Dari ESA membuat merekam keadaan di dalam kapsul ruang angkasa Soyuz.

Ketika tinggal di stasiun ISS. Mata para astronot terasa terganggu. Karena cairan di bola mata tidak turun tertarik oleh gravitasi. Memungkinkan bagian rongga mata atau disebut gangguan  "visual impairment intracranial pressure syndrome (VIIP)".
Tidak semua astronot, tapi beberapa orang mengalami gangguan penglihatan. Akibat perbedaan tengkorak rongga mata dari masing masing astronot, dan kecenderungan juga terjadi bagi astronot yang tinggal terlalu lama.
Pengelihatan dari 20/20 akan menjadi 20/100 bila astronot tinggal selama 6 bulan. Bayangkan bila astronot harus pergi ke Mars yang membutuhkan waktu cukp lama, setidaknya selama 9 bulan.

Resiko lain adalah radiasi. Di ruang angkasa, astronot menghadapi radiasi lebih tinggi dibanding di Bumi.

Pulang dengan pesawat ke Bumi, seperti naik rollercoaster yang dibanding kesana kemari
Rekaman dibuat selama 20 menit sebagai gambaran bagi astronot ketika lepas dari stasiun ISS untuk kembali ke bumi. Seperti apa sih di dalamnya, lebih kacau dari rollercoaster.

Modul Soyuz rata rata memerlukan waktu 2 jam 30 menit sebelum turun dan membuka parasut untuk mengurangi kecepatan di daerah atmofer bumi. Sampai modul turun dengan kecepatan 800km perjam. Sampai mendekati permukaan tanah, roket pendorong akan menahan benturan ke tanah. Selama 2 jam tersebut disebut roller coaster

Cerita pengalaman astronot itu kadang tidak enak. Mantan astronot khusus di ruang pengobatan Michael Barratt menceritakan pengalamannya. Sama saja seperti kerja di bumi, sama stress. Di ruang angkasa paling kacau ketika lengan robot macet dan kebetulan ada astronot diluar untuk kegiatan luar ruangan maksudnya ruang angkasa. Untuk berangkat saja memiliki resiko, kita harus duduk di atas 50 ribu ton bahan bakar yang mengirim roket ke stasiun. Sampai disana astronot bertanggung jawab menjaga sebuah stasiun ruang angkasa senilai 100 miliar dollar.

Bagamana astronot melatih dirinya dari kesunyian. Katanya mereka akan di uji seperti dimasukan ke dalam air seperti ruang simulasi selama 1-2 minggu. Dan jalan jalan di daerah yang sangat dingin, untuk belajar bertahan hidup bersama satu tim. Kami menghabiskan seminggu di sebuah gua di Sardinia dalam kegelapan total. Setiap calon astronot dapat saling mengenal, merasakan susahnya bersama, dingin bersama dan dapat saling merespon kebutuhan orang lain.

Cerita pulang dari stasiun ruang angkasa. Tempat pendaratan paling umum kapsul pesawat akan jatuh dan berada di daerah Kazaktan. Astronot melakukan persiapan dengan simulasi ketika memasuki orbit bumi. Termasuk kondisi kritis bila terjadi sesuatu. Disebut di atas guncangan rollercoaster untuk kembali ke bumi. Lepas dari ISS , modul Soyuz membutuhkan waktu selama 3-4 jam untuk kembali ke bumi.



Tinggal di stasiun ruang angkasa tidak nyaman kata astronot yang pernah tinggal disana. Disana terdapat satu perangkat untuk memonitor puing. Dan memiliki program untuk memanuver stasiun untuk menghindar bila ada benda yang mendekat. Dalam sejarah Nasa, stasiun ISS telah melakukan 22 kali manuver karena menemukan puing yang membahayakan

Bagaimana bila peringatan datang terlambat. Astronot harus  berlindung di modul Soyuz. Sebelum masuk ke modul tugas sebelumnya harus mengunci semua pintu modul tapi tidak dikunci, agar tidak terjadi dekompresi. Modul tersebut sebagai cadangan bila terjadi sesuatu di stasiun ruang angkasa. Setidaknya astronot bisa menyelamatkan dirinya dalam modul pendukung kehidupan.

 ISS sebagai stasiun ruang angkasa akan merubah posisi modul mengarah sejajar ke bumi dan dilepas. Tujuannya agar tidak bertabrakan dengan lab ruang angkasa tersebut. Maklum stasiun ISS ukuranya setara satu lapangan Football, bila modul salah dilepas akan menghantam panel surya yang sedemikian besar.

Kait Soyuz dengan stasiun ISS dilepas dengan dorongan per dan perlahan terlepas menjauh, barulah roket kecil di Soyuz dinyalakan untuk mengarah turun perlahan. Dimulai tahap paling berbahaya ketika memasuki orbit. Bila roket tidak tepat atau kurang kuat memberikan dorongan untuk memasuki orbit, kemungkinan modul Soyuz akan terpental kembali keluar gravitasi bumi. Dengan kata lain, astronot tidak pulang selamanya. Bila terlalu banyak mendorong ke arah bumi, modul Soyuz akan turun terlalu cepat dan terjadi gesekan dengan atmosfir yang mencapai panas 2000 derajat C atau setara dua kali titik didih besi.

Di ketinggian 140km modul orbit, peralatan dan modul utama terpisah. Rekaman simulasi video dimulai pada menit ke 10 dimana jendela di ceritakan seperti api atau plasma yang membakar modul karena gesekan dengan atmofer. Gaya tarik bumi mencapai 4G di dalam modul, padahal ketinggiannya masih berada di 35km dari permukaan Bumi. Teknologi modul Soyuz mengunakan sistem pemandu otomatis mengunakan computer, bila semua berjalan lancar.

Bagaimana bila pemandu otomatis ternyata gagal bekerja atau blep alias error. Astronot dapat mengambil alih secara manual untuk mengarahkan modul mendarat. Disini masalahnya akan lebih buruk lagi, karena astronot akan mendapatkan tekanan 9G bila melakukan pendaratan manual. Terbayangkan dengan gaya tarik 9G, harus memegang sebuah joystick dan panel layar di ruang sempit yang cukup untuk 3 orang saja.

Setelah modul mencapai ketinggian 10,5km, kecepatan modul melambat dari  28.000km perjam menjadi 800km perjam dan parasut dibuka. Parasut terbuka otomatis tetapi parasut tidak bisa dibuka manual. Bagaimana bila parasut utama tidak bisa terbuka, tenang saja masih ada parasut cadangan. Sampai disisi ini aman bagi astronot untuk sampai ke permukaan Bumi.

Sebelum menyentuh tanah, roket dibawah kapsul akan menembakan roket untuk membuat melakukan soft landing. Kata astronot sebenanrya bukan soft landing tapi persiapan bagi astronot untuk mendapatkan guncangan terakhir. Kata Soft Landing adalah sentakan dari dorongan keatas sebelum modul menyentuh tanah.

Dari sana astronot tidak langsung pulang, tapi harus melakukan rehabilitasi karena terlalu lama berada di ruang angkasa. Efeknya akan merubah kekuatan otot astronot walau sudah berolahraga di stasiun ISS.