Dengan teknologi smartphone, masyarakat lebih mudah menerima pesan email.

Atau pesan chatting dari teman, keluarga sampai atasan disamping untuk menerima telepon.

Tetapi kemudahan ini malah membawa seseorang tidur dengan smartphone. Apa dampak smartphone paling dekat dengan masyarakat.

Banyak kebiasaan yang tidak disadari dengan hadirnya smartphone.

Sebelum tidur pasti melihat media sosial, email, foto teman di instagram dan lainnya.

Peneliti mengatakan bahaya radiasi signal handphone atau WIFI belum berdampak bagi kesehatan.

Tapi ada gangguan lain yaitu cahaya dan kebiasaan melihat smartphone yang menganggu. Karena cahaya dapat meningkatkan otak melepas hormon Melatonin dan berdampak dengan jam tubuh alami.



Ketika seseorang tidur, melihat smartphone dalam kondisi lampu mati. Hal tersebut akan menganggu tidur dan mata penguna sendiri. Satu infografik mengambarkan kebiasaan buruk dari penguna smartphone.
  • 95% pemilik perangkat elektronik di Inggris akan melihat smartphone mereka menjelang tidur. Setidaknya sekitar 1 jam.
  • Mereka yang berusia 18-29 tahun malah tidur dengan smartphone disamping
  • 50% ada yang terbangun hanya untuk melihat pesan atau informasi di smartphone.
Apa lagi kebiasaan kurang baik dengan teknologi modern. Sekitar 25% pemilik smartphone langsung tidur tanpa mengecilkan volume atau membuat silence mode. 10% rutin bangun untuk memeriksa email, telepon atau chatting.
Tidak hanya smartphone, efek televisi yang ditonton menjelang tidur juga berdampak bagi kualitas tidur. Karena jantung akan lebih cepat ketika menonton televisi.

Apa bahaya smartphone lainnya bagi kita.
Text Neck - Masalah tulang leher ketika membaca atau melihat layar smartphone.
Kecelakaan - Hal paling umum terjadi di jalan raya, pengemudi asik melihat smartphone dan menabrak kendaraan atau orang dijalan.
Gelisah - Muncul perasaan tersebut ketika tidak terhubung dengan teman lain.
Kurang bergerak -  Dampaknya penguna smartphone mengalami obesitas. Dan dapat menimbulkan penyakit lainnya.
Depresi - Masalah informasi yang semakin mudah dibaca. Tapi salah membaca artikel yang negatif.
Hubungan - Juga menjadi masalah bagi orang tua dan anak anaknya, atau teman lain. Ada sisi positif dan negatif, yang negatif seperti kurang peka membaca ekpresi orang lain dan perbedaan cara berkomunikasi yang baik dibanding komunikasi konvensional
Terakhir adalah mata, cepat atau lambat dapat menganggu penglihatan menjadi rabun seseorang lebih cepat dari biasanya kata David Alimby badan Focus
Satu kejadian seorang wanita usia 21 tahun mengalami kebutaan sebelah mata akibat terlalu lama mengunakan smartphone

Sekarang peneliti yakin bahwa ada faktor lain seseorang mengalami gangguan tidur atau tidak bisa tidur dengan baik. Berbeda dengan efek membaca, membuat seseorang tidur dengan nyenyak. Atau menulis buku harian juga dapat membantu tidur. Hal lain untuk memperbaiki tidur dengan mendengar musik santai atau membaca eReader.

Berapa banyak waktu habis dengan smartphone.
Manusia menghabiskan waktu tidur seumur hidupnya selama 26 tahun.

Mengunakan smartphone intensif dapat melihat smartphone 10x perjam, atau rata rata 110 kali setiap hari. Bahkan ada yang mencapai 900 kali setiap hari.

Terlalu intensif mengunakan smartphone, artinya manusia menjadi kurang produktif. Kecuali memang seseorang tidak produktif. Yang dimaksud, orang yang sering melihat smartphone menjadi reaktif, sepeti menanggapi pembicaraan , pesan atau email orang lain. Walau hanya membaca pesan yang tidak terlalu penting, bahkan tidak penting sama sekali.

Bagi sebagian orang tentu tidak merasa nyaman. Bahkan ada yang terlalu rajin membalas pembicaraan yang sampai akhirnya menjadi reaktif dengan orang lain.

Greg McKeown penulis sebuah buku mengatakan smartphone dapat membuat kegelisahaan yang diciptakan sendiri. Memerika smartphone, untuk mengetahui ada apa disana.

Itu hanya dunia maya, lebih penting melihat dunia nyata, katanya.

Anak anak terlalu banyak mengunakan smartphone
Bagian penting lain yang diteliti oleh ilmuwan adalah masalah anak anak yang terlalu dini mengunakan gadget smartphone dan tablet.

Anak sekarang lebih lama mengunakan smartphone. Dbanding anak anak tahun 2011 yang hanya 2 jam 19 menit sehari mengunakan perangkat elektronik.
42% anak anak sekarang memiliki tablet sendiri. Tahun 2011 hanya 1% saja. 10% perangkat terhubung ke internet.

Layar smartphone atau tablet membuat orang tua tidak berdaya, jadi diberikan sesuai permintaan maka anak anak akan terlihat gelisah dan marah.

Dahulu ada kata TV mengunakan otak anak anak menjadi bubur, lalu video game dan sekarang smartphone.

Tetapi smartphone bukan TV, melainkan sebuah computer yang sangat kuat, lengkap dengan camera dan telepon seukuran saku.
Sedemikian canggihnya membuat anak anak kecanduan.

Peneliti mengatakan pergeseran ini tidak biasa, dari iPod untuk musik, ke tablet lalu smartphone kata Jenny Radesky, asisten profesor pediatri di University of Michigan.

Perangkat smartphone bersifat individual dan meminta seperti ketagihan. Demikian juga terjadi pada sebagian remaja dan orang dewasa
Bila sudah terlalu lama, sebaiknya dibatasi kata DeWitt dari PBS Kits. Sebaiknya layar hanya diaktifkan sebaik mungkin untuk kehidupan mereka.

Kutipan buku iGen generasi iPhone
Psikologi dan penulis dari universitas San Diego Jean Twenge mengatakan ada dampak perilaku dan kesehatan pada remaja dengan smartphone.
Salah satunya depresi yang meningkat sejak 2011. Remaja lebih banyak menghabiskan waktu melihat layar smartphone akan menimbulkan pertengkaran.

Artikel yang ditulis dengan judul Smartphone menghancurkan satu generasi. Jean membuat ulasan lengkap dengan grafik dan mengambil contoh dengan iPhone.
Survei 2017 dari 5000 remaja, dengan perbandingan 3 iphone yang dimiliki oleh 4 remaja.

Mereka lebih sedikit bergaul dengan teman mereka karena munculnya smartphone. Bila remaja sudah mengunakan smartphone lebih dari 3 jam, dapat memiliki resiko masalah mental. Jauh dengan orang tuanya sendiri, dan cenderung mengatakan iya iya ketika di depan smartphone.

Disebut generasi iGen atau iphone generasi. Kalau dahulu para remaja mengatakan, lengan mu makin kencang saja, atau baru pulang mendaki gunung. Mungkin sekarang sudah tidak ada kata seperti itu. Dikutip dari buku iGen