Bila tersesat di sebuah kota, tinggal bertanya kepada orang disekitar.

Bila tersesat di hutan, bisa mengunakan teknologi navigasi GPS.

Bagaimana bila di ruang angkasa. Bagaimana mengukur dan mengetahui posisi sebuah satelit ruang angkasa, seperti satelit Voyager yang berjalan terus menjauhi bumi.

Bahkan bisa mengambil foto beberapa planet dengan tepat. Apakah pesawat tanpa awak harus dilepas begitu saja

Sistem navigasi satelit bagi pesawat ruang angkasa tidak berbeda dengan peralatan navigasi di bumi.

Pesawat ruang angkasa  tidak mengunakan satelit GPS seperti di Bumi. Tapi mengunakan sinyal dari posisi Pulsar.

Sebuah bintang neutron yang berputar dan memberikan radiasi sinar dan gelombang cahaya. Sama seperti kapal jaman dulu yang melihat sebuah mercusuar, yang diambil adalah cahayanya.

Nakoda hanya melihat arah arah cahaya dari mercusuar. Demikian juga perjalanan cahaya yang tertangkap yang dihitung oleh satelit.

Sumber denyut dari sinyal bintang pulsar itulah yang dijadikan panduang pesawat ruang angkasa. Karena putaran bintang pulsar berbeda beda menghasilkan frekuensi, dan sinyal yang dikirim ke seluruh penjuru dapat tertangkap pesawat ruang angkasa. Bintang pulsar seperti satelit alami.





Satelit mengunakan beberapa pulsar untuk menentukan arah. Beberapa pulsar dikenal memiliki putaran konstan dalam hitungan milidetik bahkan lebih akurat dari jam atom. Signal yang ditangkap dari pulsar ini seperti menangkap signal GPS.

Pulsar menjadi satelit alami atau konstelasi pulsar di alam semesta (sama seperti susunan jumlah satelit GPS tapi berada di ruang angkasa). Signal yang diterima dari tiga atau lebih signal pulsar akan ditangkap oleh antena, dan diolah untuk memastikan jaraknya ke bumi dan menentukan keberadaan satelit.

Dibutuhkan 3 pulsar atau lebih untuk memperkirakan dan membandingkan waktu kedatangan signal mereka. Peneliti Jerman mengatakan, manusia bisa melokasi dengan tepat sebuah pesawat ruang angkasa dalam hitungan 5 km.

Kendala pesawat ruang angkasa adalah menangkap lemahnya signal pulsar, karena berada jauh dan signal yang ditangkap adalah gelombang panjang serta kekuatan signalnya lemah. Perlu antena sangat sensitif dan sangat mahal. Satu satelit setidaknya membutuhkan antena dengan diameter 1 meter.

Hal ini dikemukakan oleh Institusi Max Planck , bagaimana pesawat ruang angkasa bisa terbang dengan arah yang benar. Teknologi navigasi di pesawat ruang angkasa tidak mengunakan GPS seperti di bumi. Tetapi menangkap signal alami dari benda di ruang angkasa lain.

Januari 2018
Nasa mengumumkan teknologi baru yang disebut Sextant atau Station Explorer for X-ray Timing and Navigation Technology

Teknologi baru tersebut menjadi terobosan untuk menjelajah ruang angkasa lebih jauh, dimana sinyal ditangkap dari radiasi gelombang X-ray.
Sumbernya sama, berasal dari bintang neutron atau pulsa.
Bintang pulsar yang berputar sangat cepat memberikan radiasi elektromagnetik.

Peneliti nasa melakukan uji coba dengan analisa gambar mengunakan instrumen NICER yang ada di stasiun ISS>
Mereka mengamati 4 bintang pulsar J0218 + 4232, B1821-24, J0030 + 0451, dan J0437-4715.

Karena putaran ke empat bintang tersebut begitu tepat maka dapa diprediksi secara akurat dalam beberapa tahun.
Selama 2 hari perangkat NICER mengukur 78 pengukuran bintang pulsar dan dimasukan datanya ke unit SEXTANT dan menghitung posisi pesawat ruang angkasa ISS.

Sejauh ini percobaan SEXTAN terlihat berhasil, tapi pengujian akan dilakukan untuk sistem mandiri. Perlu beberapa tahun lagi agar teknologi navigasi baru dapat digunakan, dan sejauh ini konsep yang dibuat sudah bekerja.

Percobaan selanjutnya akan dilakukan pertengahan tahun 2018. Nantinya unit akan diperkecil termasuk pemakaian powre.

SEXTANT nantinya dapat digunakan untuk menghitung lokasi sebuah satelit pada planet yang jauh dari jangkauan GPS di Bumi. Dan membantu misi antariksa manusia seperti misi ke planet Mars.