun 2007. Karena banyak karyawan dirumahkan. Tentu ada yang untung, mereka yang sudah melepas properti sebelum harga anjlok.

Dari WSJ. Kota Tianjin di utara sampai Nanning selatan sekarang diberikan kelonggaran batasan pembelian serta kredit rumah. Pihak berwenang berharap dapat memulihkan dari kemerosotan penjualan rumah yang turun 9.9%. Angka penjualan sudah jatuh 24,5% dibanding kuartal tahun lalu. Pengembang menghadapi persepsi masyarakat mengenai naiknya harga real estate. Pembeli potensial menahan diri untuk membeli. Satu pembeli Summer Fan 29 tahun sudah mencoba menjual apartemen yang dibeli karena dekat dengan sekolah anaknya. Tahun lalu ditawar 800.000 yuan (sekitar 1,4 miliar rupiah), saya menyesal tidak melepasnya.

Perlambatan properti di Tiongkok sangat cepat, dan lebih serius di banding tahun 2008 dan 2011. Lemahnya pasar properti akan berimbas ke industri, seperti pabrik semen, peralatan rumah tangga, dan pabrik baja. Industri properti memberi konstribusi secara langsung bagi pendapatan domesktik bruto negara sebesar 12%. Sejumlah pengembang properti telah menyatakan kekhawatiran mengenai pasar. Properti di Tiongkok kabarnya stabil, dan penjualannya masih stabil. Tetapi kelebihan pasokan akan terlihat dalam beberapa tahun kedepan.

Melirik ekonomi Tiongkok seperti imbas ekonomi Indonesia menjelang 1990an. Ketika bank memberikan kemudahan pinjaman ke masyarakat. Bunga bank mencapai 18-20% pertahun. Apa yang terjadi ketika ekonomi melemah, muncul kredit macet dan bunga pinjaman terus naik. Sampai di tahun 1997 terjadi krisi ekonomi dengan meningkatnya dollar dari Rp.2500 menjadi Rp.4500. Dan terus berimbas sampai jaminan rumah yang disita bank, lalu diobral hanya separuh saja pada awal tahun 2000an. Tujuannya hanya satu, mengembalikan dana bank dari pemilik rumah agar mereka mau mengambil rumah mereka kembali dengan potongan harga ditangan BPPN. Bagi pengusaha yang lolos dari krisis ekonomi tidak masalah membeli kembali jaminan mereka, tapi yang sudah jatuh miskin karena tidak memiliki usaha tetap saja tidak mampu menebus rumahnya kembali.

Melihat ekonomi Indonesia saat ini, undang undang agraria tidak mengijinkan kepemilikan tanah untuk orang asing. Nyatanya bisa dilihat di pulau Bali. Banyak pengelolaan tanah pertanian dibeli warga asing yang bermitra dengan penduduk setempat. Cepat atau lambat, pulau Bali hanya akan berisi vila atau hunian untuk hotel dan harganya terus naik. Kasusnya sama seperti di Jakarta, banyak keluhan pajak bumi bangunan naik 2x lipat bahkan di beberapa tempat melonjak tajam. Bagi mereka yang berpenghasilan cukup tentu tidak masalah, tapi mereka yang sudah tinggal lama dan tinggal pas pasan akan kaget melihat hutang PBB tahun ini Karena mendadak naik 2x lipat dibanding nilai tahun lalu. Bila harga tanah naik lalu so what gitu loh.
Bila satu tempat pernah ditawarkan 1M, dalam 5 tahun menjadi 3M, dan 2 tahun naik menjadi 5M. Patut dipertanyakan siapa yang membeli. Jangan jangan dana asing yang bermain untuk investas properti di Indonesia.

Properti adalah rumah atau tempat usaha sekaligus dijadikan media investasi. Tapi membeli 2-3-4 rumah untuk investasi hanya menyulitkan masyarakat yang membutuhkan. Apalagi mengunakan dana dari pinjaman. Semakin banyak pemain disana, semakin cepat pasar properti goyah. Selama ekonomi stabil, properti akan terus naik dan semakin tidak terjangkau. Bila ekonomi melemah, bersiap saja dana tertahan di sektor properti.
Seperti apa ekonomi yang baik, pastinya stabil. Harga tidak berubah, nilai mata uang stabil dan jumlah penduduk yang merata. Dengan kestabilan harga maka sebuah negara memiliki ekonomi yang kuat. Kali ini berbicara hati nurani, ingin kaya dengan spekulasi tanah atau menjadi diri sendiri.

Berita terkait
Disebut kota hantu, karena penduduk tidak mau pindah kesana. Ada yang terlalu mahal dijual, kebanyakan tidak tertarik pindah ke kota baru. Satu shopping mall terbesar, sekarang sudah tidak berpenghuni lagi. 30 tahun rencana memindahkan penduduk kota ke kota baru tetap gagal.

Presiden China Xi Jinping mengatakan, tidak ada lagi arsitek yang aneh aneh. Sepertinya presiden Tiongkok sudah kesal melihat gaya properti disana. Pak Presiden mengatakan seni seharusnya bersinar seperti matahari. Katanya sangat dalam.



Di dekat stasion kereta api Wuxi Timur provinsi Jangsu. Ada sederet toko tiruan muncul, terlihat seperti merek terkenal. Pengembang gedung Shimao Skyscrape telah mengisi lantai bawah mereka dengan toko palsu.

China boleh dibilang makmur. Bahkan sudah masuk negara maju bersanding dengan negara Eropa dan Amerika. Tapi harga rumah di beberapa kota besar disana mengila, bahkan lebih mahal dari rumah di kota besar negara maju.




No popular articles found.