Mengapa Everet tetap menarik menjadi cerita.

Ada beberapa cerita unik dari gunung tertinggi di dunia ini.

Dari jadwal macet, ketinggian gunung yang hampir setara ketinggian pesawat komersil, bottleneck di daerah sangat berbahaya, kehabisan oksigen dari tabung yang dibawah pendaki dan lainnya.

Rute pendakian Everest sedikit dimodifikasi setelah kejadian kecelakaan terbesar yang menewaskan 16 sherpa dalam satu hari pada tahun 2014. Ketika guguran es jatuh dan menimbun ke 16 pemandu tersebut (sherpa).

Tragedi hari juga merupakan tragedi terbesar dalam satu kecelakaan "yang pernah terjadi dalam sejarah Everest". Dimana memakan korban paling banyak, 16 orang meninggal bersamaan.

Tahun 2015, rute ke puncak gunung Everest dirubah agak ke sisi kanan. Dimana jalur tersebut relatif lebih aman dan pendaki dapat terhindar bila tiba tiba terjadi longsoran salju.

Salju yang dimaksud bukan guguran batuan, tetapi salju selebar dinding gunung yang bisa runtuh mendadak dan terus turun menjadi longsor salju kebawah.



Dibawah ini cerita unik tentang Everest

Secara resmi ketinggian gunung Everest 29.029 feet (8.848) yang dicatat tahun 1954. Dari satelit menunjukan lebih tinggi 2 feet atau sekitar 2 meter lebih tinggi ditahun 1995. Tahun 2005 ditetapkan ketinggian  Everest sebenarnya memiliki ketinggian 8855,43 meter dengan tingkat akurasi kurang lebih 20cm dan menjadi catatan paling akurat saat ini.

Bila terjadi perbedaan hanya disebabkan permukaan salju diatas bebatuan di puncak gunung Everest



Ketinggian gunung Everest hampir sama tingginya dengan pesawat komersil yang terbang di ketinggian 31.000feet, sedangkan penerbangan mengunakan ketinggian 35 ribu feet



Di puncak tertinggi, masih ada kandungan oksigen untuk bernapas. Tapi oksigen diketinggian tersebut hanya sepertiga dari tingkat oksigen di garis pantai (titik ketinggian 0m).

Bukan karena kandungan udara disana tidak kaya oksigen, tapi tekanan udara yang lebih rendah membuat kandungan oksigen lebih tipis.

Satu ketinggian disebut Death Zone dimulai dari 8000 meter ke atas, merupakan ketinggian paling berbahaya bagi para pendaki.

Para pendaki gunung akan mengalami gangguan kesehatan, dimulainya penyakit ketinggian seperti tanda tanda mual, pusing, sampai hilangnya pemikiran logika dan halunisasi.

Di ketinggian tersebut paling sering terjadi kecelakaan. Banyak pendaki yang tergelincir karena tidak menyadari tali pengaman lupa dikaitkan. Kedinginan karena badai datang mendadak, serta kehabisan oksigen dan suhu tubuh dapat menurun drastis.

Kondisi oksigen yang rendah dapat mempengaruhi otak. Membuat tingkah pendaki dapat berperilaku tidak wajar dan membuat mereka tidak bisa berpikir jernih termasuk mengambil keputusan.

Pendaki senior dan para sherpa mengetahui kondisi tersebut, dan bahayanya bila ada pendaki yang mengalami kekurangan oksigen.

Mendaki ke Everest umumnya membawa 4 tabung oksigen serta dibantu oleh sherpa yang membawa tabung cadangan dan pemandu. Tapi isi oksigen yang dibawah tentu terbatas, rata rata tidak cukup untuk 24 jam. Bila terlalu lama melakukan perjalanan ke puncak dan oksigen habis sebelum kembali ke base 4, artinya satu langkah menuju kematian.
Pemandu profesional dan sherpa akan meminta pendaki turun bila tamu yang dibawah terlalu lambat untuk naik.

Salju disana membeku menjadi es keras dan licin. Tanpa tali pengaman, bila seorang pendaki tergelincir jatuh yang artinya pendaki akan tamat.

Mengapa. Ketika seseorang jatuh tepat di daerah death zone yang sangat dingin dimana es sudah membeku. Jangan berharap ada pegangan ketika terjatuh. Tubuh pendaki akan terus meluncur jatuh ke bawah. Jadi satu pijakan salah sementara melepas pengait di tali, jatuh tergelincir, artinya masuk dalam sejarah.

Perjalanan di sepanjang Death Zone ke arah puncak Everest hanya sepanjang 1,72km. Tetapi jarak yang sangat dekat tersebut, rata rata pendaki membutuhkan waktu 12 jam.

