Nov 2013
Untuk kalangan remaja mulai meninggalkan Facebook. Facebook sendiri sudah mengakui, penurunan remaja di situs Facebook. Remaja sekarang sudah eksodus ke aplikasi Chatting seperti Whatsapp, WeChat dan KakaoTalk. Terlihat Facebook menjadi korban kesuksesannya sendiri.

Banyak remaja tidak suka lagi di Facebook, karena Facebook juga populer di kalangan dewasa. Termasuk ayah, paman tante, mbok, nenek, kakek, eyang semuanya ikutan Facebook. Bayangkan bila seorang remaja membuat foto unik untuk temannya dan dilihat orang tua atau kakek nenek mereka.

Whatsapp muncul tahun 2009, dan sudah mengoyangkan dominasi SMS di jaringan telekom. Pendapatan dari SMS mereka turun karena apikasi Chatting. Whatsapp populer di Inggris, setengah iPhone mengunakan Whatsapp. Bahkan 90% penduduk di Brasil mengunakan  aplikasi Whatsapp. 3/4 orang Rusia mengunakan Whatsapp. Menurut data Tyntec dari konsultan mobile, Whatsapp di Spanyol di pasang 95% smartphone disana.

Mengapa aplikasi Chatting lebih mendominasi kalangan remaja. Sangat mudah, remaja butuh aksi realtime dan aplikasi Chatting bisa melakukan kebutuhan tersebut. Remaja membutuhkan privasi, mungkin bagi semua orang. Pembicaraan hanya untuk kalangan yang sudah dituju saja.

Aplikasi Chatting mampu mengirim dan menerima file, seperti Natalie West yang bekerja di London mengunakan Whatsapp untuk mengirim foto dan laporan penjualan. Tentu tidak bisa dilakukan di Facebook, kecuali anda ingin semua orang mengetahui apa yang anda lakukan.

Alasan lain, untuk foto. Membuat foto lucu lucuan dan dilihat teman yang dituju akan aman dibanding ngepost ke Facebook. Tidak akan dicemoh atau dicela dan hal negatif lainnya. Seandainya ada, pengirim foto tidak peduli karena yang menerima teman mereka sendiri. Di layanan seperti Line, WeChat atau Kakaotalk lebih lucu, setidaknya ada stiker yang bisa dijadikan lelucon untuk teman mereka. Membeli stiker tidak terlalu mahal bagi remaja, yang nilainya dibawah 1 dollar. Belum lagi dari layanan game di smartphone, memperkaya aplikasi messenger sekarang. Aplikasi Chatting dari Asia seperti Line dan Kakaotalk menarik penguna di Amerika sendiri. Walau gaya yang ditampilkan masih budaya Asia seperti tampilan Mangga.

Kabar lain mengatakan Google sudah main mata dengan Whatsapp. Facebook bertahan dengan layanan messenger buatannya sendiri. Apple tetap mempertahankan iMessagenya. Bagaimana dengan Google+ pesaing Facebook. Google+ masih menikmati pengembangan aplikasi. Salah satunya layanan foto untuk pencinta fotografi. Kemarin sudah di update dari aplikasi Nik software yang kabarnya lebih bagus dari Instagram. Fitur yang baru, Google+ memberikan nama tersendiri untuk setiap member yang memenuhi syarat.

Siapa yang akan bertahan, siapa yang akan tetap ada. Semuanya belum pasti, yang pasti bagi remaja mulai bosan dengan Facebook dan memilih layanan Messenger untuk bersosialisasi.

Mei 2017
Facebook menembus angka 2 miliar member. Yang kapok sudah pergi dari Facebook, tapi yang baru terus berdatangan.
Media sosial Facebook bukan media sosial biasa lagi. Sejak 2013 remaja tidak tertarik dengan Facebook. Sarana untuk grup, komunitas masih positif. Tapi Facebook menjadi sarana politik, rasis, berita hoax , kejahatan dan lainnya. Hal tidak penting sekarang banjir di Facebook.
Facebook telah memerangi semua hal negatif, kabarnya menyiapkan 3000 staf baru sebagai pemeriksa posting member Facebook yang berbahaya. Mengawasi 2 miliar anggota, seperti melakukan misi yang tidak mungkin dilakukan.

Facebook tidak menawarkan sebagai media sosial biasa seperti awal berdiri. Yang memberikan nilai tambah, sisi positif lainnya. Mereka yang masuk di Facebook akan terlena dengan sisi positif, tapi lihat juga berapa banyak hal tidak penting yang terjerumus ke sisi negatif. Facebook adalah media terbuka. Tapi lihat kasus pemilihan presiden di Amerika 2016, banyak cerita sampah bertebaran dan dapat dibuat oleh siapa saja.
Berita palsu mendominasi layanan Facebook, dari cerita palus dari Paus (pemimpin tertinggi Vatikan) yang mendukung Trump atau Clinton menjual persenjataan ke ISIS. Berapa banyak orang yang membaca berita tersebut dan "maaf" bingung apakah berita tersebut benar atau palsu.

Kembali sebagai fungsi media sosial. Berapa banyak teman anda untuk berbagi cerita. 10, 100 atau 300 orang. Atau 10.000, tapi berapa banyak yang peduli dengan anda. Bila seseorang adalah bintang dan publik figur boleh saja ngetop di media sosial. Tapi bila seseorang ingin nge-top di Facebook tanpa alasan, pertanyaan "mau ngapain".
Facebook tidak perlu dibuang, tapi kita yang harus mengingat. Facebook adalah media sosial, tujuan awal untuk mengumpulkan alumni sekolah. Sekarang, maaf sudah berubah jauh bahkan berbahaya bagi kehidupan bernegara. Siapa yang salah, tentu saja diri kita sendiri. Rangkuman Mashable, sudah waktunya menghilangkan Facebook dari hidup anda.