Fenchel dan Janisch memberikan pelajaran membuat film dengan DSLR malam hari.

Membuat video malam membutuhkan setting pada camera.

Karena cahaya yang rendah (low light) akan meningkatkan ISO pada camera. Dampaknya gambar video terlihat seperti bintik pasir.

Jangan mengunakan setting Auto, gunakan setting manual. Test dengan merekam video, dan lihat hasilnya.



Tidak hanya camera DSLR, camcorder sekelas HD memiliki kelemahan dalam membuat gambar dengan cahaya rendah. DSLR lebih baik, karena lebih mudah diatur dengan kontrol manual. Mengatur aperture, ISO dan shutter speed yang benar maka gambar dapat dibuat lebih baik.

Beberapa tip untuk membuat video dari camera DSLR atau Smartphone
Pastikan anda membuat video dengan format berapa. Untuk malam hari, pencahayaan dengan lampu, di Indonesia mengunakan 50Hz. Termasuk TV mengunakan 25 fps. Angka tersebut terbagi dalam kelipatan 25. frame perdetik. Artinya sebaiknya mengunakan frame rate video dengan kecepatan 25 fps.

Bila bukan untuk broadcast, seperti Youtube, atau video pribadi. Untuk membuat video dengan 24 fps, saran setting terbaik mengunakan shutter speed 24+, misal1/50s
Tidak disarankan mengunakan setting auto, karena camera akan merubah ISO, Aperture dan Shutter speed terhadap gambar yang diambil secara otomatis.
Dampaknya terang gelap gambar pada video akan berubah ubah ketika posisi bergeser dari daerah gelap dan terang.

Kesalahan memilh Shutter speed akan memberikan efek fliker pada gambar. Tentukan apakah video dibuat untuk :
 25fps 1/50s+ atau
30fps dengan  1/30s +

Sebagai panduan Shutter Speed minimum di camera DSLR
  • Video 24fps, setting Shutter 25/s (karena tidak ada 24/s)
  • Video 25 fps, setting Shutter 25/s, 50/s dan lebih tinggi
  • Video 30 fps, setting shutter 30/s, 60/s dan lebih tinggi
Semakin tinggi shutter speed, video yang direkam akan menghilangkan blur. Misalnya video untuk 25 frame perdetik, gunakan minimum 1/25s shutter speed, dan naik ke 1/50s dan seterusnya.
Bila objek bergerak cepat, gunakan shutter lebih cepat seperti 100+. Shutter yang tepat dengan angka kelipatan frame video akan lebih baik, tapi alternatif adalah angka mendekati.
Beruntung bila objek tidak banyak bergerak, bisa mengunakan shutter lebih rendah.
Anda bisa mencoba dengan mengambil video dengan kecepatan perbedaan shutter 1/30s dan 1/500s, lalu ambil gambar tangan anda di depan camera dan digerakan dengan cepat. Lihat perbedaan kedua setting tersebut.

Dengan setting auto, warm control otomatis mengatur sendiri. Film akan tampil dengan banyak warna kuning atau agak biru. Setting manual pada camera, dan coba test dan lihat hasil video sebelum merekam semua adengan.

Merekam video dengan shutter pada siang hari.
Bila kita ingin merekam video di siang hari, dengan objek bergerak. Misalnya gerakan ayunan anak anak, orang yang berlari atau mobil yang melintas
Ketika kita melakukan setting camera untuk foto, akan tampil kecepatan shutter terhadap metering di camera.
Bila Shutter menunjukan 1/500s, kita boleh mengunakan setting tersebut untuk video 25 fps.

Bagaimana bila kita melakukan setting shutter ke 1/25s . Apa yang terjadi dari hasil rekaman video dengan DSLR.
Bila objek bergerak cepat, maka gambar objek di video akan tampak blur. Karena sensor akan mengambil dengan kecepatan shutter lambat.
Bila setting camera dengan kecepatan shutter 1/500s, maka gambar lebih halus terlihat. Setting kelipatan dapat digunakan bila pencahayaan cukup seperti kondisi siang.

Setting Auto Focus
Auto fokus membuat masalah lain, gambar terlihat bergerak maju mundur memfokus. Disarankan mengunakan setting manual untuk fokus dengan video DSLR. Kecuali camera dengan auto fokus yang cepat, beberapa teknologi auto fokus pada model camera untuk video dengan DSLR sudah dikeluarkan tahun 2013 lalu.

Saran menarik, gunakan saja lensa fix dan bisa diatur manual. Keuntungan cahaya lebih besar dengan aperture dibawah f2.0, seperti F/1.2 -f/2.8. Dibanding lensa kit dengan maksimum f.3.5-5.6 akan memberi gambar lebih gelap. Gambar akan terlihat bokeh tapi sangat tajam pada objek utama.

Lensa yang baik untuk video
Lensa dengan aperture yang membuka lensa lebih besar relatif mahal. Tapi lensa dengan aperture sedikit lebih kecil dengan kemampuan hampir sama, rata rata hanya di kisaran 100 dollar untuk ukuran 50mm f1.8 atau 35mm f1.8 bila mengambil gambar pada malam hari. Mau bagus, pasang dengan lensa Prime Cinema, tapi harganya akan wiiih.

Apakah lensa fix harus dibuka seluruhya sampai di setting F/1.2. Tidak juga, dengan lensa membuat terlalu besar maka gambar dibelakangnya sangat kabur (efek deep of field). Tetap gunakan setting di F/2.0-2.8 sudah cukup, sedangkan ukuran f di siang hari tidak banyak berpengaruh dengan gambar. Jadi bisa mengunakan lensa kit 18 - 55mm

Pada satu bagian video diceritakan membuat video dari DSLR sudah cukup dengan ISO 640 dan F/2.0 (menit 3:30). Saran lain Flat Picture, serta lebih baik kurang cahaya pada gambar video karena masih bisa diperbaiki dengan software editing. Bila dimungkinkan, setting dengan ISO rendah untuk menghindari noise.



Membuat film dengan camera DSLR dengan setting suara
Pada menu camera terdapat sistem volume yang direkam oleh camera. Setting ini dapat membantu mengurangi suara bising yang masuk karena sensitif microphone camera. Pengaturan tergantung fitur camera itu sendiri. Paling baik adalah mengunakan microphone ekternal, agar suara yang masuk hanya pada objek foto terdekat.
Tetapi micrphone untuk video camera DSLR tidak murah, walau menjamin kualitas suara lebih baik.
Tip lain mengunakan  sistem dubbing, dimana menyediakan alat recording dan microphone dipasangkan langsung ke nara sumber. Dan proses editing video akan dimasukan dengan file audio dari alat recording

Selanjutnya Setting pencahayaan di camera