Mereka harus jalan perlahan karena paru paru dan jantung akan bekerja lebih keras menarik oksigen yang tipis. Jauh berbeda kondisinya ketika di daerah lebih rendah, kondisi tubuh di ketinggian 8000 meter membuat pendaki sangat lelah untuk berjalan beberapa meter saja.

Kandungan oksigen dari basecamp ke puncak gunung Everest.
  • Kadar oksigen dari basecamp dapat turun dengan tingkat 85-87% dari tingkat normal.
  • Di camp 2 kadar oksigen dapat turun lagi sampai 50%, separuh dari kondisi normal. Itu baru di camp 2, total di gunung Everest memiliki 4 camp yang berbeda ketinggian.
  • Mendekati puncak pendaki harus bernapas sampai 80-90x permenit dan kadar oksigen sudah anjlok sampai 35%.
  • Kebanyakan korban yang akan meninggal sudah terlihat selama perjalanan. Seperti terlihat terlalu kelelahan dan selalu tertinggal di posisi belakang. Setidaknya 150 orang hilang dan mereka tidak ditemukan serta tidak diketahui penyebabnya dengan jelas.
  • Tentang perbandingan tekanan, di dekat laut tekanan udara mencapai 14,69 psi dan di puncak Everest hanya 4,89 psi.

Vanessa OBrien menjadi wanita pertama yang mendaki puncak tertinggi di seluruh benua Amerika, dan wanita dari Inggris yang pertama mencapai puncak K2.

Dia menjelaskan apa yang disebut Death Zone atau zona kematian.

Ketinggian 8000 meter atadalah puncak troposfer paling atas, dan di ketinggian tersebut pesawat jet komersil berada.

Ketika anda mengunakan alat bantu oksigen, tidak seperti oksigen dirumah sakit. Hanya sejumlah oksigen kecil untuk mengimbangi tingkat tenaga, dana mencegah radang ringin ke tingkat ekstrem. Oksigen yang sangat tipis membuat otak kita tidak dapat bekerja dengan baik seperti kemampuan berpikir rasional bisa gagal, dan kondisi oksigen paling minim yang diambil oleh paru-paru. Untuk itulah tim pendaki yang berada di tingkat 8000 meter berusaha tidak melewati 24 jam untuk naik dan turun secepatnya. Karena disana seperti bom waktu.




Sejak tahun 1969, setiap pendakian tahunan ke puncak gunung Everest setidaknya ada satu orang yang meninggal. Kecuali pada tahun 1977 semua pendaki selamat
Tahun 1974 yang tidak ada orang mendaki kesana.

Sebelum teknologi pendakian modern, rasio gagal pulang di Everest awalnya memiliki resiko 1:1, sekarang lebih aman dengan 1:15. Atau satu pendaki diperkirakan meninggal dari 14 pendaki yang berhasil pulang. Angka kecelakaan di Everest tidak pasti, karena kondisi cuaca bisa bersahabat bagi pendakian maka semua pendaki dapat mencapai puncak..

Tragedi terakhir 18 April 2014, 16 sherpa yang berpengalaman di Everest meninggal karena tiba tiba terkena longsor salju yang runtuh dari tebing gunung. Membuat musim pendakian tahun itu total dihentikan. Kejadian ini bukan disebabkan cuaca, tetapi dari tumpukan es yang sudah waktunya runtuh.

Di tahun yang sama, dari rute utara relatif lebih berbahaya. Tapi di 25 Mei 2014 (satu bulan setelah kecelakaan terbesar di Everest), malah tercatat rekor baru dari  pendaki wanita termuda dari India berusia 13 tahun dan berhasil mencapai puncak Everest melalui jalur tersebut.

Bulan Mei 2016 setidaknya 4 pendaki ke Everest meninggal. 17 Mei seorang sherpa terjatuh ketika mencoba membuka jalan di puncak Everest, 19 Mei pendaki dari Belanda gagal kembali setelah mencapai puncak, 28 Mei seorang pendaki mengalami mountain sick di camp 4,  18 Mei satu pendaki meninggal dan 2 hilang.



Dalam cacatan sejarah gunung Everest. Angin disana pernah mencapai kecepatan 300km perjam lebih. Tragedi karena badai pernah terjadi di daerah menjelang puncak, tingkat kandungan oksigen dapat anjlok sangat ekstrem 15%. Bila badai datang dan tim pendaki tidak siap di base camp terakhir, kondisinya menjadi gawat.

Tunggu, ini bukan badai seperti angin puting beliung. Tapi disebut Blizzard atau badai sangat dingin dan mematikan. Seperti udara dari freezer besar dan dihembuskan dengan kecepatan angin sangat kuat, sementara pendaki harus bertahan melawan dingin di dalam tenda.



