Teknologi wireless charger smartphone akan masalah tapi Xiaomi 50W lebih efisien


Green | 20 August 2020


Xiaomi Wireless Charging 50W

Xiaomi berbeda, merancang sistem wireles charger dengan tingkat efisien tinggi.
Konversi dari coil magnet ke baterai untuk mengirim daya DC ke DC melalui konverter, termasuk menurunkan dan meningkatkan voltase.

Generator yang terhubung ke baterai memiliki konduksi berbahan granit yang efisien, mampu meminimalkan hilangnya energi.
Pada baterai memiliki pengisian terpisah dengan 2 koneksi 2250mAh
Xiaomi mengunakan 5 lapis kumparan yang membantu memusatkan efek medan magnit dan menekan hilangnya energi dengan wireless charging.
Model smartphone dengan dukungan 50W wireless charger adalah Xiaomi Mi 10 Ultra.

Wireless Charger Xiaomi 50W efisiensi

Wireless charging bila tidak efisien.

Memang sangat sukar mengatur teknologi dengan kebutuhan. Ketika Uni Eropa meminta produsen membuat adaptor charger seragam, agar semua smartphone dapat mengunakan semua adaptor charger.

Membutuhkan waktu sangat lama, terlebih teknologi terus berubah.
Padahal negara di Eropa ingin menurunkan tingkat sampah dari adaptor charger yang tidak terpakai. Sehingga bisa digunakan untuk semua smartphone.
Nyatanya tetap saja produsen berlomba membuat adaptor charger berbeda beda, termasuk teknologi Quick Charge, Vooc, DastCharge dan lainnya.

Satu lagi teknologi relatif baru adalah wireless adaptor charger.
Produsen smartphone membuat kemudahan dengan pengisian baterai dengan wireless charger.

Induksi magnet mengirim energi ke smartphone dan dirubah menjadi power DC. Pada bagian belakang smartphone ditambahkan lempeng untuk menerima energi magnet.


Membuat menarik penguna, sekaligus tidak merusak port akibat kabel adaptor yang dilepas pasang pada port USB smartphone.

Tetapi apakah teknologi wireless charger lebih baik dari pengisian baterai dengan kabel.

Pengisian baterai dengan wireless charger membutuhkan power 40% lebih besar dari pengisian baterai dengan kabel. Teknologi wireless charger sementara berada di angka trsebut, bahkan pada kondisi tertentu lebih besar.

Masing masing adaptor wireless charger juga berbeda. Ada yang dibuat dengan magnet melingkar, atau kotak. Hal ini mempengaruhi posisi smartphone sementara pengisian dengan wireless charger.

Masalah lain, ketika smartphone tidak di posisi tepat. Atau tidak sejajar dengan arah magnet, maka pengisian baterai menjadi lebih rendah.
Sementara adaptor wireless charger tetap mengkonsumsi power yang sama.

Sebuah adaptor wireless charger rata rata membutuhkan power 21Wh listrik
Sedangkan adaptor charger biasa dengan kabel membutuhkan power 14Wh

Wireless Charger consumption power

Kebutuhan energi listrik tersebut dimulai kapasitas baterai  0 sampai penuh 100%.
Selisih pemakaian listrik sekitar 6-7 Watt perjam antara wireless dan kabel charger.
Atau setara pemborosan dengan energi lampu LED 6W yang dinyalakan selama 1 jam.

Angka tersebut sangat kecil, tapi bayangkan bila generasi smartphone ke depan mengunakan teknologi pengisian baterai wireless charger seperti teknologi saat ini
Total 3,5 miliar smartphone akan memboroskan energi akibat pemakaian wireless charger
Dengan hilangnya energi 50% dibanding pengisian dengan kabel ?, itupun bila penguna menempatkan smartphone dengan tepat diposisi adaptor wireless charger.
Setara energi yang dihasilkan 73 pembangkit listrik batubara yang setiap hari membuang asap, ketika seluruh smartphone mengisi baterai setiap hari dari 0 sampai 100% full charge.

Teknologi wireless charger belum sempurna.

Terlebih posisi smartphone yang tidak tepat ditempatkan diatas wireless charger, misalnya posisi miring.
Maka akan membutuhkan waktu lebih lama mengisi, walau adaptor wireless charger tetap mengkonsumsi energi listrik yang sama.

Walau smartphone sudah ditempatkan pada posisi yang tepat, tetap saja wireless charger membutuhkan power 50% lebih besar dibanding sistem kabel. Jadi tidak efisien, tidak lebih baik dibanding pengisian adaptor kabel.

Teknologi wireless charger memang menarik. Ketika orang tidak lagi repot membawa kabel. Cukup menempatkan smartphone di tempat dudukan wireless charger kapan saja.


Atau berada di restoran, ruang tamu kantor yang ditempatkan wireless charger diatas meja. Dan mereka dapat meletakan smartphone untuk pengisian baterai, sementara berdiskusi di ruang rapat, ruang kerja atau sekedar ngobrol di restoran yang menyediakan wireless charger.

Sisi negatif lain, wireless charger tetap mengkonsumsi listrik walau tidak digunakan, atau diletakan tanpa digunakan. Angka pemakaian memang sangat kecil, tetap saja menjadi perangkat vampire yang menggunakan listrik secara diam diam.

Teknologi wireless charger belum sempurna
Bila produsen smartphone belum mampu meningkatkan efisiensi dan disain yang tepat untuk pengisian baterai smartphone.
Disisi lain semua orang berlombat untuk sehat, mengunakan energi kendaraan listrik, tapi di sisi berbeda ada produk yang tidak efisien tanpa memperhatikan dampak terhadap lingkungan.

Berita terkait
Bila suatu hari memiliki kendaraan mobil listrik, jangan khawatir dengan baterai. Data yang diambil dari kapasitas baterai mobil listrik 4 tahun lalu, masih mencapai 88%. Bahkan produsen membuat kapasitas baterai tidak sampai 100% penuh, untuk menjaga kondisi baterai tetap baik dan umur panjang. Apa yang menarik dari data kendaraan listrik.

Dalam industri permainan ada yang disebut ergonomis. Disain peralatan agar penguna dapat nyaman dan lebih aman ketika melakukan aktivitas lama. Hal ini sering diabaikan oleh penguna peralatan computer sampai konsol. Dampaknya tidak hari ini tapi di masa mendatang.



Charger smartphone awalnya ingin disatukan untuk produk di Eropa. Setelah 8 tahun berlalu, dan adanya nota kesepakatan. Produsen smartphon tetap mengunakan charger adaptor dengan disain sendiri. Masalah di Eropa, setiap tahun menghasilkan 51 ribu ton sampah charger.

Ketika manusia menjadi tua, mereka menjadi lebih mudah jatuh. Penyebabnya otot kaki menjadi ciut. Misteri ini terungkap, dan dapat dipertahankan dengan teknik alami. Dan koneksi cabang otot dapat terhubung ke saraf kembali.

Bagaimana menanam sayuran di rumah. Tidak perlu bibit untuk daun bawang, bawang, selada, kentang, jahe, daun sawi. Karena sayuran ini dapat tumbuh dari tubuhnya sendiri. Cabai merah besar, dapat tumbuh dalam 3 bulan saja. Bagaimana cara menanam sayuran tersebut.




No popular articles found.
< /body>