Kompor listrik atau kompor gas yang aman sudah biasa digunakan di rumah. Tapi sulit ditemukan di beberapa negara lain atau di daerah terpencil. Banyak peneliti, ilmuwan dan kelas insinyur teknik merancang kompor untuk negara berkembang. Nyatanya belum ada yang dibuat langsung dari sana.

Satu tim anak muda membuat kompor ciptaan mereka dengan nama Burn. Kompor berkualitas, komponen dari metal, bahkan pemasangan mengunakan las listrik. Sebenarnya bukan kompor, lebih tepat disebut tungku karena mengunakan sisa sampah untuk pembakaran.

Di Afrika terdapat 2 milyar penduduk, sebagian besar dari mereka memasak dari sampah disekitar rumah. Sisa kayu, plastik, kertas dan sedikit minyak dijadikan bahan bakar tungku tradisional. Bila tidak ada sampah yang mencukupi, maka pohon akan ditebang. Pemakaian tungku tradisional dapat merusak lingkungan, serta kerugian kesehatan. Mereka memasak di dalam rumah, tapi pembakaran dari tunggu tidak efisien dan asapnya menyebar kedalam rumah. Jumlah penduduk yang meninggal karena asap lebih besar dari penyakit malaria.

Tim yang membuat kompor Burn mulai memproduksi kompor efisien tersebut di Kenya. Merancang sebuah kompor selama 10 ribu jam, dan di uji tingkat efisiennya. Jadilah kompor tanpa asap. Bahan bakar kompor yang dipakai untuk pembakaran lebih sedikit dibanding tungku tradisional, dan air mendidih lebih cepat. Walau tetap ada dampak emisi dari kompor Burn, tetapi dapat ditekan sampai separuh dari tungku tradisional.

Untuk membuat kompor Burn, mereka mendapat dana 3 juta dollar dari investasi OPIC -  lembaga keuangan pemerintah Amerika. Dan dana tambahan 1 juta dollar dari perusahaan GE. Dan dana tersebut dibawa ke Afrika untuk mempekerjakan 200 orang di Nairobi dana biaya produksi kompor Burn.

Sekarang kompor Burn siap dibagikan ke seluruh masyarakat di Afrika Timur. Dan targetnya akan dibuat 3 juta kompor di Afrika. Tahun depan akan mulai di produksi di Uganda, lalu Tanzania dan Rwanda tahun 2015.

Dibawah ini cerita perjalanan kompor Burn

BurnJikokoa from Burn Manufacturing on Vimeo.