Satu yang unik di Mount Everest. Tidak dijelaskan data histori korban seperti apa, tapi bisa di akumulasi dari jumlah pendaki yang naik atau mencapai puncak.

Resiko terbesar pendaki bukan gagal mencapai puncak Everest, tapi gagal turun. Karena turun dari puncak gunung Everest memiliki resiko lebih berbahaya. Naik ke puncak dan berhasil dengan semangat, tapi turun menghadapi berbagai tantangan.

Dari masalah terlalu lama ketinggian 8000 meter dapat terjadi seperti kondisi cuaca yang bisa berubah kapan saja, lengah, kelelahan dan Frostbite (pembekuan di jari kaki dan tangan dan pendaki tidak menyadari bila jari mereka sudah mati menghitam), kekurangan peralatan karena salah perhitungan, kehabisan oksigen, terjatuh dan hal sederhana lainnya.

Mengapa turun menjadi sangat berbahaya. Kondisi kehabisan oksigen, terkena badai karena nekat untuk mencapai puncak, halunisasi, ambisi mencapai puncak tapi turun dalam kondisi kelelahan menjadi masalah bagi para pendaki sendiri. Karena mereka datang dengan biaya sangat besar sampai ratusan juta bahkan miliar, dan tidak mau mengalah mengadapi alam.



Diperkirakan masih ada 200 mayat korban lebih di gunung ini, dan sebagaian digunakan sebagai petunjuk jalan bagi para pendaki.



Manusia pertama yang mendaki ke Everest tanpa membawa tabung oksigen adalah Reinhold Messner. Dia yang mendaki seorang diri pada tahun 1980.

Tabung oksigen pertama kali dibawah oleh George Finch dan Geoffrey Bruce yang mulai mengunakan tabung oksigen dan naik di ketinggian 7.800m keatas.

Kecepatan pendakian 3x lebih cepat dibanding mereka yang tidak membawa oksigen. Tetapi pendakian dengan tabung oksigen awalnya masih kontroversi, karena dianggap tidak alami.

Sekarang berubah, dan tabung oksigen sudah menjadi standar keamanan pendakian gunung Everest. Seorang pendaki umumnya membawa 5-6 tabung oksigen yang harganya $500 perbotol dan hanya cukup untuk 5-6 jam.

Rekor pendaki tercepat menuju puncak di pegang 2 sherpa yang membutuhkan waktu naik hanya 10 jam yang dimulai dari Basecamp.



Satu pendaki asal Perancis Marco Siffred dan dari Austria Sefan Gatt turun dari gunung dengan snowboard pada tahun 2001



Pria paling tua yang berhasil menaklukan Everest berusia 80 tahun. Dari Jepang Yuichiro Miura pada tahun 2013, dia mendaki untuk memecahkan rekor lamanya setelah rekornya digeser oleh seorang Sherpa.



Pendaki gunung Everest pria termuda dan sampai ke puncak adalah Jordan Romero pada bulan Mei 2010 dalam usia 13 tahun. Mengeser rekor lama Ming Kipa dari Nepal yang berusia 15 tahun



Smartphone pertama dengan signal 3G di bawah oleh Kenton Cool. Dia mengunakan Samsung Galaxy S2 dengan koneksi 3G lalu nge-tweet di puncak Everest.



Google Maps sudah memasukan foto dari basecamp Mount Everest. Tapi hanya sampai di basecamp pendakian saja. 2 tim mengabadikan dari bawah dan berjalan sejauh 120km untuk mencapai basecamp Mount Everest. Mengambil beberapa foto sepanjang perjalanan untuk pemetaan Google Maps



Bear Grylls dari Inggris mendaki Everest, tapi pulangnya mengunakan parasut pada tahun 2007



Umumnya pendaki yang mencapai puncak Everest hanya bertahan beberapa menit untuk mengabadikan foto lalu kembali turun untuk menghindari bahaya udara dingin , perubahan cuaca mendadak dan menghemat oksigen.

Tapi rekor manusia paling lama berada di puncak tertinggi di Everest dipegang oleh Babu Chiri seorang sherpa pada tahun 1999. Dia mampu bertahan berada dipuncak Everest selama 21 jam.



Cerita menarik tentang Everest lain ada yang menikah disana.

Ada sepasang pendaki namanya Moni Mule Pati dan Pem Dorjee seorang Sherpa. Keduanya dari Nepal tapi  merahasiakan hubungannya dari teman teman pendaki. Keduanya tidak memberitahu ke pendaki yang dibantu mencapai Everest, sampai diatas mereka melakukan acara pernikahan.



Selanjutnya dengan kondisi cuaca di Everest tidak pernah diatas 0 derajat Celcius